Home / Wacana / Menjadi Ayah, Pilihan atau Kebetulan?

Menjadi Ayah, Pilihan atau Kebetulan?

Beberapa waktu lalu, saat saya tinggal di sebuah kompleks perumahan cukup elite di Ibu kota, setiap sore saya sering memperhatikan aktivitas anak-anak kecil seusia balita yang sedang bermain-main sambil disuapi oleh babysitter-nya atau ibunya. Jarang sekali saya melihat anak-anak itu terlihat bermain bersama ayah-ayah mereka, apalagi disuapi oleh ayah mereka. Entahlah bagaimana dengan aktivitas di dalam rumah seperti mandi atau menidurkan, mungkin saja ayah-ayah mereka melakukannya. Atau mungkin saja tidak (sempat)? Hehe…

Tapi seingat saya sewaktu kecil, saya dan adik-adik saya pun lebih banyak disuapi dan dimandikan oleh Ibu. Entah bagaimana sejarah dan awal mulanya hingga akhirnya pembagian tugas pengasuhan antara ayah dan ibu yang secara umum terjadi adalah: tugas-tugas ganti popok, memandikan, menyuapi adalah tugas ibu, sedang ayah biasanya tinggal menemani anak-anaknya bermain setelah mereka sudah dimandikan dan disuapi (oleh Ibu). Salah satu pemicu pola tersebut mungkin juga karena pola umum yang terbentuk secara sosial adalah; Ayah sudah bekerja, banting tulang cari uang, ayah yang cari uang beli susu, popok, bayar asuransi. Jadi seolah-olah tugas ayah selesai dalam hal pengasuhan, sementara yang lain-lain harus jadi tugas Ibu.

Tetapi sekarang mungkin pola sosial tersebut juga mulai bergeser, perempuan pun banyak yang juga memilih untuk bekerja. Artinya dalam hal ini peran-peran perempuan dan laki-laki semakin sama rata, pun seharusnya dalam hal pengasuhan terhadap anak. Tugas-tugas menggendong, mengganti popok, menyuapi, memandikan pun mestinya menjadi tugas bersama yang dibagi rata antara ayah dan ibu. Paradigma bahwa peran Ibu sebagai kunci utama keberhasilan tumbuh kembang anak pun mulai banyak bergeser, peran laki-laki sebagai Ayah dapat dikatakan tidak kalah pentingnya. Telah banyak juga penelitian yang memberikan kajian bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak dapat berdampak positif bagi tumbuh kembang anak.

Keterlibatan dalam hal ini tidak hanya sekedar sebagai penyedia sumber daya materi, melainkan keterlibatan langsung secara emosional dan fisik. Keterlibatan Ayah dalam pengasuhan adalah mengenai seberapa besar usaha yang dilakukan oleh seorang ayah dalam berpikir, merencanakan, merasakan, memperhatikan, memantau, mengevaluasi, perkembangan anaknya (Palkovitz, 2002). Pada perspektif anak, keterlibatan ayah adalah terkait dengan ketersediaan kesempatan bagi anak untuk melakukan sesuatu bersama Ayah, kepedulian yang diberikan oleh Ayah, dan adanya dukungan, serta rasa aman. Lebih jauh, Lamb, dkk (dalam Palkovitz, 2002) merumuskan konsep keterlibatan ayah dalam 3 komponen, yaitu:

  1. Paternal engagement: adalah pengasuhan yang melibatkan interaksi langsung antara ayah dan anaknya, misalnya mengganti popok, meyuapi anak, memandikan, bermain bersama, mengajarkan aktivitas tertentu, atau aktivitas santai lainnya.
  2. Accessibility or Availibility: adalah aksesibiltas atau ketersediaan waktu yang dapat diakses anak di tengah aktivitas utama Ayah. Dalam hal ini tidak selalu ada interaksi langsung, sekadar memberikan perhatian saat anak menangis atau marah, dan hal-hal lain terkait memfasilitasi emosi-emosi anak pada saat dibutuhkan saja.
  3. Responsibility: adalah bentuk keterlibatan ayah dengan mengambil tanggung jawab kesejahteraan anak agar mendapat perawatan dan perkembangan yang optimal, seperti perencanaan-perencanaan untuk pendidikan dan kesehatan anak

Meski demikian tidak jarang saya melihat, ayah-ayah di beberapa kelas sosial tertentu enggan untuk terlibat secara paternal engagement. Entah karena gengsi atau merasa itu adalah tugas Ibu, atau memang tidak percaya diri melakukan penggantian popok, memandikan menyuapi, karena tidak jamak terjadi laki-laki melakukan hal tersebut.

Padahal Ayah yang melibatkan diri dalam pengasuhan baik secara langsung maupun tidak langsung memberikan sejumlah dampak positif bagi perkembangan anak. Perkembangan kognitif dan kompetensi sosial dari anak-anak sejak dini banyak dipengaruhi oleh kelekatan, hubungan emosional, serta ketersediaan sumber daya yang diberikan oleh ayah (Hernandez & Brown, 2002). Anak yang mendapatkan keterlibatan ayah secara penuh juga akan memiliki kemampuan sosial dan kognitif yang baik, serta kepercayaan diri yang tinggi (Palkovitz, 2002). Hal ini terjadi bila ayah dapat mengembangkan model pengasuhan yang positif, apresiatif, dan responsif. Sebaliknya, keterlibatan akan menimbulkan efek yang negatif apabila dalam praktek pengasuhannya, ayah menunjukkan perilaku negatif, seperti memberikan hukuman fisik, tidak memberikan apresiasi, dan tidak menunjukkan kepedulian. Keterlibatan ayah dalam kehidupan anak juga berkorelasi positif dengan kepuasan hidup anak dan kebahagiaan anak (Flouri, 2005). Hal ini menunjukkan bahwa peran Ayah berpengaruh besar bagi kesehatan dan kesejahteraan psikologis anak. Dalam dampak jangka panjang, keterlibatan ayah dalam pengasuhan akan menghasilkan anak yang tumbuh dengan prestasi akademik serta ekonomi yang baik, kesuksesan dalam karir, dan pencapaian pendidikan terbaik (Flouri,2005).

Menjadi ayah akhirnya terlihat menjadi semakin begitu beratnya. Untuk itulah menjadi seorang ayah dibutuhkan persiapan-persiapan, mulai dari pengetahuan hingga kemampuan teknis tertentu (seperti cara memandikan bayi, cara mengganti popok). Maka menjadi ayah haruslah menjadi pilihan, bukan kebetulan. Ayah adalah posisi strategis dalam institusi keluarga, selain harus membuat rencana-rencana jangka panjang untuk memastikan kesejahteraan anak di masa depan, namun terlibat langsung dalam proses tumbuh kembang anak di setiap detiknya menjadi hal yang sangat penting. Namun, kesadaran mengenai hal tersebut baiknya tidak hanya dimiliki oleh Ayah atau laki-laki saja, perempuan atau Ibu perlu menyadari pula hal tersebut. Ibu harus dapat memberikan kesempatan pada Ayah untuk turut terlibat dalam pengasuhan anak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Seperti diungkapkan oleh Hoghughi (2004) bahwa salah satu prasyarat dalam memberikan pengasuhan terhadap anak adalah adanya kesempatan. Maka, distribusi peran yang seimbang antara Ayah dan Ibu perlu sekali untuk didiskusikan bersama-sama sebagai orangtua, agar ayah dan ibu mendapat kesempatan yang sama dalam pengasuhan. Dan pastinya agar anak mendapatkan akses sumber daya yang seimbang pula dari Ayah maupun Ibunya. Oleh karena itu, peran Ayah dan Ibu sama pentingnya bagi optimalisasi tumbuh kembang Anak di masa depan mereka.

Referensi

  • Flouri, E. (2005). Fathering and child outcomes. West Sussex, England: John Wiley & Sons Ltd.
  • Hoghughi, M. (2004). Parenting – An Introduction. In M. Hoghughi, & N. Long, Handbook of Parenting: Theory and Research for Practice (pp. 1-18). London: Sage.
  • Palkovitz, R. (2002). Involved fathering and child development: Advancing our understanding of good fathering. In CS. Tamis-LeMonda & N. Cabrera (Eds.), Handbook of father involvement: Multidisicplinaryperspectives (pp. 119 – 140). Mahwah, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates.

About Farah Rizkiana

merupakan lulusan Magister Sains Terapan Psikologi Intervensi Sosial Universitas Indonesia (UI) yang saat ini bekerja sebagai asesor, pengajar, dan konsultan pengembangan SDM di Jakarta

Check Also

Kepemimpinan Perempuan, Belajar dari Desa

Ketika saya menjadi bagian dari anggota DPN (Dewan Pengawas Nasional, red) Perserikatan Solidaritas Perempuan tahun …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *