Ilustrasi (Shutterstock/File)

Mengikis Cara Pandang yang Menyalahkan Korban

Kemarin, ketika saya hendak menuju ke salah satu Hotel di daerah Jawa Tengah, saya memesan ojek online (ojol). Tidak disangka, saya mendapatkan pengemudi perempuan. Pada zaman sekarang, memang sudah tidak aneh ketika kita menjumpai pengemudi ojol perempuan, meskipun perbandingannya dengan pengemudi ojol laki-laki masih lebih tinggi jumlahnya.

Di sela-sela perjalanan tersebut saya sempat berbincang dengan ibu pengemudi ojol, mulanya ibu tersebut menerangkan tentang kondisi pengemudi perempuan dan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya bersama rekan kerjanya di lapangan.

Salah satu kesulitan yang dikeluhkan oleh ibu tersebut adalah keamanan ketika beroperasi pada malam hari. Ibu tersebut menceritakan bahwa pengemudi perempuan pantang beroperasi pada malam hari, dan hanya bisa beroperasi dari pagi hingga pukul 21.00 malam saja, beliau bahkan menceritakan bahwa kemaren sempat terjadi pembegalan terhadap pengemudi ojol perempuan yang masih beroperasi di atas jam tersebut.

Dengan nada prihatin sekaligus geram ibu tersebut berpendapat, tetapi dalam pendapatnya tersebut, ibu ojol juga ‘menyayangkan’ keputusan yang diambil oleh ibu ojol korban pembegalan tersebut karena berani melanggar aturan untuk keluar mencari nafkah pada malam hari.

Membangun kesadaran tidak menyalahkan korban.

Melihat pendapat sang ibu pengemudi tersebut, saya mencoba untuk memberikan pengertian kepada ibu pengemudi ojol tentang pendapatnya itu. Perlahan saya memberikan pengertian bahwa dalam kasus seperti ini kita tidak boleh atau tidak bisa menyalahkan korban secara serta merta. Apapun alasannya, perilaku begal adalah perbuatan kriminal yang mencederai rasa kemanusiaan setiap orang. 

Selain itu, perbuatan begal tersebut akan tetap salah, tanpa memandang apakah korbannya laki-laki maupun perempuan. Dalam kasus ini misalnya, kita tidak pernah tahu apa alasan ibu pengemudi ojol yang menjadi korban tersebut sehingga dia memutuskan untuk mengambil risiko sebesar itu, apakah karena himpitan ekonomi yang mengharuskan beliau tetap berjuang ditengah malam atau alasan lainnya? Logika sederhananya, jika memang tidak benar-benar membutuhkan uang, pastilah ibu tersebut sudah tidur nyenyak di rumah bersama suami dan anak tercintanya. Tidak perlu repot-repot bekerja sebagai ojol, apalagi sampai nekat keluar malam hari di tengah masyarakat yang masih kental dengan budaya kekerasan. Selain itu, kita juga tidak tahu bagaimana kondisi/latar belakang ketika tindakan kriminal tersebut tejadi, apakah dia sendiri dan berada di tempat sepi atau tidak.

Kembali, saya mencoba menerangkan dalam bahasa yang sederhana bahwa victim blaming atau menyalahkan korban merupakan tindakan yang tidak baik secara etika. Hal tersebut justru dikhawatirkan akan melanggengkan budaya-budaya kekerasan terhadap perempuan, karena dengan alasan yang menyalahkan korban tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh pelaku untuk menggunakan alasan-alasan “pembenaran” pada tindak kejahatan yang dilakukannya dan mendapat dukungan dari masyarakat yang masih memakai pola pikir yang selalu menyalahkan korban.

Mengubah Cara Pikir yang Lebih Egaliter.

Meskipun demikian, pola pikir seperti yang diungkapkan oleh ibu pengemudi ojol tersebut merupakan pola pemikiran yang sangat umum dalam masyarakat kita sehingga memang sulit untuk dihindari. Pola pikir seperti itu, terjadi tidak hanya dalam kasus pembegalan saja, dalam berbagai kasus seperti perkosaan, maupun pelecehan seksual, acapkali komentarnya malah lebih menyakitkan.

