Home / Wacana / Jenis Kelamin, Gender dan Orientasi Seksual

Jenis Kelamin, Gender dan Orientasi Seksual

“Sesungguhnya laki-laki adalah perempuan yang salah hormon”

Saya tidak sedang menghina kaum laki-laki –mosok menghina diri sendiri– dan saya juga tidak sedang dalam kapasitas merayu kaum perempuan, karena jaman rayu-rayuan untuk saya sudah terlewati. Karena fakta biologinya memang seperti itu adanya, bahwa perubahan kadar hormon pada saat masa janin lah yang mengubah sebagian janin menjadi laki-laki, yang pada mulanya semuanya adalah perempuan.

Dulu, identitas seksual manusia hampir selalu disederhanakan menjadi dikotomi laki-laki dan perempuan dan tidak ada identitas seksual lain selain yang dua itu, kalaupun ada individu yang identitasnya “meragukan” maka biasanya akan divonis –tanpa pengadilan apapun– sebagai orang yang tidak normal, atau mengalami kelainan, bahkan cacat. Sebenarnya, hal ini karena tingkat pengetahuan tentang ilmu biologi waktu itu masih rendah.

Dari sudut pandang ilmu biologi modern saat ini, dalam menentukan identitas seksual, individu tidaklah sesederhana yang disangka sebelumnya. Sekarang ini, setidaknya ada tiga variabel yang bisa digunakan sebagai dasar dalam menentukan identitas seksual seseorang, yaitu: jenis kelamin, gender, dan orientasi seksual. Ketiganya saling inipenden, berdiri sendiri-sendiri, tapi sering dicampuradukkan

Anggapan umum adalah seperti ini: “Individu yang berjenis kelamin laki-laki, gendernya tentu maskulin dan arah orientasi seksualnya kepada perempuan. Dan orang yang berjenis kelamin perempuan, gendernya pasti feminin dan orientasi seksualnya tentulah ke laki-laki”. Secara biologi modern, anggapan ini tidak benar, karena faktanya memang tidak demikian.

Dalam kehidupan sehari-hari, bisa kita dapati seseorang yang jenis kelaminnya laki-laki, gendernya feminin, dan orientasi seksualnya ke perempuan. Laki-laki seperti ini tindak tanduknya bisa sangat kemayu (feminin), tapi dia berkeluarga dan punya anak seperti orang kebanyakan.

Ada juga orang yang jenis kelaminnya laki-laki, gendernya maskulin dan orientasi seksualnya ke laki-laki. Penampilan orang yang seperti ini biasanya sangat macho.

Jenis kelamin biologis tidak sama dengan gender, juga berbeda dengan orientasi seksual. Ketiganya merupakan variabel yg terpisah tapi bisa saling mempengaruhi. Untuk membuat pemisah atau pengelompokan pada tiap variabel pun tidaklah mudah. Jenis kelamin biologis barangkali adalah variabel yang mudah ditentukan, tapi tetap tidak sesederhana yang kita bayangkan.

Saya akan membahas bagaimana jenis kelamin biologis manusia terbentuk, dilanjutkan dengan deferensiasi orientasi seksual. Soal bagaimana variasi gender terbentuk, silahkan baca artikel saya yang berjudul “Di Persimpangan Jalan Gender.

Dulu dalam pelajaran biologi SMA –saya yakin sekarang masih begitu– diajarkan bahwa jika seseorang berkromosom XX maka dia perempuan, sedangkan kalau berkromosom XY tentulah laki-laki. Padahal tidak selalu demikian.

Orang berkromosom XY tidak selalu berjenis kelamin laki-laki, orang berkromosom XX juga tidak selalu berjenis kelamin perempuan. Demikian juga sebaliknya, orang berjenis kelamin laki-laki tidak selalu berkromosom XY, dan orang berjenis kelamin perempuan tidak selalu berkromosom XX.

Memang jarang perempuan memiliki kromosom Y, meskipun hal ini tidak mustahil. Karena gen-gen pembawa unsur maskulin yang ada pada kromosom Y bisa hilang atau bermutasi pada orang-orang tertentu. Sehingga kehadiran kromosom Y tidak mengubah orang tersebut dari perempuan menjadi laki-laki.

Fakta biologisnya, ada banyak variasi genetik di mana kromosom seks pada seseorang bisa hilang atau berlebih, ada individu-individu yang berkromosom sex X0, XXY, XYY, atau XXYY, dan lain-lain. Jadi jenis kelamin biologis pun tidak hanya dua!

Sampai usia 8 minggu semua janin manusia berjenis kelamin perempuan, sebagian di antaranya ada yang kemudian berubah menjadi laki-laki. Perubahan kadar hormon-hormon tertentu yang menjadi sebab perubahan dari sebagian dari janin-janin perempuan itu menjadi laki-laki.

Dan kalau ada pertanyaan lanjutan, apakah penyebab terjadinya perubahan hormon pada masa janin, jawabannya adalah mutasi genetik jutaan tahun lalu, yang bisa memicu perubahan aktivitas hormon-hormon yang berujung terjadinya deferensiasi jenis kelamin. Hormon-hormon ini yang bekerja mengikuti perintah yang diberikan melalui sandi-sandi genetik.

Kebanyakan orang sudah tahu bahwa kromosom X dan Y merupakan penentu jenis kelamin. Tapi ada banyak hal seputar kromosom sex ini yg belum diketahui kebanyakan orang.

Dari segi kemasannya, kromosom XY ini sangat berbeda dari kromosom-kromosom manusia yang lain. Dulu, timbul tanda tanya besar kenapa pasangan kromosom ini berat sebelah yang satu besar, sedangkan yang lain kecil. Sebetulnya pertanyaan ini sudah terjawab lebih dari 25 tahun yang lalu

X dan Y ini ternyata bukanlah kromosom yang identik. Ukuran kromosom Y sangat kecil jika dibandikan kromosom X, mendekati 1:20. Seolah kromosom Y merupakan tambahan dadakan karena tuntutan keadaan. Tapi memang demikian adanya, kromosom Y bisa dibilang muncul karena “kecelakaan” evolusioner.

Bagaimana prosesnya bisa muncul kromosom Y dari yang tadinya tidak ada? Berikut ini sejarah yang tertulis dalam genom –yang merupakan pusat informasi genetik– manusia.

Di masa lampau, jutaan tahun yang lalu, leluhur kita mulai beralih dari kebiasaan reptil yang menentukan jenis kelamin keturunannnya berdasar temperatur lingkungan –dimana telur mereka diletakkan– menjadi penentuan secara genetik yang bisa lebih memberi kepastian.

Dalam perjalanan evolusinya, ada individu hasil mutasi dimana mutasi ini menghasilkan individu dengan kemampuan menentukan jenis kelamin keturunan secara genetik, mutasi kebetulan –makanya tidak berlebihan jika dibilang kecelakaan- ini yang memunculkan gen-gen penentu jenis kelamin pada nenek moyang kita dan diwariskan sampai sekarang sebagai kromosom Y.

Alasan evolusioner yang paling mungkin untuk peralihan itu adalah keuntungan dimana tiap jenis kelamin lebih bisa mulai berlatih untuk berbagi tugas khususnya masing-masing dalam urusan reproduksi.

Pada janin manusia –juga pada binatang menyusu (mamalia) lain– adanya gen-gen penentu jenis kelamin ini menjadikannya laki-laki, sedangakam ketidakhadiran gen akan membuat janin tetep perempuan.

Kehadiran gen-gen ‘pengganggu’ itu dengan segera menarik gen-gen lain yg bermanfaat bagi kelaki-lakian untuk mendekat dan terkspresi sebagai sifat yang muncul dan kelihatan dari luar. Misalnya gen yang mengubah ovarium (indung telur) jadi testis (zakar) atau mengubah klitoris menjadi penis sebagai ciri primer kelamin.

Derajat ‘gangguan’ yang ditimbulkan tidak seragam, sehingga bisa saja terjadi ada individu yang punya testis tapi juga memiliki uterus (rahim) dan penisnya kecil sekali hingga menyerupai klitoris. Variasi yang lain bisa saja terjadi saat pertumbuhan janin.

Sampai di sini, pengetahuan ilmiah menyuguhkan fakta bahwa jenis kelamin biologis manusia ternyata tidak hanya dua macam. Spektrumnya sangat luas antara perempuan ekstrem dan laki-laki ekstrem, seluas spektrum abu-abu yang berada antara hitam dan putih.

Gen-gen ‘pengganggu’ juga menarik gen-gen yang menghasilkan ciri kelamin sekunder misalnya gen untuk membangun otot kekar, ini memberi nilai tambah pada laki-laki sehubungan dengan tugasnya sebagai pemburu (pemasok makanan) serta pelindung dari musuh dan predator lain. Pada perempuan, gen-gen seperti gen otot kekar tidak diperlukan karena hanya akan menguras energi. Lebih baik kalau energinya dicadangkan untuk pengasuhan anaknya.

Gen-gen jenis kelamin biologis sekunder semacam itu mendekatkan diri ke jenis kelamin tertentu yang cocok. Dan gen yang berlawanan medekatkan diri ke jenis kelamin yang lain. Ini yang disebut dengan persaingan abadi antargen.

Akan tetapi, ‘gangguan’ yang ditimbulkan oleh gen-gen dalam kromosom Y ini tidak selalu ekstrem dan tidak seragam sehingga kelaki-lakian yang dihasilkan pun juga tidak seragam. Ini dikarenakan tertariknya gen-gen sekunder kelaki-lakian memang tidak sama pada tiap individu. Akibatnya adalah banyak individu yang ciri kelamin primer dan/atau ciri sekundernya tidak ekstrem laki-laki.

Hal ini bisa menjelaskan mengapa banyak cowok yang kecewek-cewekan, dan ini jauh lebih banyak dari pada cewek yang kecowok-cowokan. Ini bukan kelainan, tapi variasi normal. Secara sederhana, cowok yang kecewek-cewekan bisa dibilang sebagai individu yang ingin ‘kembali’ ke jenis kelamin asalnya. Lha wong memang asalnya perempuan kok.

Superioritas Perempuan. Kehadiran kromosom Y lah yang membuat laki-laki bisa berlari lebih cepat melempar lebih kuat dan melompat lebih tinggi, seperti semboyan olimpiade: citius fortius altius. Hanya saja, kromosom ini juga yang membuat laki-laki hanya jagoan kalau jadi ‘pelari sprinter’ dan kurang mampu jadi ‘pelari maraton’, tubuh laki-laki menjadi tidak memiliki fisik perempuan yang dirancang dan disiapkan untuk hidup tahan lama.

Kalau memang secara genetik perempuan lebih perkasa, mengapa dalam kehidupan masyarakat yang terjadi justru sebaliknya bahwa laki-laki dianggap lebih superior? Anggapan ini sebetulnya bukanlah dikarenakan alasan fisik atau genetik, tetapi lebih disebabkan alasan kultural kesejarahan.

Perempuan dianggap inferior karena dulu rata-rata perempuan berusia lebih pendek dari laki-laki. Sebagai contoh di Amerika Serikat. Pada tahun 1900, perempuan di negara itu rata-rata meninggal pada usia 49 tahun. Hal ini terutama dikarenakan proses melahirkan sangat beresiko menyebabkan kematian.

Sekarang, saat ilmu kesehatan dan kedoteran sudah berkembang sehingga resiko proses melahirkan tak ubahnya seperti resiko mencet jerawat, terbukti bahwa tubuh perempuan didesain untuk berusia lebih panjang ketimbang laki-laki.

(Ada juga sih orang mati gara-gara mencet jerawat, saking asiknya mencet-mencet jerawat di pingir jalan sampai tidak melihat ada truk nyelonong, ketabrak dan mati)

Sekarang pun kalau perempuan melahirkan kalau tidak mendapatkan pertolongan persalinan yang tepat, bisa berbahaya juga. Artinya, bukan proses melahirkannya yang mengakibatkan kematian, tapi penyulit yang bisa saja terjadi pada saat proses itu berlangsung.

Nah sekarang kita bahas orientasi seksual. Sama dengan nasib dua saudaranya, jenis kelamin dan gender, mitos dan labeling serta simplifikasi masih menyelimuti pengetahuan kebanyakan orang tentang orientasi seksual.

Para saintis sampai sejauh ini telah memberi sumbangan besar terhadap pemahaman yang kita miliki sekarang seputar perilaku seksual pada organisme hidup.

Biologi telah menghapus banyak kebingungan yang disebabkan oleh takhayul dan ketidakpastian pengetahuan sebelumnya mengenai cara kerja tubuh. Salah satunya adalah kebingungan kita tentang orientasi seksual individu yang sudah banyak diungkap oleh penelitian biologi dan neurosains dalam tiga dekade terakhir

Ada banyak variasi dalam otak kita yang menghasilkan perangkat sirkuit-sirkuit ketrampilan perilaku individual. Variasi genetis serta bekerjanya hormon-hormon yang ada di otak selama masa perkembangan janin menjadi fondasi bagi perbedaan sirkuit-sirkuit yang terbentuk.

Setelah lahir, pengalaman-pengalaman hidup akan mempengaruhi dan mengaktifkan sirkuit-sirkuit otak masing yang khas pada tiap individu, ini akan makin memperkuat berbagai perbedaan tersebut. Salah satu jenis variasi yang ada dalam suatu rangkaian sirkuit pada otak seksual adalah ketertarikan romantis atau yang disebut dengan orientasi seksual.

Struktur Otak. Orientasi seksual bukanlah masalah pemberian label diri secara sadar, tapi masalah struktur otak. Hal ini dibuktikan dengan banyak riset pada orang kembar yang menjelaskan adanya unsur genetis dalam orientasi seksual, baik pada laki-laki maupun perempuan.

Sistem saraf dan sirkuit-sirkuit di otak pra-kelahiran selalu terbuka dan terpapar oleh lingkungan hormonal yang jenisnya berbeda-beda bahkan berlawanan. Hal ini menyebabkam bermacam vasriasi orientasi seksual. Sebagai contoh otak yang secara genetis merupakam otak perempuan tapi karena terjadi testosteron mendominasi saat janin, maka sistem dan sirkuit itu akan berkembang ke jalur laki-laki.

Lingkungan hormonal pra-kelahiran ini menimbulkan dampak permanen pada ciri-ciri pelaku, salah satunya adalah ketertarikan seksual.

Ada riset yang bertujuan mengetahui hubungan antara identitas gender dan orientasi seksual utama dengan peren gender pada perempuan yg kadar testosteronn dalam rahim lebih tinggi. Perempuan dengan pola semacam ini ternyata perilaku bermain mereka di masa kecil lebih kelaki-lakian dibanding perempuan yang tidak terpapar testosteron dengan level yang tinggi. Pada perempuan ini juga didapatkan bahwa mereka lebih tertarik kepada sesama jenis dan lebih mungkin menjadi homoseksual atau biseksual.

Asal muasal dan pola munculnya homoseksualitas pada otak laki-laki berbeda dengan yang terjadi pada otak perempuan.

Pada awalnya, riset-riset tentang homoseksualitas hanya diarahkan kepada laki-laki sebagai obyek penelitiannya. Tapi akhir-akhir ini riset pada perempuan juga mulai banyak dilakukan. Dan sekarang kita tahu bahwa sirkuit orientasi seksual pada otak perempuan mempunyai rangkaian yang lebih rumit dibanding pada otak laki-laki dalam hal homoseksualitas

Kemampuan otak perempuan dalam hal ketrampilan verbal biasanya lebih unggul dibandingkan otak laki-laki. Tapi pada otak perempuan homoseksual memperlihatkan pergeseran seperti laki-laki dalam nilai kefasihan verbalnya.

Demikian juga dengan sirkuit orientasi seksual pada otak laki-laki. Didapatkan perbedaan struktur anatomi dan fungsional antara laki-laki yang gay dengan yang bukan gay.

Dick Swaab misalnya, dua dekade yang lalu menemukan bahwa ada area kecil di hipotalamus yang disebut sebagai suprachiasmatic nuclei (SCN) ternyata ukurannya dua kali lebih besar pada laki-laki homoseksual jika dibandingkan dengan SCN laki-laki heteroseksual

Atau Ivanka Savic dari Swedia yang melaporkan hasil penelitianya, dia melakukan pengamatan menggunakan pencitaraan Functional-MRI, didapatkan bahwa pola kerja otak laki-laki homoseksual lebih menyerupai respon otak perempuan.

Dengan Positron Emission Tomography Scanning, didapati konektivitas amigdala pada otak laki-laki homoseksual menyerupai kerja otak perempuan heteroseksual. Dan hipotalamus otak laki-laki homoseksual memberi respon positif dengan rangsangan aroma keringat laki-laki lain, sedangkan hipotalamus laki-laki heteroseksual tidak merespon sama sekali. Respon sirkuit hipotalamus yang bekerja di luar kesadaran manusia ini memainkan peran yg penting dalam terbentuknya orientasi seksual pada tiap individu.

Perbedaan-perbedaan tadi salah satunya disebabkan oleh perbedaan dalam reaksi testosteron terhadap otak manusia yang terus berkembang. Tapi testosteron bukanlah satu-satunya hormon yang berpengaruh dalam pembentukan sirkuit-sirkuit seksual di otak.

Temuan-temuan ilmiah di atas menunjukkan bahwa struktur otak baik laki-laki ataupun perempuan untuk orientasi seksual telah terbentuk selama perkembangan janin. Perkembangan otak janin ini mengikuti perencanaan gen-gen serta hormon-hormon tiap individu. Kemudian kerja struktur otak yang sudah terbentuk tersebut akan dikuatkan lingkungan saat individu menjalani hidupnya.

Sekarang kita bisa faham bahwa orientasi seksual seperti juga dengan gender dan jenis kelamin, bukanlah dikotomi seperti hitam-putih tapi merupakan spektrun layaknya abu-abu, variasinya sangat luas.

Dari riset-riset seputar orientasi seksual yang sudah dilakukan, kita mendapat satu gambaran bahwa variasi-variasi yang ada adalah konsekwensi akibat kerja otak yg berbeda. Dan orientasi seksual yang terbentuk merupaka resultante (hasil akhir) dari pertentangan antar gen dan pengaruh hormon-hormon di otak semasa janin

Berkat temuan-temuan ilmiah juga sekarang kita bisa tahu bahwa yang namanya jenis kelamin, gender, dan orientasi seksual adalah tiga hal yang terpisah. Merupakan variabel yang berdiri sendiri-sendiri, dan jika ketiga variabel ini dikombinasikan akan memberikan hasil akhir yang sangat bervariasi.

Seperti lagu ‘Sepatu’-nya Tulus, jenis kelamin, gender dan orientasi seksual ini seperti sepatu kanan dan sepatu kiri, selalu bersama tak bisa bersatu. Eh tapi sepatu kan cuma dua… (ya sudahlah, paling nanti saya dibilang #Tertulus).

Sumber: www.qureta.com

About Ryu Hasan

Dokter bedah syaraf yang tengah kecanduan genetika dan Biologi molekular

Check Also

Jangan Takut Dengan Feminisme, Bergabunglah!

Banyak orang yang masih kurang memahami feminisme. Jadi, kami merasa masih perlu untuk menjelaskannya berulang kali. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *