Home / Wacana / Laki-laki Baru, Feminisme Baru

Laki-laki Baru, Feminisme Baru

Saat ini, sedang terjadi perkembangan sangat menarik dan penting dalam gerakan feminisme, yaitu menguatnya pembicaraan tentang laki-laki. Perkembangan ini menandai gelombang baru dalam gerakan feminism (new wave of feminist movements). Jika pada periode-periode sebelumnya berkembang beberapa perspektif semisal women in development, women and development dan gender in development, pada gelombang feminisme baru ini berkembang cara pandang men in gender equality, laki-laki dalam agenda keadilan gender.

Banyak yang menilai, gerakan feminisme di negeri kita –mungkin juga di bagian lain— sedang mengalami kemandekan, khususnya dari segi elaborasi aktivisme dan intelektualisme. Meski belum mencapai kemajuan –mungkin karena itu pula terjadi kemandekan—pergulatan atas gagasan-gagasan semisal partisipasi politik dan publik perempuan, kemerdekaan tubuh dan seksualitas, antikekerasan terhadap perempuan, konsolidasi gerakan, hak asasi perempuan sebagai hak asasi manusia dan ide-ide lain dalam feminisme yang berkembang hingga saat ini seperti mati suri; kita mengalami kebosanan luar biasa untuk terlibat dalam perdebatan isu-isu itu.

Di lingkup feminisme Islam di mana saya banyak terlibat, kebosanan juga muncul di kalangan para aktivisnya yang merasa buntu dengan isu seputar antifundamentalisme dan konservatisme, rekonstruksi penafsiran dan pemahaman keagaman, partisipasi institusi agama dalam hak-hak perempuan, dan sebagainya. Sekali lagi, kebosanan bukan dikarenakan gagasan-gagasan itu telah terwujud. Alih-alih, kebosanan justeru karena kita buntu akal terhadap perkembangan yang stagnan. Lalu, kita berpikir keras tentang pembaruan (renewal) dalam gerakan feminism. Ya, sebagai gerakan sosial-pemikiran, feminisme membutuhkan penyegaran dan pembaruan itu.

Wacana laki-laki dalam agenda keadilan gender berkembang menjadi salah satu alternatif jalan pembaruan dan penyegaran. Apakah gagasan ini benar-benar baru? Tentu saja tidak. Inisiatifnya sudah berkembang 5-10 tahun terakhir ketika berbagai organisasi perempuan mulai mengundang laki-laki dalam kegiatan-kegiatan yang mereka fasilitasi. Sebagai sebuah gerakan sosial-pemikiran, laki-laki dalam agenda keadilan gender masih merupakan wacana baru, meski akarnya tumbuh bersama pemikiran-pemikiran feminisme sebelumnya.

Dengan perspektif gender in development, agenda keadilan gender dalam gerakan feminisme menyiratkan kesadaran adanya relasi kuasa yang njomplang dalam hubungan gender antara laki-laki dan perempuan, yang selanjutnya menjadi faktor utama ketidakadilan gender dan kekerasan gender. Dengan gender in development, para feminis berhasil melampaui persoalan utama relasi kuasa yang melahirkan ketidakadilan dan kekerasan berbasis gender yang “gagal” disentuh perspektif women in/and development. Tapi, tentu saja, tidak akan ada gender in development tanpa women in/and development itu.

Yang sudah dicapai dari berbagai gelombang gerakan feminisme itu merupakan fondasi penting untuk melanjutkan gerakan ini ke suatu wacana laki-laki dalam agenda keadilan gender, men in gender equality. Dalam kata lain, saya sependapat dengan argumentasi bahwa gerakan laki-laki baru dalam agenda keadilan gender lahir sebagai “anak kandung” dari gerakan feminisme. Dalam hal ini, mustahil akan muncul laki-laki yang memiliki perspektif gender lalu muncul men in gender equality dalam suatu vacuum of history, tanpa konteks sosio-historis baik di internal maupun eksternal gerakan feminisme. Haruskah kita memusuhi anak kandung sendiri?

Dalam argumen ini tersirat satu poin tentang “laki-laki yang diabaikan atau dilupakan” (the forgotten men) dalam gelombang feminisme tempo doloe. Pada masa itu, laki-laki adalah bagian luar dari gerakan feminisme; laki-laki bahkan diposisikan sebagai musuh dalam selimut (enemy in bed), target perlawanan. Gerakan laki-laki dalam agenda keadilan gender yang merupakan tanda gelombang baru feminisme adalah upaya “mengingat kembali lelaki yang diabaikan dan dilupakan” itu. Laki-laki tidak lagi menjadi bagian terpisahkan dari cita-cita menghadirkan keadilan dalam relasi gender, baik sebagai target pendekatan maupun partner gerakan (partner of movement). Di sinilah gerakan laki-laki baru menjadi penanda perubahan dalam gerakan feminisme, dari gerakan lama ber-“idelogi” enemy in bed ke gerakan baru yang berperspektif partner of movements.

Gerakan laki-laki baru juga menegaskan lagi cita-cita utama feminisme (baru), yaitu meruntuhkan dominasi dan mewujudkan keadilan dalam hubungan gender di berbagai ruang, baik domestik maupun publik. Gerakan laki-laki baru menjadi penjaga batas cita-cita feminisme agar tidak terperosok dalam model dominasi yang lain. Gerakan laki-laki baru juga penting dalam melakukan perubahan “ideologi” feminisme (lama) yang masih diselimuti mitos dan sterortipe baik tentang perempuan maupun laki-laki, termasuk stereotipe laki-laki sebagai enemy in bed itu. Ideologi lama itu sedikit banyak telah menghambat pencapaian cita-cita feminisme, minimal dari fakta kuatnya stigma terhadap feminisme sebagai gerakan eksklusif perempuan “pemberontak” yang membuat kelompok laki-laki lebih “memilih” jalan memusuhi gerakan ini dan menjadi pelaku ketidakadilan dan kekerasan gender daripada menjadi partner dalam keadilan gender.

Kembali ke soal kebuntuan dalam wacana feminisme, gerakan laki-laki menantang pemikiran dan aktivisme kita. Masih banyak soal yang harus dielaborasi, tak hanya terkait pentingnya menyentuh laki-laki pelaku (male abuser) sebagai cara baru memutus lingkaran kekerasan, tapi juga seputar konsep menjadi laki-laki (masculinity) yang sementara ini masih didominasi kajian psikologi dan belum banyak dihubungkan dengan ketidakadilan gender.

Bagian dari hal yang sangat penting dan menantang untuk terus didebatkan dan didiskusikan adalah aturan main (code of conduct) gerakan laki-laki baru agar benar-benar strategis bagi upaya mewujudkan keadilan gender. Keterbukaan menjalin jaringan kerja dengan berbagai gerakan satu visi menjadi salah satu kunci, termasuk dengan kelompok perempuan. Membentuk sebuah aliansi laki-laki (baru) merupakan alat kontrol efektif agar para lelaki (baru) itu bisa saling mengingatkan satu sama lain saat koleganya mulai melenceng dari cita-cita keadilan gender itu, semisal mulai tertarik melakukan poligami atau melazimkan kekerasan dalam rumah tangga….

About Farid Muttaqin

mahasiswa doktoral di Departemen Antropologi, State University of New York (SUNY)-Binghamton University, Amerika Serikat; pernah bergabung bersama PUAN Amal Hayati dan UN Women (UNIFEM) Indonesia ; dan aktif dalam Aliansi Laki-laki Baru dan gerakan maskulinitas baru di Asia Tenggara dan Asia Timur. Kontak: fmuttaq1@binghamton.edu

Check Also

Jangan Takut Dengan Feminisme, Bergabunglah!

Banyak orang yang masih kurang memahami feminisme. Jadi, kami merasa masih perlu untuk menjelaskannya berulang kali. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *