Home / Wacana / “Ya, Kantor Saya Berikan Cuti Satu Bulan untuk Ayah”

“Ya, Kantor Saya Berikan Cuti Satu Bulan untuk Ayah”

Selesai sudah perbincangan panjang hampir satu tahun dengan Febry Mahimza dan Ariyanto, mitra saya di Opal Communications. Akhirnya, kebijakan cuti ayah secara bulat diputuskan dan diterapkan di kantor saya mulai 2017.

Cuti ayah adalah libur khusus bagi karyawan untuk menemani istri yang melahirkan dan bersama-sama mengasuh bayinya yang baru lahir. Lama cuti yang diberikan adalah satu bulan, dengan gaji tetap dibayar penuh.

Kebijakan cuti ayah ini lahir mendahului keadaan. Berbeda dengan cuti hamil enam bulan yang kami putuskan karena ada karyawati yang hamil, cuti ayah ini diputuskan sebelum ada kejadian di kantor.

Cuti hamil enam bulan diputuskan dalam hitungan menit pada hari yang sama, sedangkan cuti ayah cukup lama membahasnya terutama soal durasi cutinya. Pembicaraan mengenai cuti ayah juga terhalang pekerjaan-pekerjaan kantor yang cukup banyak pada 2016, sehingga pembahasannya tersendat-sendat.

Namun, pada pekan kedua Desember 2016, sembari mengunyah seporsi Magelangan di sebuah rumah makan dekat kantor, kami bertiga memutuskan cuti ayah berlaku mulai 2017.

Banyak pertimbangan yang kami harus hitung sebagai variabel. Sebagai perusahaan kecil dengan bisnis konsultan komunikasi yang ketat kompetisinya, everything is big thing for a small business.

Kesepakatan bulat terjadi karena kebetulan mitra saya pria dan bapak-bapak semua. Dan, semuanya sepakat bahwa investasi dalam hidup yang paling besar adalah anak-anak yang kita miliki.

Perusahaan harus untung, itu harus. Namun perlu diingat, orang-orang yang bekerja di perusahaan sedang mencari nafkah untuk keluarga. Keluarga adalah sumber energi dan inspirasi pekerja. Tentunya, jika ada tambahan anggota keluarga, mereka harus prioritaskan salah satu untuk sementara waktu.

Saya sendiri mengalami masa-masa yang tidak mudah ketika menemani istri lahiran dan menjaga anak. Ada hal-hal yang saya sesali, namun banyak juga yang saya syukuri. Satu hal pasti, saya ingin orang yang bekerja di kantor menikmati hal-hal yang saya syukuri ketika mendapat titipan Tuhan. Yang saya sesali, semoga tidak mereka jalani.

Berikut adalah beberapa hal yang membuat kantor kami akhirnya memutuskan untuk memberikan cuti ayah ke karyawan:

1. Cuti yang ada tidak memadai

Cuti sesuai aturan pemerintah hanya dua hari. Waktu yang jauh dari kata cukup. Menunggu proses melahirkan saja bisa satu hari sendiri. Menemani di rumah satu hari, lalu hari ketiga berangkat kerja. Ditambah cuti tahunan sekalipun, menurut saya sangat jauh dari rasa kemanusiaan.

Dengan cuti yang mencukupi, karyawan dapat menikmati kebahagiaan bersama istri. Membangun kebersamaan dengan istri dan anak adalah momen yang tak bisa digantikan dengan apapun.

2. Minimnya sentuhan ayah

Budaya patrilineal selalu membuat perempuan menerima beban pengasuhan anak paling berat. Melahirkan, mengurus new born baby, dan bangun malam kalau anak rewel.

Bahkan sampai besar, saat anak cari perhatian dengan sedikit nakal – namanya juga anak-anak – misalnya nilai sekolah jelek, selalu yang dipersalahkan adalah ibu. Kerja paling keras, tapi paling sering dituding: kamu yang salah.

Cuti ayah kami terapkan dengan harapan sang ayah menemani istri di masa pemulihan. Belajar memandikan, mengganti popok, menenangkan saat rewel di malam hari, menimang untuk menidurkan bayi, bahkan memijat bayi perlahan.

Tutorialnya banyak kok di internet. Jangan gunakan internet hanya untuk nyebar hoax dan memantau tim bola pujaan. Ayah bisa menjalin skinship (persahabatan dengan bayi melalui sentuhan-sentuhan) selama cuti. Hal kecil-kecil yang memorable ini sangat membantu istri dan menenangkan anak.

Kian dekat seorang ayah dengan anak sejak dini membuat seorang anak lebih seimbang dalam hidupnya. Ia mendapat kasih sayang dari ayah dan ibu secara bersama-sama. Mari bersama kita hapus stigma ayah adalah sosok yang harus ditakuti dan ibu adalah satu-satunya pihak yang mengurus bayi sekaligus bersih-bersih rumah.

3. Membantu istri melewati masa baby blues

Saya tidak demikian mendalam mengetahui hal-hal terkait baby blues. Pendeknya adalah kondisi psikis dan fisik ibu yang melahirkan dalam kondisi lemah. Tangisan anak, kecapekan, pikiran yang berlebihan tentang pekerjaan, dan macam-macam lainnya bisa membuat ibu meledak.

Belum termasuk tekanan karena bayi tidak mau menyusu atau air susu tidak keluar lancar. Sakit lahir dan batin.

Dalam kondisi tersebut, seorang ibu yang tertekan bisa menangis sejadi-jadinya, menderita pusing yang hebat, dan dalam beberapa kasus bisa menyakiti bayinya. Bisa dalam bentuk berteriak ke bayi, mencubit, bahkan memukul.

Sepertinya tidak mungkin ya seorang ibu tega menyakiti anaknya. Tapi hal itu mungkin terjadi terutama pada 30-40 hari pertama setelah melahirkan.

Keberadaan suami ketika masa sulit ini tentu sangat membantu. Bersama mencari jalan agar anak tenang, mencari informasi bersama agar ASI lancar, dan tentunya memberikan pesan penting kepada ibu, “Tenanglah, kita urus sama-sama anak ini.”

4. Meningkatkan semangat karyawan

Kantor kecil seperti Opal Communications sangat rawan dibajak karyawannya. Banyak hal bisa membuat kantor kecil kehilangan talent. Perbedaan gaji dengan kompetitor, suasana kerja, dan benefit.

Saya tak mampu bersaing dengan kompetitor lewat pemberian gaji besar, tapi yang saya tawarkan adalah suasana kerja yang unik dan benefit keleluasaan membangun keluarga, seperti cuti hamil enam bulan dan cuti ayah satu bulan.

Harapan saya, setelah cuti ayah, karyawan bisa kembali dalam kondisi fresh, bahagia, dan bisa kembali ke kantor dengan penuh semangat karena tanggung jawabnya bertambah.

Oh ya, untuk cuti ayah ini, kantor akan melakukan pengawasan ketat terhadap karyawan. Bahwa cuti diberikan untuk menemani istri mengasuh anak. Jika kepergok suami malah kelayapan mancing, main biliar, nongkrong tidak jelas, surat peringatan sudah menanti.

Istri yang merasa suaminya cuti namun malah tidak membantu karena sibuk sendiri, boleh menelepon saya atau partner saya. Ini juga bisa berujung pada surat peringatan. Aneh ya? Memang. Inilah kantor kami.

Sama dengan kebijakan cuti hamil enam bulan yang diterapkan di kantor, saya sama sekali tidak ingin dianggap jadi pionir atau berharap perusahaan lain meniru kebijakan ini. Masing-masing perusahaan punya potensi bisnis, prospek, dan permasalahannya. Masing-masing punya cara untuk menjawabnya.

Tidak, saya tidak seheroik itu…

Sumber: http://voxpop.id/ya-kantor-saya-berikan-cuti-satu-bulan-untuk-ayah/

About Kokok Dirgantoro

CEO Opal Communication | CEO http://voxpop.id

Check Also

Jangan Takut Dengan Feminisme, Bergabunglah!

Banyak orang yang masih kurang memahami feminisme. Jadi, kami merasa masih perlu untuk menjelaskannya berulang kali. …

One comment

  1. Wah keren! Ya cuti hamil 6 bulan dan cuti ayah 1 bulan. Keren! Semoga perusahaan lain bisa menerapkannya juga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *