<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Aliansi Laki-laki Baru</title>
	<atom:link href="http://lakilakibaru.or.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lakilakibaru.or.id</link>
	<description>Gerakan Laki-laki untuk Keadilan Gender</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 May 2013 17:32:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5</generator>
		<item>
		<title>Laki-laki Sebagai Aliansi Keadilan Gender: Mengenang Veven SP Wardana</title>
		<link>http://lakilakibaru.or.id/2013/05/laki-laki-sebagai-aliansi-keadilan-gender-mengenang-veven-sp-wardana/</link>
		<comments>http://lakilakibaru.or.id/2013/05/laki-laki-sebagai-aliansi-keadilan-gender-mengenang-veven-sp-wardana/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 May 2013 17:24:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[Gender Equality]]></category>
		<category><![CDATA[Gerakan laki-laki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakilakibaru.or.id/?p=935</guid>
		<description><![CDATA[“Karena peminggiran kelas sosial-perempuan itu adalah kesalahan sejarah bersama, maka pemerdekaan atasnya merupakan persoalan semesta” (Veven Wardana). Jumat, 17 Mei 2013, saya mendapatkan kabar yang cukup mengagetkan, Veven Wardana tutup usia. Meskipun beberapa waktu sebelumnya saya mendapatkan kabar tentang sakitnya, tak urung kabar berpulangnya Veven Wardana tetap saja membuat saya kaget. Berita itu mengingatkan pertemuan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/uploads/2013/05/veven.jpg" width="240" />
		</p><blockquote><p>“Karena peminggiran kelas sosial-perempuan itu adalah kesalahan sejarah bersama, maka pemerdekaan atasnya merupakan persoalan semesta” (Veven Wardana).</p></blockquote>
<p>Jumat, 17 Mei 2013, saya mendapatkan kabar yang cukup mengagetkan, Veven Wardana tutup usia. Meskipun beberapa waktu sebelumnya saya mendapatkan kabar tentang sakitnya, tak urung kabar berpulangnya Veven Wardana tetap saja membuat saya kaget. Berita itu mengingatkan pertemuan saya dengan Veven (begitu dia dipanggil) yang tidak begitu inten beberapa tahun lalu di Yogyakarta ketika Veven melakukan sebuah kajian tentang hukum perkawinan di Indonesia. Setelah pertemuan itu, sayapun menjadi mengenal Beliau lewat statusnya di sosial media, saat diwawancarai televisi dan media lainnya termasuk tulisannya di penghujung tahun 2000 dalam kompilasi buku Feminis Laki-Laki: Solusi atau persoalan? Yang disunting Nur Iman Subono dan diterbitkan oleh Jurnal Perempuan. Buku itu menjadi pionir kazanah tentang laki-laki dalam feminism sekaligus menjadi pijakan ideologis gerakan laki-laki pro feminis di Indonesia saat ini.</p>
<p><a href="http://lakilakibaru.or.id/2013/05/laki-laki-sebagai-aliansi-keadilan-gender-mengenang-veven-sp-wardana/veven/" rel="attachment wp-att-936"><img class="alignright size-full wp-image-936" alt="veven" src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/uploads/2013/05/veven.jpg" width="300" height="224" /></a>Penggalan kalimat diawal saya kutip dari tulisan Veven Wardana dalam kompilasi buku tersebut dengan judul tulisan “Puanografi dan Media: Yang Bukan Perempuan (Tak) Ambil Bagian”(Wardana, 2010). Kutipan tersebut tepat diujung tulisan dan saya mengutipnya dengan maksud menjadikanya sebagai dasar pijakan tulisan ini sekaligus untuk mengenangnya sebagai salah satu pionir dalam gerakan laki-laki pro feminis di Indonesia.</p>
<p>Kutipan tersebut saya ambil dengan alasan sangat relevan dengan wacana laki-laki dalam feminism yang hingga kini para scholars yang memiliki minat pada kajian ini sedang membangun landasan theory  untuk dapat menjelaskan posisi laki-laki dalam konteks gerakan untuk kesetaraan dan keadilan gender.</p>
<p>***</p>
<p>Kalimat Veven tersebut di atas menyiratkan ajakan untuk keluar dari semata-mata analisis gender dalam melihat persoalan ketidak adilan yang dialami perempuan dan melihatnya sebagai persoalan yang terkait dengan ketidakadilan sosial lainnya. Kelas di antaranya yang secara gamblang dia sebutkan. Dengan meletakkan persoalan ketikdakadilan gender berkelit dan berkelindan dengan persoalan ketidakadilan sosial lainnya memungkinkan untuk melihat dimensi struktural dari persoalan keterpurukan perempuan karenanya persoalan penderitaan perempuan bukan semata-semata persoalan personal tapi struktural sekaligus.</p>
<p>Kerangka analisis interseksionalitas dalam melihat ketidakadilan yang dialami perempuan memungkinkan pertemuan perempuan sebagai kelompok tertindas dengan kelompok tertindas lainnya seperti trans gender, lesbian, gay, buruh, difabel, anak dan minoritas lainya. Dengan begitu menjadikan gerakan perempuan sebagai gerakan yang inklusif (terbuka) bergandengtangan dengan gerakan keadilan sosial lainnya. Selain itu, analisis interseksionalitas juga membuat gamblang bahwa laki-laki dalam posisi tertentu dalam hirarkhi sosial juga mengalami ketertindasan dari laki-laki lain. Dengan membuka peluang keterkaitan ketidakadilan yang dialami perempuan dan ketidakadilan yang dialami laki-laki karena determinan sosial lainnya (kelas, seksualitas,usia, dan difabilitas) akan memberikan argumentasi yang kuat bahwa laki-laki sudah sepatutnya terlibat memperjuangkan keadilan untuk perempuan karena memperjuangkan keadilan untuk perempuan menjadi bagian dari perjuang untuk keadilan mereka sendiri.</p>
<p>Oleh karenanya, menjadi cukup beralasan senyalemen Veven bahwa perjuangan untuk keadilan perempuan bukan semata menjadi kepentingan perempuan akan tetapi menjadi kepentingan laki-laki juga. Atas dasar inilah Veven tidak ragu untuk menceburkan dirinya dalam kancah perjuangan untuk keadilan perempuan melalui keahlian yang dimiliki sebagai sastrawan, pengamat media dan tentu saja sebagai aktivis.</p>
<p>***</p>
<p>Dimensi penting lainnya dari kutipan pernyataan Veven Wardana di awal tulisan ini adalah perbincangan tentang laki-laki sebagai alliansi untuk memperjuangkan keadilan sosial bagi perempuan. Sejauh ini teori tentang laki-laki sebagai aliansi perempuan belum terbangun seperti teori tentang kelompok dominan menjadi aliansi kelompok yang tertindas dalam arena keadilan sosial lainnya seperti perjuangan anti rasisme (Casey and Smith, 2010). Karenanya Tulisan Veven menyiratkan adanya wilayah yang perlu di perbincangkan untuk dapat membangun teori tentang laki-laki sebagai aliansi perempuan untuk memperjuangkan keadilan.</p>
<p>Aliansi dalam tulisan ini dapat dimaknai orang atau sekelompok orang dari kelompok dominan atau mayoritas yang terlibat aktif dalam upaya untuk menghapus penindasan yang dialami oleh orang atau sekelompok orang dari golongan marginal atau minoritas (Fabiano et al., 2003). Dengan pengertian ini maka konsep aliansi sangat relevan untuk menjelaskan tentang keterlibatan laki-laki dalam aktivisme untuk kesetaraan dan keadilan gender karena laki-laki dalam konteks Indonesia adalah kelompok dominan yang memperoleh keistimewaan dan kekuasaan secara gratis dari kultur patriarkhi sementara perempuan serba tidak diuntungkan.</p>
<p>Ketika membincang laki-laki sebagai aliansi untuk keadilan sosial bagi perempuan, sejatinya Veven juga sedang mengusung tema tentang politik maskulinitas (masculiny politics) yakni response terorganisir laki-laki terhadap perubahan relasi gender sebagai akibat dari gerakan perempuan atau feminism (Messner, 1997). Tentu saja yang menjadi minat Veven adalah gerakan laki-laki yang pro terhadap nilai-nilai feminis dan bukan sebaliknya yang berseberangan terhadap feminisme karena seperti dipaparkan Messner (1997) bahwa tidak ada response tunggal laki-laki terhadap feminisme namun sangat beragam dari yang pro feminis sampai yang anti feminis.</p>
<p>Terkait dengan maskulinitas politik ini, Veven tidak hanya berhenti pada tataran pengetahuan akan tetapi Ia mempraktikan maskulinitas politik itu pada saat Ia terlibat dalam Deklarasi CANTIK (Cowok-Cowok Anti Kekerasan) bersama aktivis lainnya seperti Ivan A. Hadar, Rocky Gerung, Nur Iman Subono, Wahyu Susilo dan lainnya di penghujung tahun 2000. Deklarasi itu menandai munculnya laki-laki yang terlibat aktif dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan sekaligus menjadi embrio gerakan laki-laki pro feminism di Indonesia pada tahun-tahun berikutnya.</p>
<p>Namun yang luput dari pengamatan Veven adalah isu delima yang menyertai keterlibatan laki-laki dalam gerakan feminisme yang belakangan menjadi perbincangan di kalangan scholars dan kelompok feminis. Bob Pease dan Michael Flood di antara dua akademisi Laki-Laki pro feminis yang konsisten memberikan perspektif kritis tentang kehadiran laki-laki dalam gerakan feminisme. Pease misalnya menyingkap resiko dan dillema keterlibatan laki-laki dalam gerakan penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Sebagian besar perhatian Pease ini juga menjadi perhatian kelompok feminis yang meliputi tiga isu krusial, pertama, isu resiko tentang dominasi baru laki-laki dalam gerakan perempuan. Kedua, pengambilan alihan sumber daya untuk program-program pemberdayaan perempuan yang memang sudah sangat terbatas untuk program-program laki-laki. Ketiga, kemungkinan terjadinya kolusi di antara laki-laki untuk mempertahan kekuasaan atas perempuan (Pease, 2008).</p>
<p>Meskipun generasi Veven belum memberikan perhatian kepada beberapa isu krusial tersebut namun generasi berikutnya yang lahir dari kecamuk isu tersebut secara serius bergulat untuk menentukan posisi laki-laki dalam konteks feminisme serta melakukan experimentasi implementasi nilai-nilai feminisme dalam praktek organisasi. Hal ini tercermin dari pergulatan Aliansi Laki-Laki Baru dalam menentukan posisi dalam gerakan perempuan serta dalam membangun organisasi serta merumuskan strategi dan agenda untuk pencapaian keadilan gender di Indonesia.</p>
<p>Referensi</p>
<ol>
<li>CASEY, E. &amp; SMITH, T. 2010. “How Can I Not?”: Men’s Pathways to Involvement in Anti-Violence Against Women Work. Violence Against Women, 16, 953-973.</li>
<li>FABIANO, P. M., PERKINS, H. W., BERKOWITZ, A., LINKENBACH, J. &amp; STARK, C. 2003. Engaging Men as Social Justice Allies in Ending Violence Against Women: Evidence for a Social Norms Approach. Journal of American College Health, 52, 105-12.</li>
<li>MESSNER, M. A. 1997. Politics of Masculinities Men in Movement, California, Sage Publication.</li>
<li>PEASE, B. 2008. Engaging Men in Men&#8217;s Violence Prevention:Exploring the Tensions, Dilemmas and Possibilities. Australian Domestic &amp; Family Violence Clearinghouse.</li>
<li>WARDANA, V. 2010. Pornografi dan Media: Yang Bukan Perempuan (Tak) Ambil Bagian. In: SUBONO, N. I. (ed.) Feminis Laki-Laki: Solusi atau Persoalan? Jakarta: Jurnal Perempuan.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakilakibaru.or.id/2013/05/laki-laki-sebagai-aliansi-keadilan-gender-mengenang-veven-sp-wardana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>How to Support Sexual Violence Survivor</title>
		<link>http://lakilakibaru.or.id/2013/04/how-to-support-sexual-violence-survivor/</link>
		<comments>http://lakilakibaru.or.id/2013/04/how-to-support-sexual-violence-survivor/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Apr 2013 10:43:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaldi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan seksual]]></category>
		<category><![CDATA[penyintas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakilakibaru.or.id/?p=926</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah film pendek dari Carol Mosley, seorang agent perubahan yang berbicara bagaimana membantu para penyintas kasus kekerasan seksual.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/uploads/2013/04/Rape-is-Rape.jpg" width="240" />
		</p><p>Sebuah film pendek dari Carol Mosley, seorang agent perubahan yang berbicara bagaimana membantu para penyintas kasus kekerasan seksual.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakilakibaru.or.id/2013/04/how-to-support-sexual-violence-survivor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Men Out to End Violence Against Women</title>
		<link>http://lakilakibaru.or.id/2013/04/men-out-to-end-violence-against-women/</link>
		<comments>http://lakilakibaru.or.id/2013/04/men-out-to-end-violence-against-women/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Apr 2013 10:51:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan terhadap perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[keterlibatan laki-laki]]></category>
		<category><![CDATA[patriarki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakilakibaru.or.id/?p=896</guid>
		<description><![CDATA[On a recent sunny Sunday at the Hotel Indonesia traffic circle in Jakarta, five men in miniskirts displayed posters condemning violence against women. One of the posters read, “Real Men Don’t Rape”, while another said, “Let’s unite to fight against rape”. Syaldi Sahude, one of three national coordinators for The New Men’s Alliance (ALLB) said [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/uploads/2013/04/aksi_allb.jpg" width="240" />
		</p><p><a href="http://lakilakibaru.or.id/2013/04/men-out-to-end-violence-against-women/aksi_allb/" rel="attachment wp-att-897"><img class="alignright size-medium wp-image-897" alt="aksi_allb" src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/uploads/2013/04/aksi_allb-300x199.jpg" width="300" height="199" /></a>On a recent sunny Sunday at the Hotel Indonesia traffic circle in Jakarta, five men in miniskirts displayed posters condemning violence against women.</p>
<p>One of the posters read, “Real Men Don’t Rape”, while another said, “Let’s unite to fight against rape”.</p>
<p>Syaldi Sahude, one of three national coordinators for The New Men’s Alliance (ALLB) said the alliance was created to raise awareness among men about the need to end violence against women.</p>
<p>“We also want men to be more concerned about gender equality, because discrimination leads to violence,” Syaldi said. ALLB was established in response to the increasing violence against women in Indonesia. The Commission on Violence against Women (Komnas Perempuan) recorded 4,335 rapes in Indonesia in 2011, of which 2,937 cases happened in public spaces.</p>
<p>Syaldi, who formerly worked for Jurnal Perempuan (Women’s Journal) often met victims of violence, like women who were raped during the May 1998 riots. She said that ALLB came into being on Oct. 8 during a meeting with activists from Women Rights nongovernmental organizations (NGOs), such as Jurnal Perempuan, Pulih Foundation, Cahaya Perempuan Women’s Crisis Center Bengkulu, Rifka Annisa of Yogyakarta, Rumah Perempuan (Women’s Home) Kupang, and Men’s Forum from Aceh. The meeting, facilitated by World Population Foundation Indonesia, decided that ALLB should base its activities in Yogyakarta because its activists were already working closely with Rifka Annisa there.</p>
<p>ALLB sees violence against women as just one of the negative results of a patriarchal system. The alliance believes it causes various kinds of trouble for women and for men too.</p>
<p>“When I was a teenager in Makassar, I bowed to peer pressure and bullied transvestites. I realized that was wrong. So when I moved to Jakarta, I decided to get a closer look at the impact of patriarchy on society by working with women’s organizations. I came to understand, for example, that men should not be afraid to cry; that this would not make them weak,” he said.</p>
<p>Kiki, a female supporter of ALLB, said that she believes that men also want to tell other people about their problems, like women feel free to do. “Most men are reluctant to tell others about their problems, because the patriarchal society expects them to be tough and independent,” she said.</p>
<p>An ALLB supporter, Dylan, said that he never differentiates by gender. “Humans are all equal. I really hate men who violate women. My best friend’s former husband beat her and cracked her back. I dropped out from a band because I found out one of the band members beat his wife,” he said.</p>
<p>Syaldi and the supporters of ALLB believe that there are more men who don’t violate women than ones who do.</p>
<p>Shera, an ALLB supporter and formerly of Jurnal Perempuan, told of how she took the man who raped her to court and saw him go to prison. “The violence traumatized me, and even now, when I remember it, I get really down. So, the nonviolent men, the silent majority, really do need to come forward to help women end the violence,” she said.</p>
<p>Neng Dara Affiah, a commissioner from Komnas Perempuan says, “On behalf of Komnas Perempuan I can say that we support the ALLB, because the eradication of violence against women will never happen if men don’t support that. I hope they can expand their territory to reach more people.”</p>
<p>Wulan Danoekoesoemo, from Lentera Indonesia, a sexual violence survivor circle said, “I’m so happy to know that there are men who also fight for gender equality. It would be good if nonviolent men could do more to protect women from any kind of violence or abuse.”</p>
<p>ALLB takes this mission to heart and cooperates closely to counsel male perpetrators of violence against women with various women’s organizations, including Rifka Annisa and Cahaya Perempuan Bengkulu, which coordinate their activities with law enforcement and correctional institutions.</p>
<p>“We help them mostly by providing capacity sources to counsel perpetrators,” Syaldi said.</p>
<p>“Actually, we have several goals to achieve in gender equality awareness, but this year we are focusing on the campaign to educate more men to end violence against women,” he added.</p>
<p>“We are particularly concerned that the punishment for rape in the criminal code is not harsh enough. Rapists only face 15 years maximum in prison, and most don’t serve that much time, while rape victims suffer for a lifetime,” he said.</p>
<p>The ALLB also has a forum where men can talk about gender equality issues. “If anyone wants to join us, just follow our twitter account @lakilakibaru, like our facebook page, or look for more details on our website http://lakilakibaru.or.id/,” Syaldi said. (ian)</p>
<p>sumber: <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2013/04/19/men-out-end-violence-against-women.html">The Jakarta Post</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakilakibaru.or.id/2013/04/men-out-to-end-violence-against-women/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aksi Damai  “Laki-Laki Menolak Kekerasan Seksual”</title>
		<link>http://lakilakibaru.or.id/2013/04/aksi-damai-laki-laki-menolak-kekerasan-seksual/</link>
		<comments>http://lakilakibaru.or.id/2013/04/aksi-damai-laki-laki-menolak-kekerasan-seksual/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Apr 2013 10:21:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernyataan Sikap]]></category>
		<category><![CDATA[Aksi]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan seksual]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan terhadap perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakilakibaru.or.id/?p=888</guid>
		<description><![CDATA[50% dari korban kekerasan seksual di seluruh dunia adalah remaja perempuan di bawah usia 16 tahun! Sekitar 7 dari 10 perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau kekerasan seksual dalam hidupnya. Pada tahun 2011, setiap harinya ada 12 perempuan menjadi korban kekerasan seksual di Indonesia Lembar fakta catatan tahunan Komnas Perempuan tahun 2011 menyebutkan, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/uploads/2013/04/Rape-is-Rape.jpg" width="240" />
		</p><p style="text-align: center;"><em>50% dari korban kekerasan seksual di seluruh dunia adalah remaja perempuan di bawah usia 16 tahun!</em></p>
<p style="text-align: center;"><em> Sekitar 7 dari 10 perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau kekerasan seksual dalam hidupnya.</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Pada tahun 2011, setiap harinya ada 12 perempuan menjadi korban kekerasan seksual di Indonesia</em></p>
<p>Lembar fakta catatan tahunan Komnas Perempuan tahun 2011 menyebutkan, kekerasan seksual khususnya teror perkosaan sebanyak 4335 kasus dimana 2937 kasus terjadi di ranah publik. Selaras dengan data yang dihimpun Rifka Annisa, ada 395 kasus perkosaan yang dilaporkan sepanjang tahun 1994-2011. Tahun 2012, Rifka Annisa juga mencatat bahwa hingga bulan September telah terjadi 19 kasus perkosaan.</p>
<p>Melihat fakta-fakta di atas, persoalan kekerasan seksual adalah persoalan yang serius di dunia, khususnya di Indonesia. Salah satunya adalah perkosaan yang merupakan sebuah tindak kejahatan yang telah menafikan keberadaan korban sebagai manusia. Perkosaan juga akan merampas masa depan korban bahkan tak jarang menimbulkan trauma psikologis, tertular infeksi menular seksual, serta kehamilan yang tidak diinginkan.</p>
<p>Tidak hanya itu, sikap masyarakat yang kerap menyalahkan korban dan melakukan pengucilan terhadap korban justru menambah beban sosial yang harus ditanggung perempuan. Tentu kita masih ingat beberapa komentar pejabat publik yang cenderung menyalahkan korban dan menuding perilaku dan cara berpakaian perempuan sebagai penyebab terjadinya kekerasan seksual. Padahal dari berbagai fakta dari berbagai penelitian telah membuktikan bahwa persoalan perkosaan terjadi karena relasi kuasa yang tidak berimbang antara pelaku dan korban.</p>
<p>Sebuah fakta bersama bahwa mayoritas pelaku kekerasan seksual adalah laki-laki. Namun di sisi lain, menurut penelitian Rifka Annisa, laki-laki bisa menjadi pihak potensial untuk mengeliminasi kekerasan seksual. Oleh karena itu, laki-laki harus mengambil bagian dalam mencegah dan menolak kekerasan seksual.</p>
<p>Sebagai bentuk solidaritas dan dukungan kami, maka Aliansi Laki-Laki Baru akan melakukan aksi damai <strong>“Laki-laki Menolak Kekerasan Seksual”</strong>pada 7 April 2013, jam 7:00 pagi di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Selain itu, aksi ini merupakan upaya untuk mengajak masyarakat, khususnya laki-laki untuk mengambil bagian dalam gerakan untuk menolak kekerasan.</p>
<p>Dalam aksi damai ini, beberapa penggiat kami akan menggunakan rok mini sebagai simbol protes kami terhadap cara pandang masyarakat, terutama pejabat publik yang melihat bahwa cara berpakaian adalah penyebab terjadinya perkosaan.</p>
<p>Merujuk pada fakta di atas, maka Aliansi Laki-laki Baru (ALLB) sebagai gerakan laki-laki untuk keadilan gender menyatakan:</p>
<ul>
<li>Mendesak pemerintah untuk mengambil langkah yang serius dan tegas terkait dengan meningkatnya fenomena kekerasan seksual serta menghukum para pelaku dengan maksimal.</li>
<li>Mendesak pemerintah untuk menyediakan mekanisme perlindungan dan pemulihan bagi para korban yang menjadi korban kekerasan</li>
<li>Mengajak para laki-laki yang tidak setuju dengan kekerasan terhadap perempuan untuk bersikap dan bersuara menolak kekerasan seksual.</li>
<li>Mengajak para orang tua untuk mendidik anak mereka untuk tidak melakukan kekerasan terutama dalam bentuk kekerasan seksual kepada orang lain</li>
</ul>
<p>Jika anda membutuhkan informasi lebih jauh, silahkan hubungi <strong>Syaldi Sahude</strong> (0814-10052222) dan<strong> Wawan Suwandi</strong> (0813-18927206)</p>
<p>Anda bisa mendpatkan informasi mengenai Aliansi Laki-laki Baru dengan mengunjungi www.lakilakibaru.or.id atau mengikuti akun twitter @lakilakibaru</p>
<p>Silahkan unduh versi PDF &#8211; <a href="http://lakilakibaru.or.id/2013/04/aksi-damai-laki-laki-menolak-kekerasan-seksual/20130400_press-release_laki-laki-menolak-kekerasan-seksual_media/" rel="attachment wp-att-890">20130400_Press Release_Laki-laki Menolak Kekerasan Seksual_Media</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakilakibaru.or.id/2013/04/aksi-damai-laki-laki-menolak-kekerasan-seksual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>One Billion Rising: Men stand up for cause</title>
		<link>http://lakilakibaru.or.id/2013/04/one-billion-rising-men-stand-up-for-cause/</link>
		<comments>http://lakilakibaru.or.id/2013/04/one-billion-rising-men-stand-up-for-cause/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Apr 2013 18:26:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaldi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan terhadap perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[keterlibatan laki-laki]]></category>
		<category><![CDATA[OBR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakilakibaru.or.id/?p=920</guid>
		<description><![CDATA[Defending women against violence is personal for Gery Paulandika, a 27-year-old graphic designer. “I grew up watching my father assault my mother,” he said on the sidelines of a children’s drawing event at the Women’s Festival — part of the One Billion Rising campaign — in Cikini, Central Jakarta, on Saturday afternoon. Gery stressed that [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/uploads/2013/04/img_OBR.jpg" width="240" />
		</p><p><a href="http://lakilakibaru.or.id/2013/04/one-billion-rising-men-stand-up-for-cause/img_obr/" rel="attachment wp-att-921"><img class="alignright size-medium wp-image-921" alt="Sumber: http://www.onebillionrisingindonesia.org/wp-content/gallery/obr_indonesia-by-gyrass/8472805605_77c0458629_b.jpg" src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/uploads/2013/04/img_OBR-300x200.jpg" width="300" height="200" /></a>Defending women against violence is personal for Gery Paulandika, a 27-year-old graphic designer.</p>
<p>“I grew up watching my father assault my mother,” he said on the sidelines of a children’s drawing event at the Women’s Festival — part of the One Billion Rising campaign — in Cikini, Central Jakarta, on<br />
Saturday afternoon.</p>
<p>Gery stressed that he did not want what had happened to his mother happen to other women and that being a volunteer at the event was one way to defend women’s right to live a violence-free life. “I used to draw posters and pictures with social issues — such as the antiviolence campaign — as the context,” he said.</p>
<p>Gery is one of many One Billion Rising Indonesia participants who became a volunteer to continue the campaign.</p>
<p>He participated in a flash mob dance with over 300 people to show solidarity with female victims of violence at the National Monument (Monas) Park in Central Jakarta on Valentine’s Day this year.</p>
<p>One Billion Rising Indonesia initiator Shera Pringgodigdo said she was glad that more men were becoming involved in the movement.</p>
<p>“Most of our volunteers are men,” she said, adding that anyone was welcome to be involved.</p>
<p>Dhyta Caturani, one of the activists in One Billion Rising Indonesia, earlier said that the Women’s Festival was a part of a series of events to commemorate International Women’s Day and part of the campaign against violence against women.</p>
<p>“It’s important to have many events to draw attention to the campaign so people do not forget about violence against women,” she said.</p>
<p>The coordinator of gender equality movement Gerakan Laki Laki Baru (New Men’s Alliance), Syaldi Sahude, who also took part in the event, said that the participation of men in the campaign was important because most women were assaulted by men.</p>
<p>“So, it is the men who need to be involved,” he said, adding that people needed to change their perspective.</p>
<p>Syaldi said men still held important positions that were instrumental to the creation of public policies that affect the life of women.</p>
<p>He explained that there were three types of men in society: the perpetrators; those who did not commit the violence but stayed silent; and those who were against violence toward women.</p>
<p>Gerakan Laki Laki Baru aims to encourage men who opposed violence to speak up and take part in the movement to prevent it.</p>
<p>Syaldi believes that men usually listen to advice from their male friends’ rather than from women.</p>
<p>He reflected on his childhood and said that growing up in a conservative family, he was never told not to hurt women. “Conservative families usually warn their daughters to be careful, so they will not be harassed sexually,” Syaldi said, explaining that the most effective way to break the cycle of violence was through education.</p>
<p>“But they never teach their sons not to sexually harass women.”</p>
<p>United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women (UN Women) national program officer, Dwi Faiz, said, “Both women and men should actively work together to balance their relations.” (cor)</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2013/04/01/one-billion-rising-men-stand-cause.html">The Jakarta Post</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakilakibaru.or.id/2013/04/one-billion-rising-men-stand-up-for-cause/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perempuan Dilarang Mengangkang</title>
		<link>http://lakilakibaru.or.id/2013/01/perempuan-dilarang-mengangkang/</link>
		<comments>http://lakilakibaru.or.id/2013/01/perempuan-dilarang-mengangkang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jan 2013 04:39:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[Kontrol Tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[Syariat]]></category>
		<category><![CDATA[Tubuh Perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakilakibaru.or.id/?p=879</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah kehidupan yang terus berubah ke arah yang memberi ruang yang sama kepada perempuan dan laki-laki, surat edaran Walikota Lhoksumawe tentang larangan perempuan duduk mengangkang saat membonceng kendaraan bermotor terdengar sangat aneh,  sumbang, bahkan mungkin konyol.  Walikota ini seperti hidup di zaman yang salah, mungkin secara fisik dia hidup saat ini, namun isi kepalanya [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-includes/images/crystal/default.png" width="240" />
		</p><p>Di tengah kehidupan yang terus berubah ke arah yang memberi ruang yang sama kepada perempuan dan laki-laki, surat edaran Walikota Lhoksumawe tentang larangan perempuan duduk mengangkang saat membonceng kendaraan bermotor terdengar sangat aneh,  sumbang, bahkan mungkin konyol.  Walikota ini seperti hidup di zaman yang salah, mungkin secara fisik dia hidup saat ini, namun isi kepalanya seperti isi kepala manusia yang hidup di zaman yang telah lama berlalu. Yang paling celaka adalah ketika manusia dengan isi kepala yang salah ini memegang otoritas karena pikiran-pikiran salah zaman akan diformalisasi yang dapat memaksa kehidupan masyarakat di bawah kekuasaannya mengikuti imajinasi pikiran kedaluarsa tersebut.</p>
<p>Jika dirunut, pikiran Walikota Lhoksumawe berasal dari imaginasi laki-laki tentang perempuan ideal pada zaman yang telah berlalu. Perempuan ideal ditakar dari bagaimana dia bersikap dan berperilaku salah satunya adalah bagaimana cara duduknya. Perempuan ideal tidak duduk mengangkang, namun harus melipat kakinya. Pikiran ini sama dengan larangan perempuan untuk tertawa terbahak yang membuat mulutnya menganga lebar. Duduk dengan melipat kaki mengandaikan perempuan yang dapat menjaga kehormatan dengan kata lain perempuan yang pasif secara seksual. Sementara mengangkang diidentikkan dengan tidak menjaga kehormatan, jalang, menggoda dan agresif secara seksual.  Imaginasi ini tentu saja lahir dari nilai tentang perempuan seperti perempuan itu dituntut untuk submisive, taat, patuh dan sebagai object seksual dan harus dikontrol.</p>
<p>Imaginasi perempuan ideal ini diciptakan laki-laki berbalikan dengan imaginasi tentang laki-laki ideal, secara berlawanan, hanya laki-laki yang dianggap boleh duduk mengangkang karena hanya laki-laki yang memiliki kebebasan termasuk bebas dalam menentukan cara bagaimana mereka duduk. Mengangkang itu simbol kegagahan, laki-laki akan tampak macho jika mengangkang.  Tidak ada larangan bagi laki-laki untuk tertawa terbahak-bahak bahkan sampai mulutnya menganga lebar. Seperti halnya Imaginasi tentang perempuan ideal, imaginasi tentang laki-laki ideal ini juga lahir dari sebuah nilai tentang laki-laki seperti laki-laki itu tidak memiliki batasan akan ruang dan waktu, laki-laki itu bebas berkehendak, laki-laki itu memiliki kuasa termasuk kuasa atas perempuan.</p>
<p>Surat edaran Walikota Lhoksumawe tentang larangan perempuan duduk mengangkang adalah perwujudan dari formalisasi imaginasi laki-laki tentang  perempuan ideal tersebut, artinya menjadikan imaginasi walikota yang laki-laki tentang perempuan sebagai dasar kebijakan pemerintah kota. Dan sebagian orang mencurigai bahwa kebijakan tersebut juga lahir dari pikiran ngeres dan porno Walikota.  Pemberlakuan syariat Islam adalah hanya bungkus untuk membuat formalisasi imaginasi laki-laki tentang perempuan itu mendapatkan dukungan politik.</p>
<p>Lebih jauh formalisasi imaginasi tentang perempuan ideal yang dilakukan  sekaligus sebagai sebuah mekanisme kontrol yang dilakukan oleh laki-laki (walikota) atas tubuh perempuan sekaligus untuk memastikan bahwa imaginasi kuno tentang perempuan dan laki-laki ideal itu tetap lestari dan berarti hubungang hirarkhis laki-laki (berkuasa) dan perempuan (dikuasai) tetap terbangun kokoh. Tidak berlebihan jika Surat Edaran Walikota Lhoksumawe tersebut merupakan cara yang disengaja untuk melanggengkan penindasan laki-laki terhadap perempuan.  Jika demikian apakah kita harus mendiamkan? Tentu tidak kan.</p>
<p><strong>Nur Hasyim</strong>, <em>founder of New Men Alliance and ADS Awardee 2012/2013</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakilakibaru.or.id/2013/01/perempuan-dilarang-mengangkang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Para Patriarkh di Ujung Tahun</title>
		<link>http://lakilakibaru.or.id/2012/12/para-patriarkh-di-ujung-tahun/</link>
		<comments>http://lakilakibaru.or.id/2012/12/para-patriarkh-di-ujung-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Dec 2012 09:30:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[kdrt]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan domestik]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan terhadap perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>
		<category><![CDATA[patriarki]]></category>
		<category><![CDATA[Privillage]]></category>
		<category><![CDATA[sisterhood]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakilakibaru.or.id/?p=871</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 2012 akan segera berakhir namun akhir tahun ini seakan ditutup dengan sebuah pertunjukan borok-borok patriarkhi dalam panggung kehidupan kita.  Aceng Fikri, Bupati Garut Jawa Barat, menjadi pelakon sempurna yang mempertontonkan wajah bopeng dari sebuah sistem sosial yang memberikan keleluasaan laki-laki untuk melakukan apa saja termasuk hal yang hanya pantas dilakukan oleh mereka yang tak [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/uploads/2012/12/1Bupati-Garut-Aceng-Fikri-tribunnews.com_.jpg" width="240" />
		</p><div id="attachment_873" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://lakilakibaru.or.id/2012/12/para-patriarkh-di-ujung-tahun/1bupati-garut-aceng-fikri-tribunnews-com/" rel="attachment wp-att-873"><img class="size-medium wp-image-873" alt="sumber: tribunnews.com" src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/uploads/2012/12/1Bupati-Garut-Aceng-Fikri-tribunnews.com_-300x184.jpg" width="300" height="184" /></a><p class="wp-caption-text">sumber: tribunnews.com</p></div>
<p>Tahun 2012 akan segera berakhir namun akhir tahun ini seakan ditutup dengan sebuah pertunjukan borok-borok patriarkhi dalam panggung kehidupan kita.  Aceng Fikri, Bupati Garut Jawa Barat, menjadi pelakon sempurna yang mempertontonkan wajah bopeng dari sebuah sistem sosial yang memberikan keleluasaan laki-laki untuk melakukan apa saja termasuk hal yang hanya pantas dilakukan oleh mereka yang tak layak disebut manusia.</p>
<p>Aceng hanya salah satu saja karena praktik serupa Aceng sejatinya terlihat gamblang, tercium busuk menyengat dan gaduh terdengar dalam masyarakat. Namun kewajaran, anggapan biasa, menjadi permakluman  maha dahsyat yang membuat seakan tawar kebusukan dan kegaduhan dari praktek-praktek para patriarkh di negeri ini.</p>
<p>Tidak saja mereka yang memiliki kekuasaan politik seperti Aceng, praktik serupa juga dilakukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan “agama”, kekuasaan “budaya” . Adalah cerita yang akrab sejak dulu kala pemuka agama dapat mengawini perempuan mana saja yang mereka mau. Cerita yang sama juga sering kita dengar tokoh adat atau masyarakat dapat mempergundik perempuan mana saja yang mereka inginkan. Tentu saja keseluruhan siasat itu dibalut dengan khutbah, penyebaran mitos serta tawaran akan kehormatan yang membuat perempuan yang menjadi korban menyerah dengan “sukarela” karena meresapinya sebagai sebuah takdir (destiny).</p>
<p>Kecenderungan kesamaan perilaku penguasa politik, penguasa institusi keagamaan dan budaya sebagaimana diuraikan dipersatukan oleh sebuah pandangan dunia yang mengabdi kepada kepentingan laki-laki. Khutbah, mitos, janji gombal tentang kehormatan sengaja diciptakan untuk menopang kelestarian pandangan dunia tersebut dan tentu saja kelestarian dan kesinambungan keistimewaan dan kekuasaan laki-laki.</p>
<p>Sistem sosial yang melayani laki-laki tersebut demikian kokoh, teriakan kelompok makar tehadap sistem tersebut baik perempuan maupun laki-laki sepertinya belum mampu menggoyahkan bangunan sistem sosial tersebut. Kekokohan sistem tersebut karena terlalu banyak penopangnya entah itu individu, institusi dan tentu saja laki-laki dan yang paling celaka adalah perempuan pun tak sedikit yang memilih beramai-ramai menikmati kenikmatan semu yang ditawarkan candu patriarkhi meskipun mereka rela meruntuhkan bangunan sisterhood di antara sesama perempuan. Dalam hal memporak-porandakan sisterhood, para patriarkh adalah jagonya dan mereka sadar betul bahwa penghancuran sisterhood adalah strategi jitu untuk tetap mencecap madu patriarkhi.</p>
<p>Ketika semakin gamblang bahwa sistem sosial yang memberikan keistimewaan dan kekuasaan kepada laki-laki telah membunuh kemanusiaan perempuan dan laki-laki, maka tidak ada pilihan lain gerakan makar terhadap sistem tersebut tak boleh surut. Generasi baru laki-laki yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan harus semakin lantang berteriak kepada laki-laki lain bawa perilaku menindas laki-laki terhadap perempuan adalah tindakan merendahkan martabat kemanusiaan laki-laki.</p>
<p>Yang tak kalah pentingnya adalah mendorong perempuan untuk kembali merajut sisterhood yang telah diluluh-lantakkan patriarkhi, karena hanya dengan sisterhood yang kuat patriarkhi dapat ditransformasi.</p>
<p><strong>Nur Hasyim</strong>, <em>founder of New Men Alliance and ADS Awardee 2012/2013</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakilakibaru.or.id/2012/12/para-patriarkh-di-ujung-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laki-Laki Bicara Soal Kekerasan Seksual dalam Rumah Tangga*</title>
		<link>http://lakilakibaru.or.id/2012/12/laki-laki-bicara-soal-kekerasan-seksual-dalam-rumah-tangga/</link>
		<comments>http://lakilakibaru.or.id/2012/12/laki-laki-bicara-soal-kekerasan-seksual-dalam-rumah-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2012 08:36:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Domestic Violence]]></category>
		<category><![CDATA[kdrt]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan seksual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakilakibaru.or.id/?p=860</guid>
		<description><![CDATA[“Istri saya tidak pernah mau melaksanakan kewajibannya sebagai istri, terutama masalah seksual, mas, sehingga saya memukulnya. Untuk berhubungan seksual, kalau ia mau baru kita melakukanya. Jika saya yang mau, selalu ia tolak. Saya merasa tidak dihargai sebagai seorang suami. Padahal dalam buku nikah sudah dijelaskan bahwa suami adalah pemimpin. Jika istri mau masuk surga, apapun [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/uploads/2012/12/img_8840.jpg" width="240" />
		</p><p>“Istri saya tidak pernah mau melaksanakan kewajibannya sebagai istri, terutama masalah seksual, mas, sehingga saya memukulnya. Untuk berhubungan seksual, kalau ia mau baru kita melakukanya. Jika saya yang mau, selalu ia tolak. Saya merasa tidak dihargai sebagai seorang suami. Padahal dalam buku nikah sudah dijelaskan bahwa suami adalah pemimpin. Jika istri mau masuk surga, apapun permintaan suami harus dituruti.”</p>
<p><a href="http://lakilakibaru.or.id/2012/12/laki-laki-bicara-soal-kekerasan-seksual-dalam-rumah-tangga/img_8851/" rel="attachment wp-att-862"><img class="alignleft size-medium wp-image-862" alt="img_8851" src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/uploads/2012/12/img_8851-300x200.jpg" width="300" height="200" /></a>Pernyataan di atas adalah pernyataan yang diungkapkan oleh klien laki-laki yang mengikuti konseling di lembaga pemasyarakatan Bengkulu. Laki-laki tersebut beranggapan seorang istri hanyalah objek. Sumarto, Sosiolog Universitas Bengkulu, menyayangkan istri tidak pernah dianggap sebagai subjek dalam rumah tangga.</p>
<p>Abdul Qohar, staf Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bengkulu, menyatakan, suami dan istri mempunyai hak dan kewajiban yang sama. “Seharusnya mereka saling memberi, bukan saling menuntut. Saat memberi itu menjadi keutamaan dalam berpasangan hingga kemudian muncullah kasih sayang.”</p>
<p>Berkembang pemahaman di masyarakat bahwa jika istri menolak ajakan suami untuk bersenggama maka ia berdosa besar. Akan tetapi, hadis atau ayat Al-quran yang menjadi sumber pengetahuan tersebut sesungguhnya mengandung kiasan, tidak dapat ditafsirkan begitu saja sebagaimana bunyi teksnya. Hubungan seksual antara suami-istri haruslah didasarkan pada kesepakatan keduanya, bukan saja atas kemauan istri atau suami. Kedua belah pihak juga harus paham seandainya suami atau istri sedang berkeberatan melakukannya, bisa jadi karena ia sedang kelelahan.</p>
<p>Dominasi terhadap salah satu pihak akan menghilangkan harmonisasi dalam kehidupan berumah tangga karena salah satu pihak merasa lebih kuat dan merasa berhak memaksakan kehendaknya pada pihak yang lebih lemah. Pada zaman sekarang kekuasaan dalam rumah tangga diukur dengan materi—siapa yang menghasilkan materi lebih banyak maka semakin kuatlah kekuasaannya—dan, biasanya, laki-lakilah sang penguasa itu. Di sinilah letak ketidakseimbangan itu muncul. Idealnya, laki-laki yang dijadikan pimpinan itu bertanggung jawab seperti manager, tugasnya membagi bukan menguasai.</p>
<p>Dalam agama tidak ada istilah pemaksaan. Tujuan pernikahan adalah untuk saling mencintai, saling menyayangi, saling menghargai, dan membuat nyaman satu sama lain. Rasulullah SAW sendiri telah mencontohkan bagaimana beliau berpamitan terlebih dahulu pada istrinya, Aisyah, ketika akan beribadah kepada Allah SWT. Rasulullah SAW menunjukkan betapa ia sangat menghargai istrinya.</p>
<p><em>Talkshow dalam rangka memperingati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan ini terselenggara atas kerjasama Radio RRI dan <a href="http://cahayaperempuan.org/">Women Crisis Centre Cahaya Perempuan Bengkulu.</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakilakibaru.or.id/2012/12/laki-laki-bicara-soal-kekerasan-seksual-dalam-rumah-tangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Foto] Aksi Aliansi Laki-laki Baru Menolak Perkosaan dan Kekerasan</title>
		<link>http://lakilakibaru.or.id/2012/12/foto-aksi-aliansi-laki-laki-baru-menolak-perkosaan-dan-kekerasan/</link>
		<comments>http://lakilakibaru.or.id/2012/12/foto-aksi-aliansi-laki-laki-baru-menolak-perkosaan-dan-kekerasan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2012 08:08:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakilakibaru.or.id/?p=855</guid>
		<description><![CDATA[Bersama Rifka Annisa, Aliansi Laki-Laki Baru menggelar aksi untuk mengutuk perkosaan dan memperingati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, di Nol Kilometer, Yogyakarta, pada tanggal 06 Desember 2012 lalu. Foto-foto aksi lainnya bisa dilihat di halaman Facebook Rifka Annisa dan Aliansi Laki-Laki Baru.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/uploads/2012/12/481630_10151203834483347_767495309_n.jpg" width="240" />
		</p><p>Bersama Rifka Annisa, Aliansi Laki-Laki Baru menggelar aksi untuk mengutuk perkosaan dan memperingati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, di Nol Kilometer, Yogyakarta, pada tanggal 06 Desember 2012 lalu.</p>
<p>Foto-foto aksi lainnya bisa dilihat di halaman Facebook <a href="http://http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10151203769188347.475433.701888346&amp;type=3">Rifka Annisa</a> dan <a href="http://www.facebook.com/media/set/?set=a.448203645242318.107608.100001580605073&amp;type=3">Aliansi Laki-Laki Baru</a>.</p>
<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-2-855">

	<!-- Slideshow link -->
	<div class="slideshowlink">
		<a class="slideshowlink" href="http://lakilakibaru.or.id/2012/12/foto-aksi-aliansi-laki-laki-baru-menolak-perkosaan-dan-kekerasan/?show=slide">
			[Show as slideshow]		</a>
	</div>

	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-24" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/gallery/201212_aksi-menolak-perkosaan/photo2968.jpg" title=" " class="shutterset_set_2" >
								<img title="photo2968" alt="photo2968" src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/gallery/201212_aksi-menolak-perkosaan/thumbs/thumbs_photo2968.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-23" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/gallery/201212_aksi-menolak-perkosaan/photo2966.jpg" title=" " class="shutterset_set_2" >
								<img title="photo2966" alt="photo2966" src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/gallery/201212_aksi-menolak-perkosaan/thumbs/thumbs_photo2966.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-22" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/gallery/201212_aksi-menolak-perkosaan/photo2958.jpg" title=" " class="shutterset_set_2" >
								<img title="photo2958" alt="photo2958" src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/gallery/201212_aksi-menolak-perkosaan/thumbs/thumbs_photo2958.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-20" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/gallery/201212_aksi-menolak-perkosaan/photo2930.jpg" title=" " class="shutterset_set_2" >
								<img title="photo2930" alt="photo2930" src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/gallery/201212_aksi-menolak-perkosaan/thumbs/thumbs_photo2930.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-18" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/gallery/201212_aksi-menolak-perkosaan/photo2924.jpg" title=" " class="shutterset_set_2" >
								<img title="photo2924" alt="photo2924" src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/gallery/201212_aksi-menolak-perkosaan/thumbs/thumbs_photo2924.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-19" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/gallery/201212_aksi-menolak-perkosaan/photo2925.jpg" title=" " class="shutterset_set_2" >
								<img title="photo2925" alt="photo2925" src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/gallery/201212_aksi-menolak-perkosaan/thumbs/thumbs_photo2925.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-21" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/gallery/201212_aksi-menolak-perkosaan/photo2953.jpg" title=" " class="shutterset_set_2" >
								<img title="photo2953" alt="photo2953" src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/gallery/201212_aksi-menolak-perkosaan/thumbs/thumbs_photo2953.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-25" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/gallery/201212_aksi-menolak-perkosaan/481630_10151203834483347_767495309_n.jpg" title=" " class="shutterset_set_2" >
								<img title="481630_10151203834483347_767495309_n" alt="481630_10151203834483347_767495309_n" src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/gallery/201212_aksi-menolak-perkosaan/thumbs/thumbs_481630_10151203834483347_767495309_n.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-17" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/gallery/201212_aksi-menolak-perkosaan/photo2918.jpg" title=" " class="shutterset_set_2" >
								<img title="photo2918" alt="photo2918" src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/gallery/201212_aksi-menolak-perkosaan/thumbs/thumbs_photo2918.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakilakibaru.or.id/2012/12/foto-aksi-aliansi-laki-laki-baru-menolak-perkosaan-dan-kekerasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aliansi Laki-laki Baru Mengutuk Perkosaan</title>
		<link>http://lakilakibaru.or.id/2012/12/aliansi-laki-laki-baru-mengutuk-perkosaan-2/</link>
		<comments>http://lakilakibaru.or.id/2012/12/aliansi-laki-laki-baru-mengutuk-perkosaan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2012 09:40:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernyataan Sikap]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan seksual]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan terhadap perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[perkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[sexism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakilakibaru.or.id/?p=848</guid>
		<description><![CDATA[Perkosaan adalah tindak kejahatan kemanusiaan sebab menafikkan keberadaan korban sebagai manusia. Perkosaan juga merampas masa depan korban bahkan tak jarang menimbulkan trauma psikologis, tertular infeksi menular seksual, serta kehamilan yang tidak diinginkan. Tidak hanya itu, sikap masyarakat yang kerap menyalahkan korban dan melakukan pengucilan terhadap korban justru menambah beban sosial yang harus ditanggung perempuan. Perkosaan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="float:right; margin:0 0 10px 15px; width:240px;">
		<img src="http://www.lakilakibaru.or.id/wp-content/uploads/2012/12/Yogya_aksi-LLB.jpg" width="240" />
		</p><p>Perkosaan adalah tindak kejahatan kemanusiaan sebab menafikkan keberadaan korban sebagai manusia. Perkosaan juga merampas masa depan korban bahkan tak jarang menimbulkan trauma psikologis, tertular infeksi menular seksual, serta kehamilan yang tidak diinginkan.</p>
<p>Tidak hanya itu, sikap masyarakat yang kerap menyalahkan korban dan melakukan pengucilan terhadap korban justru menambah beban sosial yang harus ditanggung perempuan. Perkosaan merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Perkosaan telah mencerabut harkat dan martabat perempuan sebagai manusia yang seharusnya dilindungi. Perempuan pun akhirnya menjadi pihak yang paling dirugikan dengan adanya ancaman perkosaan yang kian marak. Tak hanya yang dilakukan oleh orang tak dikenal, perkosaan di level rumah tangga pun bisa terjadi. Yang pelakunya justru dari orang terdekat korban.</p>
<p>Lembar fakta catatan tahunan Komnas Perempuan tahun 2011 menyebutkan, kekerasan seksual khususnya teror perkosaan sebanyak 4335 kasus dimana 2937 kasus terjadi di ranah publik. Selaras dengan data yang dihimpun Rifka Annisa, ada 395 kasus perkosaan yang dilaporkan sepanjang tahun 1994-2011. Tahun 2012, Rifka Annisa juga mencatat bahwa hingga bulan September telah terjadi 19 kasus perkosaan.</p>
<p>Ironisnya, ketika perkosaan terjadi, masyarakat justru menyalahkan perempuan atas nama moralitas sosial, mencela cara berpakaian perempuan, dan tak ketinggalan melontarkan guyonan-guyonan yang menjatuhkan martabat perempuan korban perkosaan. Hasil pemantauan Komnas Perempuan mengungkap fakta-fakta tersebut. Pada tahun 2011, lembar fakta kekerasan seksual di transportasi umum yang dirilis Komnas Perempuan menggarisbawahi dua respon pejabat publik yang tidak memihak pada korban. Respon pertama dari mantan Gubernur DKI Jakarta yang menyalahkan rok mini korban; respon kedua dari Kepala Biro Operasional POLDA Metro Jaya yang menyarankan korban agar tidak menggunakan pakaian yang mengundang kejahatan. Tahun 2012, masyarakat juga tersentak dengan pernyataan Bapak Menteri Pendidikan yang cenderung menyepelekan kasus perkosaan yang menimpa seorang pelajar SMP. Lagi-lagi, perempuan korban masih mendapat cercaan dan koreksi atas musibah perkosaan yang dialaminya.</p>
<p>Faktanya perkosaan masih terjadi dan sebagian masyarakat cenderung mengoreksi tubuh perempuan atas nama keamanan dan moralitas. Padahal, hasil kajian Men’s Program Rifka Annisa menemukan bahwa laki-laki sebenarnya menjadi pihak yang potensial dalam mengeliminasi terjadinya perkosaan. Maka gerakan laki-laki dengan menjadikan kelompok atau jaringan sebagai gerbong gerakan menjadi kebutuhan penting, terutama gerakan laki-laki yang atas nama kemanusiaan berjuang bersama menghapuskan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. Sepatutnya setiap orang menentang ketidakadilan gender maupun kekerasan atas nama apapun.</p>
<p>Mengacu pada permasalahan tersebut, Aliansi Laki-laki Baru (ALLB) sebagai gerakan laki-laki untuk keadilan gender, mengajukan beberapa tuntutan, yaitu:</p>
<p>pertama, agar negara membangun sistem perlindungan terhadap warga negara, khususnya perempuan, dari tindak kejahatan perkosaan dan kejahatan seksual lainnya;</p>
<p>kedua, menghukum seberat-beratnya pelaku perkosaan dan kekerasan sesual lainnya serta membantu pemulihan dan ganti rugi yang efektif kepada korban perkosaan dan kekerasan seksual lainnya, sebagaimana telah diserukan sebelumnya.</p>
<p>Aliansi Laki-laki Baru juga <a href="http://lakilakibaru.or.id/2011/12/seruan-laki-laki-indonesia-untuk-melawan-perkosaan/">menyeru kepada seluruh laki-laki untuk melawan perkosaan</a>, dengan cara:</p>
<p><em>pertama</em>, berkomitmen untuk tidak melakukan perkosaan dan menghargai perempuan dan laki-laki sebagai sesaman manusia;</p>
<p><em>kedua</em>, mengutuk, melawan, dan menolak segala bentuk tindak perkosaan;</p>
<p><em>ketiga</em>, mengutuk, melawan dan menolak penggunaan kejahatan perkosaan sebagai bahan lelucon di media;</p>
<p><em>keempat</em>, berhenti mewajarkan perkosaan dan menganggap bahwa perempuanlah yang menggoda pelaku–misal dengan berpakaian seksi–sehingga perkosaan terjadi;</p>
<p><em>kelima</em>, bersama-sama menuntut negara untuk menghargai, menjamin dan melindungi hak warga negara untuk terbebas dari kekerasan seksual.</p>
<p>Yogyakarta, 06 Desember 2012</p>
<p><strong>Aliansi Laki-laki Baru</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakilakibaru.or.id/2012/12/aliansi-laki-laki-baru-mengutuk-perkosaan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