Pemikiran yang cenderung menyalahkan korban (victim blaming) tersebut merupakan konsekuensi dari pemikiran gender yang bersifat tradisional ala patriarki yang telah dikonstruksi sedemikian rupa dan telah disosialisasikan melalui berbagai media termasuk pendidikan. Dalam masyarakat patriarkal, peran gender telah ditentukan dan dibentuk secara ketat dan kaku antara laki-laki dan perempuan. Masing-masing gender telah diberikan rumusan aturan-aturan yang bersifat mengikat secara sosial. Sehingga ketika salah satu gender melanggar, social punishment akan diberlakukan meskipun hal itu terjadi pada korban. Salah satunya seperti kasus di atas, karena perempuan tersebut berani melanggar aturan sosial yang telah ditentukan, yaitu keluar malam. Aturan tersebut memang tidak tertulis, akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari, aturan tersebut diamini dan ‘dipelihara’ oleh masyarakat sehingga mempunyai ‘daya ikat’ yang cukup kuat.

Dalam masyarakat patriarki, laki-laki diberikan peran-peran yang dominan sehingga bebas untuk melakukan apapun yang disukai termasuk dalam hal keluar dimalam hari, sedangkan perempuan, tabu untuk keluar dimalam hari. Alasannya hanya karena hal itu tidak baik dilakukan oleh perempuan, sehingga ketika perempuan keluar malam hari kerap kali mendapatkan stigma negatif meskipun dengan alasan-alasan yang dapat diterima akal sehat.

Dampak dari stigma ini, adalah menjadi hal yang wajar apabila perempuan keluar di malam hari, mempunyai risiko dibegal, diperkosa atau diperlakukan yang tidak sepantasnya. Ketika hal tersebut terjadi, tidak terlalu mengherankan atau menjadi peristiwa yang benar-benar perlu dievaluasi, karena disini, perempuan tersebut telah dipersalahkan.

Pola pikir yang seperti inilah yang perlu untuk dievaluasi dan dipertanyakan, karena dengan mempertahankan pola pikir yang cenderung victim blaming, ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang menimpa perempuan, maka analisis yang dilakukan tidak akan substansial. Sehingga, pondasi/modal utama yang dibutuhkan dalam mengkontruksi pemikiran yang baru adalah adanya perubahan pemikiran ke arah yang lebih egaliter sehingga secara posisi, perempuan tidak dianggap subordinat lagi. Ketika cara pandang telah berubah, otomatis perilaku masyarakat akan terpengaruhi, sehingga ketika ada kejadian seperti pada contoh kasus diatas, pemikiran tentang penyebab dan tata cara pencegahannya secara substansial akan lebih banyak didiskusikan karena pembahasan akan fokus kepada peristiwa kriminalitasnya secara khusus.

Dalam kasus di atas, pemikiran yang egaliter juga dapat dimanifestasikan dengan memperluas ruang gerak dan peran perempuan serta menanamkan doktrin bahwa perempuan adalah partner laki-laki yang dapat saling menjaga, mengawasi dan mengambil tindakan, termasuk dalam hal keluar di malam hari. Sehingga stigma negatif perempuan keluar malam secara pukul rata dapat dikikis serta risiko-risiko kriminalitas khususnya pada perempuan ketika berada di luar rumah dapat diminimalkan serta didiskusikan secara obyektif.

Selain itu, maksimalisasi peran pemerintah serta semua elemen masyarakat perlu untuk memberikan jaminan keamanan terhadap perempuan untuk dapat beraktivitas diluar rumah, baik malam ataupun siang hari. Sehingga risiko-risiko kriminalitas seperti contoh kasus diatas, dapat ditekan. Contoh nyata dalam meningkatkan kewaspadaan ini misalnya dengan memperbanyak penerangan jalan serta kamera jalan bagi pemerintah serta mensosialisasikan kewaspadaan terhadap keadaan-keadaan yang rawan kriminalitas. Sinergi antara perubahan pola pikir yang lebih egaliter dengan tindakan pencegahan dari masyarakat dan pemerintah, akan menghasilkan sebuah masyarakat baru yang memandang fenomena kriminalitas secara adil gender serta anti victim blaming ketika terjadi kejahatan terutama terhadap perempuan.

Wallahu A’lam.

About Achmad Ashrofi

Alumnus Fakultas Syari'ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pernah aktif di Pusat Studi dan Konsultasi Hukum Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga

Check Also

Observasi terhadap Budaya Patriarki: Diskusi Mengenai Gerbong Khusus Perempuan di KRL

Gerbong khusus perempuan difungsikan sejak 19 Agustus 2010 untuk merespons kebutuhan penumpang perempuan akan keamanan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *