Home / Wacana / Perempuan Dalam Mata Rantai Pelecehan

Perempuan Dalam Mata Rantai Pelecehan

Membaca sebuah artikel yang membahas tentang catcalling, membuat saya teringat tentang pelecehan yang dialami oleh kawan saya. Yang paling menyedihkan dari kejadian tersebut adalah pertama pelecehan tersebut terjadi di kampus -yang dianggap tempatnya orang-orang intelek- , dan yang kedua pelakunya tak lain adalah para mahasiswa (laki-laki tentu saja) yang notabene mengenyam pendidikan tinggi dan dianggap sebagai calon pemimpin bangsa(t)

Kejadiannya berlangsung pada September tahun lalu, di sebuah ruangan yang dinamakan ruangan seminar utama. Waktu itu saya dan banyak mahasiswa lainnya yang merupakan calon wisudawan periode September sedang melakukan gladi resik wisuda yang akan dilaksanakan esok lusa. Gladi resik diadakan agar calon wisudawan mengetahui prosesi wisuda mulai dari awal hingga akhir serta lokasi tempat duduk wisudawan pada saat berlangsungnya wisuda nanti.

Sebelum gladi dimulai, panitia wisuda memberikan pengarahan kepada para calon wisudawan untuk menempati tempat duduk yang memang telah diatur posisinya. Supaya kondisi tetap kondusif maka panitia memutuskan untuk memanggil satu per satu nama, baru kemudian nama yang bersangkutan bisa segera menempati tempat duduk yang memang disediakan untuknya. Dan pada momen inilah, kawan saya mendapatkan perlakuan yang sama sekali tidak mengenakan.

Kawan saya sebut saja namanya D. Ketika namanya disebutkan oleh panitia ia dengan segera berdiri dan beranjak menuju tempat duduk yang telah disediakan untuknya. Tetapi pada saat bersamaan banyak calon wisudawan laki-laki yang dengan kurang ajarnya memanggilnya dengan nada menggoda, disertai siulan dan riuh tepuk tangan. Bahkan ada juga yang sampai memanggilnya dengan sebutan sayang. Saya tidak tahu persis apa yang dirasakan oleh kawan saya saat itu. Tapi saya berani mengambil kesimpulan ia merasa kaget serta malu bukan main. Semua itu bisa dilihat dari wajahnya yang memerah serta ada senyuman kecut yang tersungging di wajahnya.

Melihat kejadian itu saya sedih sekaligus marah pada saat yang bersamaan. Sedih karena kawan saya mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan, marah karena saya sebagai seorang kawan terlalu pengecut untuk membelanya dan lebih memilih untuk diam.

Apa yang dialami oleh kawan saya tersebut biasa disebut dengan catcalling. Catcalling adalah tindakan menggoda , melecehkan serta memanggil-manggil perempuan dengan tendensi seksual dan digunakan untuk merendahkan mereka. Sayangnya tindakan catcalling sudah terlanjur dianggap biasa oleh kebanyakan masyarakat kita. Buktinya para mahasiswa laki-laki yang menggoda kawan saya itu, justru terlihat senang dan bisa tertawa dengan leluasa, tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Contoh lain misalnya, kita tidak asing bukan dengan situasi dimana ada seorang perempuan sedang berjalan sendirian di trotoar misalnya, kemudian ia digoda dan dipanggil sayang, cantik, atau sejenisnya oleh sekelompok laki-laki asing? Tapi apakah ada rasa bersalah pada raut wajah pelaku ketika mereka melakukan catcalling? Tidak. Mereka justru tertawa bangga.

Dalam banyak kasus catcalling kita juga seringkali menjadikan perempuan sebagai pihak yang paling disalahkan, alih-alih memperlakukan mereka sebagai korban yang harus dilindungi dan dibela. Itulah budaya patriarki.

Perempuan dianggap terlalu seksi dalam berpakaian sehingga menonjolkan salah satu bagian tubuhnya yang kemudian dianggap sebagai tanda bahwa ia memang suka digoda , dibilang seksi atau sejenisnya. Jadi pantas saja jika ada yang melakukan catcalling yang ditujukan kepadanya . Itu karena salah perempuan sendiri, kenapa tidak berpakaian yang sopan? Kenapa berpakaian yang ketat? Kenapa memakai rok mini ?

Pendapat seperti itu hanya bisa dikeluarkan oleh manusia-manusia purba yang belum berevolusi sepenuhnya. Mungkin mereka masih berbentuk setengah kera. Karena pada kenyataannya tindakan pelecehan tidak memandang bulu serta busana.

D, kawan saya itu misalnya, saat catcalling terjadi ia tidak berpakaian seksi, seronok ataupun memberikan tanda-tanda ingin digoda. Sebaliknya ia berpakaian tertutup, berhijab, serta sikapnya kalem cenderung diam. Tapi nyatanya ia tetap menjadi sasaran catcalling.

Harus diakui ada yang salah pada peradaban kita. Budaya patriarki yang telah lama mengakar dan masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat kita, menganggap laki-laki adalah mahluk superior sedangkan perempuan adalah mahluk inferior yang bebas untuk diperlakukan sesuka hati, bahkan kekerasan atau pelecehan sekalipun.

Sudah saatnya pola pikir yang keliru seperti itu harus segera kita ubah. Serta harus ada gerakan nyata untuk memutus mata rantai kekerasan terhadap perempuan. Kita tidak boleh membiarkan tindakan-tindakan pelecehan terjadi, apapun bentuknya. Semakin lama kita diam dan mendiamkannya, maka saat itu pula perempuan semakin direndahkan harkat dan martabatnya.

Jangan biarkan perempuan bekerja melawan kekerasan sendirian. Harus ada kerjasama antara perempuan dan laki-laki dalam usaha memutus rantai kekerasan. Dan rasanya memang mustahil untuk tidak menyertakan laki-laki dalam usaha untuk memutus rantai kekerasan tersebut. Karena mayoritas pelaku pelecehan adalah laki-laki.

Laki-laki harus disadarkan tentang banyak hal. Tentang bagaimana ia seharusnya memandang dan memperlakukan perempuan adalah dua diantaranya.

Kekerasan dan pelecehan dapat kita hilangkan dari peradaban kita, kalau kita mau berusaha keras untuk berpikir, rendah hati, serta menganggap baik lelaki dan perempuan adalah mahluk ciptaan Tuhan yang setara. Tidak ada yang lebih lemah, tidak ada yang lebih kuat.

Ya sesederhana itu.

About Arvenda Denada Randy Saputra

Check Also

Jangan Takut Dengan Feminisme, Bergabunglah!

Banyak orang yang masih kurang memahami feminisme. Jadi, kami merasa masih perlu untuk menjelaskannya berulang kali. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *