Home / Wacana / Marjinalisasi Perempuan Dalam Musik: Dosa Laki-laki atau Industrinya?

Marjinalisasi Perempuan Dalam Musik: Dosa Laki-laki atau Industrinya?

Di jagat industri musik Indonesia, bertebaran lagu-lagu dengan tema selingkuh, cinta segitiga, atau poligami. Sedihnya adalah, nyaris semua lagu yang ada itu, menjadikan perempuan sebagai korban atau sosok yang diduakan, disakiti dan ditinggalkan. Apakah pemahaman soal perspektif gender di kalangan musisi menjadi tidak penting lagi atas nama popularitas?

+++

MEMANG tak mudah menjadikan stigma yang sudah mengakar, meskipun salah, dalam sekejab menjadi benar. Perlu kajian-kajian dan pemikiran panjang selain diskusi yang rumit. Tapi sebenarnya, kita bisa dengan mata telanjang melihat bagaimana posisi perempuan dalam konstruksi industri musik di Indonesia. Mungkin secara tidak sadar, musisi-musisi itu melakukan pelecehan dengan dalil ‘yang disukai’ dan ‘liriknya langsung menohok’. Untuk siapa?

Permasalahan gender pada hakikatnya membentuk interaksi sosial. Melalui interaksi dengan banyak orang, lahirlah sebuah produk dari gender yang disebut identitas. Maka interaksi sosial adalah tempat yang penting karena di sinilah peran gender tumbuh dan diterapkan

Mungkin persoalannya tidak sedramatis itu di Indonesia, tapi kalau kita perhatikan lebih peka dan tajam, kecenderungan untuk berdiam diri dan kemudian mengangguk lantaran industri maunya begitu, kerap terjadi pada musisi, laki-laki dan perempuan. Perempuan sebagai pihak yang sejatinya “diperlakukan” kurang semestinya pun, tak responsif dengan hal itu. Ketika “memberontak” risikonya adalah keluar dari industri mainstream itu.

Baiklah, kita menoleh sesaat ke luarnegeri. Mengutip data lembaga Dekonstruksi Lagu Hits (Deconstructions Hits Songs), persoalan gender di antara vokalis pada 2011 kian menyusut. Seperti disadur dari Hollywoodreporters, hal terpenting yang perlu dicatat para pencipta dan pemasok musik adalah isu gender, dimana menentukan vokalis utama dalam sebuah band tidak lagi penting. Sebab, masalah gender telah menyusut dan kini hampir setara.

Setahun lalu, suara penyanyi pria terdapat pada 57 persen lagu hits, saat ini perbandingannya mencapai 46 persen [penyanyi pria] dan 42 persen (penyanyi perempuan), serta 12 persen untuk pasangan duet. Ketika pendengar musik tampaknya tertarik pada tema lagu yang tidak berbau seksualitas, lagu-lagu tersebut hanya dipilih sembilan persen pada 2010 lalu. Untuk itu, menyingkirkan perbedaan gender pun patut dipikirkan.

Bagaimana implementasinya di Indonesia? Sekarang nyaris semua musisi mencipta lagu bertema selingkuh, cinta segitiga dan menyakiti (perempuan). Sebuah kegagalan melihat perempuan sebagai sosok yang seharusnya mendapat tempat yang lebih mumpuni dan terhormat. Secara etimologis, kata “perempuan” disadur dari per-empu-an. Yang makna harafiahnya adalah seseorang yang dihormati karena memang punya kehormatan dan keahlian. Makanya pula, kata wanita mulai pelan-pelan jarang digunakan.

Musik atau lagu juga termasuk produk media yang tidak lepas dari nilai­nilai budaya patriarki, terutama dalam merepresentasikan perempuan, seperti yang kerap ditemukan pada lagu­-lagu yang menjadikan perempuan sebagai obyek acuannya.

Dalam menggambarkan sosok perempuan, seorang penulis lirik lagu seringkali dipengaruhi oleh nilai­-nilai yang ada di dalam masyarakatnya. Secara sadar atau tidak, penulis lirik lagu akan menghadirkan perempuan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan dari lingkungannya.

Jika masyarakat yang melingkupinya dipengaruhi oleh ideologi patriarki dalam memandang sosok perempuan, maka dapat dipastikan hal itu pula yang akan hadir dalam lirik lagu yang dituliskannya. Dan apabila hal ini dibiarkan, maka lirik lagu dapat pula menjadi kontribusi hegemoni yang terus melanggengkan nilai­-nilai budaya patriarki itu.

Kehadiran nilai­-nilai budaya patriarki dalam sebuah lirik lagu kurang mendapat perhatian masyarakat. Alasan yang mungkin bisa dikaitkan dengan kondisi ini, antara lain: kehadiran lirik lagu yang diiringi oleh alunan musik lebih ditempatkan sebagai sarana hiburan saja oleh sebagian besar masyarakat, sehingga makna yang terkandung dalam lirik lagu kurang diperhatikan secara seksama. Merujuk pada kondisi tersebut, maka perlu adanya suatu perhatian khusus pada keberadaan lirik­-lirik lagu, terutama yang menghadirkan perempuan sebagai obyek.

Di level dunia atau Eropa katakanlah, persoalan itu juga masih mengemuka. Di Inggris misalnya, penelitian terakhir yang dilakukan The Guardian, salah satu media terkemuka di London, menemukan fakta bahwa perempuan hanya 34 persen masih bekerja di belakang layar. Artinya sekitar 66 persen adalah laki-laki yang mendominasi. Isu seksisme sampai sekarang juga masih merebak di negara-negara besar seperti Amerika Serikat, meskipun persentasenya makin menurun.

Perspektif Gender di Kalangan Musisi (Indonesia)

Musik bukanlah bahasa konvensional seperti bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Cina, dan lain-lain. Namun sebagai sebuah sistem yang mampu mewakili suasana, perasaan, bahkan gagasan, musik mampu melampaui bahasa konvensional dalam menyampaikan apa yang dikandungnya secara universal. Sayangnya, masih kerap terkungkung dengan budaya patriarkhi yang amat kuat.

Nilai dan mitos yang di bangun atas dasar ideologi patriarki tersebut tertanam bertahun-tahun dalam pikiran dan kehidupan. Ini menyebabkan setiap tindakan budaya, termasuk penciptaan karya musik dipengaruhi oleh ideologi tersebut. Lagu-lagu yang tercipta karena terinspirasi sosok yang dibicarakan oleh pencipta lagu. Jarang ada lagu yang menempatkan perempuan sebagai subjek pencerita didalamnya

Lalu siapa musisi yang tidak punya kualitas pemahaman tentang gender yang memadai? Kalau bicara sosok, sejatinya nyaris semua pencipta lagu yang masuk industri (apalagi yang kemudian diperbudak industri), punya “dosa” yang sama. Mereka tidak pernah peduli bagaimana rasanya menjadi perempuan yang menjadi objek. Coba bayangkan, bagaimana bisa membuat lagu tentang ‘Madu Tiga’ sementara banyak perempuan di luar sana menjerit karena ketidakadilan poligami.

Kemudian apa rasanya menjadi ‘yang kedua’ yang begitu bangga didengungkan oleh seorang penyanyi yang notabene perempuan juga? Sadarkah dia, bahwa penciptanya adalah laki-laki? Cobalah bertanya, apakah ketika mencipta lagu itu, dia memosisikan sebagai perempuan atau sebagai laki-laki yang digilai banyak perempuan?

Mengingat latar belakang ini, untuk berbicara tentang “kesetaraan” antara perempuan dan laki-laki hanyalah cara menipu diri sendiri dan berakhir dalam lingkaran setan. Perilaku sosial soal kesetaraan ini tidak memecahkan masalah, tetapi bukan cara baru yang memungkinkan orang untuk melegitimasi kekuasaan mereka atau peran utama mereka ke tingkat yang lebih besar. Reformasi yang tidak sunggguh-sungguh ini akan memengaruhi sudut pandangan musisi dan pelaku seni dan budaya.

Apakah perspektif gender menjadi penting dalam ranah industri musik Indonesia? Kesannya kok merepotkan hal-hal yang tidak signifikan? Pertanyaan ini bermunculan saat penulis menyampaikan ide untuk memberi wacana gender dalam setiap lagu atau lirik yang diciptakan. “Bagaimana lagi, tema seperti yang disukai dan mudah diterima masyarakat,” celetuk seorang anak band papan atas, yang nyaris semua lagunya bicara soal selingkuh, meninggalkan dan mencampakkan, meski dalam kemasan pop yang manis.

Atau celetukan seorang popstar yang terkenal dengan arogansinya. “Kalau saya mau kawin sekali, dua kali atau tiga kali, seperti lagu yang saya nyanyikan, memang ada yang melarang?” Sebuah pernyataan yang tidak mengejutkan ketika dilontarkan olehnya. Tapi ini cukup memberi pemahaman, bahwa pengertian dan pengetahuannya tentang gender dalam lirik lagunya, ternyata minim.

Belum lagu lagu-lagu lain yang mayoritas bicara soal perselingkuhan –yang sedihnya dihapal oleh anak-anak. Bagaimana memberi pemahaman kepada anak-anak tentang apa artinya menjadi “yang kedua?” atau bagaimana memaparkan kepada bocah belasan tahun, arti dari “Madu Tiga?”. Bukan tidak ada lagu lain, tapi contoh yang saya berikan adalah lagu-lagu yang demikian populer dan sudah akrab ditelinga penikmat musik Indonesia.

Menyebut campursari salah satu musik rakyat yang populer di pinggiran Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur atau Pantura, adalah salah satu wilayah musikal yang terang-terangan banyak lirik lagunya “melecehkan perempuan” dalam segala atributnya. Diakui atau tidak, perempuan sebagai objek, kadang-kadang memberi penguatan stigma itu dengan perilaku atau ikut menyanyikan lagu yang sebenarnya menjatuhkan harga dirinya itu. Berkilah bahwa lirik seperti itu justru mengangkat dan memberi popularitas? Kalau harus merobek-robek harga diri sebagai perempuan, apakah sebanding?

Musisi Perempuan Mendobrak

Lalu bagaimana dengan musisi perempuan yang dianggap tersubordinasi laki-laki itu? Dengan banyak cara, entah lewat attitude, fashion dan lirik lagu, mereka –para perempuan—tentu tak tinggal diam dengan hal itu. Bukan untuk sekadar menuntut kesetaraaan, tapi juga memberi sebuah “peringatan” mereka bisa melakukan apa yang dilakukan oleh laki-laki, di industri musik ini.

Musisi perempuan masih belum memperoleh kepercayaan dari pihak luas dikarenakan antara lain hampir sebagian masyarakat menganggap perempuan wajib patuh kepada pria, perempuan tidak boleh menggantikan peran pria di dalam suatu kegaiatan, perempuan hanya wajib mendidik anak agar bertumbuh menjadi pribadi yang baik.

Apabila dikaitkan dengan teori feminisme liberal yang menyatakan bahwa perempuan harus diperlakukan sama dengan kaum laki-laki dan perempuan sama rasionalnya dengan laki-laki. Penganut prinsip ini menentang asumsi inferioritas perempuan dan wajib memberdayakan perempuan untuk berkompetisi di dunia nyata. Prinsip yang ditawarkan ini menjadi penguat bahwa perempuan sebenarnya adalah subjek yang harus dilindungi manakala terjadi perbuatan yang merendahkan martabatnya. Termasuk perlindungan atas lirik yang “menyakitinya” tentu saja.

Nah, berkaca dari hal-hal seperti itu, musisi perempuan Indonesia pun membuat lagu yang secara kasat mata berlirik ketegaran dan tidak mau disakiti apalagi dilecehkan. Maia dan Mey Chan salah satunya. Entah karena pernah disakiti laki-laki atau memang seorang feminis diam-diam, Maia Estianty dalam beberapa lagu-lagunya terang-terangan menggugat stereotype laki-laki. Misalnya dalam lagu ‘Lelaki Buaya Darat’. Secara lugas, Maia menggempur kubu laki-laki yang biasanya seenaknya kepada perempuan. Mesti realitas itu ada dalam masyarakat, Maia mencoba mengangkatnya lagi. Hmm, tapi apakah harus mengalami tersakiti dulu baru bisa menulis lagu-lagu seperti itu?

Hal itu jelas dibantah oleh Oppie Andaresta. Vokalis perempuan yang sudah malang melintang di jagat musik Indonesia sejak tahun 90an ini. Banyak musisi perempuan yang sebenarnya secara kualitas lagu dan lirik sangat bisa dipertanggungjawabkan. Termasuk dari sisi perspektif gender dan memberi arti kepada perempuan itu sendiri.

Jumlah musisi perempuan di Indonesia, kata Oppie, sangat berkembang pesat akhir-akhir ini. Namun sayang tak semua bisa tereksposemedia. Pelantun Happy,ini, menuturkan, perempuan Indonesia punya bakat musik yang luar biasa jika mampu digali dengan serius.

“Musisi perempuan sekarang itu punya potensi yang luar biasa, karena sisi musik perempuan sekarang itu gila-gila banget,” kata Oppie. Oppie mengatakan ide-ide gila banyak bermunculan dari para musisi indie perempuan saat ini seperti Tika, Bonita, Jemima dan lainnya. Namun ibu satu anak ini pun mengakui jika idealisme mereka sangat tinggi untuk bisa masuk industri musik. “Tapi mereka itu saking idealisnya makanya mereka susah untuk masuk ke industri musik. Menurutku mereka gila-gila secara vokal dan karya dan karakter kuat. Sayangya, mereka tidak terdengar nyaring,” ujarnya.

Selain itu ada nama Melanie Subono yang getol ‘berteriak’ soal hak perempuan pada lagu-lagunya. Sebagai seorang musisi perempuan, Melanie Soebono sangat peduli dengan kehadiran musisi wanita. Dia menilai, musisi wanita memiliki kelebihannya sendiri.

Anggapan perempuan hanya bisa diam di dapur, baginya merupakan anggapan yang salah. “Perempuan itu bermusik bukan hanya memiliki penampilan. Tapi mereka bisa bernyanyi dan menghasilkan karya,” ujar anak kandung promotor Adri Subono dalam sebuah acara. Harapan untuk semakin banyak lagi musisi perempuan menyemarakkan industri musik Indonesia menjadi impian Melanie. Baginya perempuan harus lebih berani menunjukkan diri bahwa mereka bisa berkarya dan tidak hanya berlindung dibalik sosok laki-laki saja.

Apa yang digagas oleh Melanie ini, diamini oleh Tere. Perempuan yang pernah duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ini melihat, perempuan tetap harus menghasilkan karya yang apik. “Dalam konteks filosofi musik, saya kita setiap musisi perempuan yang mencoba peruntungannya dalam berkarya di industri musik Indonesia tidak boleh lupa dengan akar musik itu sendiri. Musik sebagai napas ekspresi, ruang untuk orisinalitas nilai rasa,” terangnya dalam perbincangan dengan penulis. Tere juga memberikan masukan kepada para musisi perempuan, menurutnya perempuan harus mampu menempatkan diri sebagai mitra yang sejajar dengan kaum Adam.

Menurut Tere, dirinya bangga sebagai perempuan yang punya talenta bisa membuat lagu. Selama berkarier di dunia musik walaupun ia seorang perempuan, belum pernah ada yang ‘memarjinalkan’ dirinya. Padahal, Tere dikelilingi musisi laki-laki. Justru bagi Tere adalah sulitnya membongkar paradigma media, karena masih ada yang memosisikan seolah musisi perempuan cuma bisa menjual ‘kemasan’ saja.

“Jarang pertanyaan tentang proses produksi sebuah karya ditujukan secara spesifik, lebih banyak nanya bajunya apa, salonnya di mana,” kata Tere geleng-geleng kepala.

Epilogus

Tentu akan jadi perdebatan ketika musisi laki-laki dituding tidak punya perspektif gender. Apalagi kalau kemudian ada embel-embel meminta mereka paling tidak membaca dan memahami soal itu. Industri, realita dan idealisme memang tidak selalu berjalan seiring. Meski itu harus mengorbankan pihak yang dianggap tidak menguntungkan, katakanlah itu perempuan. Eksploitasi fisikal masih jadi dominasi. Ketika bicara karya, perempuan masih (ini sudah abad 21 loh), termarjinalkan. Satu quotedari seorang anggota Mapala UI rasanya perlu dipikirkan, “Hidup harus lebih dari sekadarnya.” Perempuan, engkau bisa lebih dari sekarang.

#dimuat juga di blog pribadi: airputihku.wordpress.com

About Djoko Moernantyo

Alumni IISIP Jakarta dan STF Driyarkara, Jakarta. Jurnalis, dan sudah menulis 3 buku. Penyuka musik metal, novel & film thriller, sejarah, filsafat dan wayang. Agnostik, Cinta Klepon dan Cenil.

Check Also

Jeruji itu Bernama RKUHP dan Kita Semua Terpenjara di Dalamnya

Agaknya hampir mustahil untuk mendeskripsikan Indonesia dalam satu penjelasan sederhana. Betapa tidak? Indonesia merupakan negara-bangsa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *