Home / Tips dan Trick / 6 Cara Berbincang Tentang Maskulinitas Positif Dengan Putra Anda!

6 Cara Berbincang Tentang Maskulinitas Positif Dengan Putra Anda!

Cukup umum bagi kita untuk mengkhawatirkan perempuan, terutama putri kita sendiri, yang terjebak dalam pengkotak-kotakkan gender dan didorong untuk terlibat dalam perilaku yang menyakiti mereka, hanya karena mereka perempuan.

Berbeda dengan saat kita mengkhawatirkan laki-laki, terutama putra kita sendiri, dalam pengkotak-kotakkan gender dan mengajari mereka untuk menyakiti, hanya karena mereka laki-laki.

Tapi itulah kenyataannya. Anak laki-laki berusia empat tahun ditegur agar “jadi laki-laki sejati!”, biasanya sebagai respon saat mereka menangis atau menunjukkan rasa takut.

Dan saat mereka tumbuh dewasa, mereka dibombardir dengan pesan-pesan bahwa untuk menjadi “jantan”, mereka harus:

  • Jadi besar dan kuat
  • Secara fisik bersikap agresif dan siap berkelahi
  • Tidak menunjukkan emosi – terutama takut atau sakit, kecuali amarah
  • Merasa berhak memperlakukan perempuan seperti objek atau memaksa perempuan agar mau menuruti keinginan seksualnya, tak peduli perempuan itu mau atau tidak

Anda cukup melihat dari sejarah ribuan tahun peperangan dimana banyak terjadi penjarahan, perampokan, dan pemerkosaan untuk melihat darimana gambaran dominan maskulinitas berasal.

Tidak perlu lagi mengira-ngira bagaimana sejarah telah mengarahkan masyarakat dan media untuk menggembar-gemborkan citra maskulinitas yang cenderung terobsesi lewat perkelahian dan seks.

Dan kemudian beberapa lelaki mewujudkan citra tersebut dengan merasa berhak melakukan kekerasan dan mendominasi orang lain, terutama perempuan.

Namun kita jarang mendengar tentang bagaimana kekerasan laki-laki ini berkaitan dengan  gagasan tradisional maskulinitas.
Dan, sementara itu, hanya karena sebagian besar tindak kekerasan dilakukan oleh laki-laki, TIDAK berarti semua lelaki lantas adalah pelaku kekerasan.

Banyak lelaki yang memiliki sifat penyayang, bertanggung jawab, dan tidak suka kekerasan. Sayangnya, hanya karena mereka tidak suka menggunakan kekerasan sebagai bentuk ekspresi perasaan mereka atau untuk menguasai orang lain, banyak yang tidak merasa nyaman menunjukkan sisi lain dari diri mereka karena takut disebut “gay”, “kayak cewek”, “lembek”, atau “emosional” .

Karena itulah kita harus mulai mengubah paradigma seputar maskulinitas. Kita perlu definisi maskulinitas selain yang sudah terlanjur dikotak-kotakkan, untuk menunjukkan bahwa ada beragam maskulinitas.

Tidak hanya untuk mengurangi tingkat kekerasan laki-laki tetapi juga mendukung lelaki dalam menerima semua sisi manusiawi mereka dan mampu mengekspresikannya secara utuh – tanpa harus dipermalukan.

Salah satu organisasi berjuang untuk melakukan hal itu adalah Men Can Stop Rape. Melalui Men of Strength Club (MOST Club), mereka telah merintis program pencegahan kekerasan yang memberikan para pemuda di sekolah menengah, sekolah tinggi, dan perguruan tinggi program terstruktur yang mendukung pembangunan definisi individual maskulinitas untuk mempromosikan hubungan antar-gender yang lebih sehat.

Berdasarkan program mereka yang sangat efektif, berikut adalah beberapa ide tentang bagaimana untuk berbicara dengan anak Anda dan orang lain dalam hidup Anda tentang arti maskulinitas bagi mereka dan hubungannya dengan kehidupan mereka dan kekerasan.

1. Datangi Tempat Mereka Biasa Mangkal

Banyak lelaki mungkin tidak berpikir kritis tentang bagaimana masyarakat menggambarkan maskulinitas. Mungkin mereka sudah menganggapnya biasa – bagian normal dari menjadi seorang lelaki.

Jadi, mungkin mereka tidak sadar kenapa ini perlu dibahas. Pada saat yang sama, banyak pria yang diam-diam mungkin tidak merasa nyaman dengan bagaimana gambaran tentang diri mereka diwakilkan lewat media berupa sosok kekar, jago berkelahi, dan senang main perempuan – yang sebenarnya tidak sesuai dengan yang sebenarnya mereka rasakan.

Sangat penting untuk tidak main berasumsi mengenai kepercayaan mereka, menganggap mereka salah, atau seketika mencoba mengubah mereka. Intinya adalah tidak lagi-lagi memberikan pemahaman sempit bagi mereka, tetapi untuk memperluas pilihan yang mereka miliki dan mendukung mereka dalam mengeksplorasi makna maskulinitas yang sejalan dengan nilai-nilai yang dianut oleh mereka.

2. Membantu Mereka Untuk Mengidentifikasi Sosok Lelaki Panutan yang Mereka Tahu

Sementara media memuja-muja sosok lelaki yang penuh kekerasan, dalam kehidupan nyata, mereka biasanya bukan sosok yang kita kagumi. Pria yang bertanggung jawab, empati, peduli, dan memberikan kontribusi kepada masyarakat biasanya yang lebih dikagumi.

Tanyakan kepada mereka bagaimana para lelaki ini menunjukkan kekuatan dalam hubungan mereka dan bagaimana mereka memperlakukan orang lain. Membantu mereka untuk melihat bagaimana lelaki yang mereka hormati tidak sesuai gagasan tradisional ini memperluas pemahaman mereka tentang maskulinitas dan memberi mereka lebih banyak pilihan.

Bagi banyak orang, ini mungkin pertama kalinya mereka telah mempertimbangkan secara sadar mengenai sosok lelaki kuat dan baik yang tidak cocok dengan gambaran sebelumnya.

3. Diskusikan Bagaimana Media Menampilkan Sosok Lelaki Ideal

Media ini penuh dengan penggambaran karakter fiktif laki-laki yang dihargai karena memenangi peperangan dan mendapatkan si gadis di akhir cerita.

Tanyakan pada mereka bagaimana ini mempengaruhi ide mengenai bagaimana seorang lelaki harus bertindak dan membandingkannya dengan bagaimana lelaki yang mereka hormati bertindak. Sering kali lelaki tidak benar-benar membandingkan dua hal tersebut dan cenderung masih terpaku pada gagasan tradisional hingga tidak melihat bahwa masih banyak cara lain untuk menjadi sosok lelaki sejati.

4. Diskusikan Bagaimana Maskulinitas Tradisional Tampak Dalam Perilaku Mereka Sendiri

Sementara banyak pria yang tidak suka kekerasan, maskulinitas tradisional mendorong perilaku lain yang normal dalam masyarakat kita, seperti pelecehan di  jalanan, perasaan berhak melakukan kekerasan seksual, mengintimidasi orang yang lebih kecil secara fisik, dan lain-lain.

Jadi penting bagi mereka untuk dapat menghubungkan antara tindak kekerasan lainnya dan perilaku yang lebih diterima secara sosial yang berasal dari dominasi laki-laki. Semakin sadar mereka tentang perilaku mereka sendiri, semakin mereka dapat memilih apakah mereka ingin terus melakukannya atau tidak.

5. Diskusikan Peran Maskulinitas Tradisional dalam Kekerasan, Terutama Terhadap Perempuan

Karena mereka telah disosialisasikan untuk berpikir bahwa maskulinitas tradisional sangat ideal, mereka akan membutuhkan waktu lama untuk menghubungkannya dengan sesuatu yang tidak mereka setujui, seperti kekerasan. Jadi, amati lagi dari awal dan diskusikan pada mereka mengenai apa yang membuat seorang lelaki merasa nyaman melakukan kekerasan.

Sementara maskulinitas tradisional tidak harus selalu mengarah pada kekerasan, sayangnya hal itu mendukung dominasi laki-laki atas orang lain. Dan ini menciptakan budaya permisif di mana “ah, biasa – mereka akan selalu punya sifat bocah” (boys will be boys), “maklum, dia kadang sulit mengendalikan diri”, dan “cewek itu juga sih, yang ‘minta’”.

6 Diskusikan Bagaimana Lelaki yang Tidak Kasar Bisa Berperan Besar Mengakhiri Kekerasan

Banyak lelaki yang masih berpikir bahwa selama mereka tidak ikut melakukan kekerasan, rasanya sudah cukup. Tapi itu baru peran dasar, bukan secara keseluruhan dalam usaha mengakhiri kekerasan. Berbagi statistik tentang kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan seksual dengan mereka dapat membantu mereka melihat bahwa mereka mungkin mengenal beberapa lelaki dan perempuan yang pernah disiksa namun mereka tidak pernah mengetahuinya.

Tunjukkan pada mereka beragam cara mereka dapat terlibat – apakah itu belajar lebih banyak tentang masalah ini, menjadi relawan di organisasi nirlaba, atau mendiskusikannya dengan rekan laki-laki dan perempuan – mereka dapat melakukan sesuatu untuk menghentikan kekerasan.

Diskusi ini tidak mudah. Bahkan, bisa jadi Anda malah berakhir marah-marah dan menghakimi.

Jadi ingat, Anda menantang konsep apa itu “lelaki sejati” yang sudah beredar bertahun-tahun di tengah-tengah masyarakat dan melalui media. Konsep-konsep ini berjalan mendalam pada tingkat bawah sadar dan dengan mulai mendiskusikannya dalam percakapan sehari-hari, mereka sudah mengambil satu langkah besar.

Dan yang lebih penting, ingat bahwa bukan peran Anda untuk memberitahu mereka bahwa mereka salah dan memaksa mereka untuk setuju dengan konsep “maskulinitas” yang Anda setujui. Itu sama saja dengan Anda berusaha mendominasi mereka, seperti cara yang selama ini berusaha Anda hilangkan!

Tapi tetaplah menantang ide-ide mereka sembari membantu mereka berpikir sendiri secara kritis mengenai ingin menjadi laki-laki seperti apa mereka. Tujuan Anda adalah untuk membantu mereka melihat pilihan lain sehingga mereka dapat secara sadar membuat keputusan mereka sendiri.

Pernahkah Anda berpikir mengenai arti maskulinitas bagi Anda dan dampaknya pada perilaku Anda? Silakan beri komentar di bawah ini!

Sumber: Everyday Feminism

This post is also available in: English

About Ruby Astari

Penulis, penerjemah, dan pengajar bahasa Inggris. Saat ini menjadi kontributor untuk ALB

Check Also

Panduan Membesarkan Anak Feminis oleh Chimamanda Ngozi Adichie

Saat ini, perempuan masih dianggap sebagai subhuman –sebuah realita yang dapat dilihat dalam berbagai faset, …

2 comments

  1. Bagaimana kalau kita mengajar ke anak laki-laki kita “tidak maskulin tidak masalah” atau “tidak apa tidak menjadi laki-laki” ? Karena tidak ada salahnya menjadi perempuan atau feminin kan?

Tinggalkan Balasan ke Prili Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *