Ketika Bondo dan Turonggo Tak Lagi Mendefinisikan Laki-Laki

Dalam tatanan budaya masyarakat Jawa, konstruksi ideal menjadi laki-laki atau dadi wong lanang sering kali tidak bisa dilepaskan dari simbol-simbol kepemilikan material dan kekuasaan. Kita tumbuh dengan narasi bahwa kejantanan seorang laki-laki diukur dari kepemilikan benggol (uang) dan bonggol (kejantanan seksual). Identitas ini diperkuat dengan penguasaan atas bondo (harta), griyo (rumah), turonggo (kendaraan), hingga pusoko (senjata) dan wanito (perempuan atau istri). Dalam kacamata patriarki yang kaku, perempuan sering kali diposisikan sejajar dengan benda-benda tersebut sebagai pelengkap status dan objek kepemilikan, bukan sebagai manusia utuh dengan otonomi penuh.

 

Pada kenyataannya, kKonstruksi ideal dadi wong lanang ini tak selalu membuat laki-laki bahagia, tetapi juga dapat menciptakan beban psikologis yang menyesakkan bagi laki-laki. Tuntutan untuk selalu tampil kuat, superior, dan menjadi satu-satunya penopang ekonomi keluarga sering kali membuat laki-laki merasa tertekan dan merasa gagal ketika ekspektasi sosial tersebut tidak terpenuhi. Tekanan inilah yang kemudian dapat mempengaruhi kesehatan mental dan perilaku laki-laki. 

 

Data dari Universitas Siber Asia yang dikutip dari Databoks (2023) menunjukkan bahwa 1 dari 5 laki-laki di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Namun, sebanyak 63% dari responden laki-laki kita memilih bungkam dan menutupi keadaan mereka. Laki-laki lebih memilih mengalihkan kebutuhan perawatan kesehatan mental yang mereka hadapi dengan minum alkohol, penyalahgunaan napza dan menyakiti diri sendiri. Laki-laki lebih memilih cara destruktif yang dapat merusak diri sendiri maupun orang lain daripada harus dianggap lemah atau terlihat lemah.

 

Pada ruang publik, banyak laki-laki yang menampilkan sikap progresif terkait pembagian peran gender dalam rumah dan bicara kesetaraan di media sosial yang penetrasi internetnya pada Gen Z kini menembus 87% (Komdigi dalam Detik, 2026). Tapi di balik pintu rumah, ceritanya berbeda. Riset terbaru dari SMERU (2025) menampar kita dengan fakta, meski 92% laki-laki di kota mengaku setuju urusan rumah adalah tanggung jawab bersama, namun baru 11,88% yang benar-benar melakukannya. Apakah data menunjukkan bahwa laki-laki mulai menerima ide kesetaraan peran dalam rumah tangga, ataukah lebih menunjukkan keinginan laki-laki untuk terlihat hebat dan ingin mendapatkan kesan positif dari pandangannya, sekalipun belum atau tidak melakukannya? Laki-laki perlu waspada dan bersikap kritis agar terjebak dalam apa yang disebut sebagai “sekutu performatif” (performative ally), yaitu laki-laki yang sibuk memoles citra sebagai suami idaman di sosial media, tapi masih membiarkan istri memikul 80% beban domestik sendirian. Jangan sampai laki-laki baru mau memegang sapu atau mencuci piring  jika tenaga perempuan sedang tidak ada atau telah habis. 

 

Kerja-kerja domestik dan  perawatan  bukanlah kerja yang tidak membutuhkan rahim. Setiap orang yang tinggal dalam rumah memiliki tanggung jawab melakukan pekerjaan domestik. Demikian pula dengan mMengasuh anak bukan lagi soal membantu istri, melainkan hak anak untuk mendapatkan kasih sayang ayahnya dan hak ayah untuk menjadi manusia yang utuh. Tren global kini mulai bergeser pada quiet masculinity atau maskulinitas tentang sosok laki-laki yang tak perlu mendominasi secara otoriter, tapi hadir dengan empati dan kerentanan yang jujur. Quiet masculinity adalah konsep maskulinitas yang tidak performatif, tidak reaktif dan tidak bergantung pada pengakuan dari eksternal. Alih-alih diukur dari dominasi dan kepemilikan, quiet masculinity direpresentasikan melalui keterlibatan aktif dalam pengasuhan anak serta pembagian peran domestik secara adil dan asertif. Dengan bertransformasi memutus rantai kekerasan antar generasi, laki-laki tidak hanya membebaskan perempuan dari penindasan struktural, tetapi juga membebaskan dirinya sendiri dari sistem patriarki yang selama ini terbukti merugikan kesejahteraan mental semua pihak.

 

Transformasi maskulinitas laki-laki tentu akan menghadapi berbagai tantangan, diantaranya mungkin akan mendapatkan resistensi dan penolakan dari lingkaran pertemanan sendiri, dianggap laki-laki lemah atau takut pada istri. Namun, seperti yang diingatkan Bell Hooks dalam bukunya “The Will to Change: Men, Masculinity, and Love”, menjadi sekutu sejati berarti berani menanggung risiko sosial untuk menolak norma maskulinitas yang toxic dan menindas (Bell, 2004). Menjadi laki-laki sejati bukan soal berbagi panggung atau melakukan mansplaining di forum diskusi, melainkan tentang berbagi beban dan tanggungjawab dalam ruang-ruang yang lebih personal dan privat.

 

Menjadi laki-laki sejati bukan soal menjadi pahlawan bagi perempuan, tetapi tentang keberanian membongkar dan melepaskan privilege patriarki yang hidup dalam diri sendiri. Perjalanan transformasi maskulinitas laki-laki ini menuntut kerendahan hati untuk belajar mendengarkan pengalaman perempuan sebagai bentuk pengetahuan yang sah, siap menerima kritik tanpa bersikap defensif, serta berhenti melakukan mansplaining dalam diskursus publik. 

 

Sejalan dengan menguatnya tren maskulinitas tentang di kalangan generasi muda, praktik berbagi peran domestik dan keterlibatan emosional laki-laki dalam keluarga sudah seharusnya menjadi standar normalitas baru, bukan lagi dianggap sebagai bantuan istimewa atau tindakan luar biasa. Sudah saatnya laki-laki berhenti mendefinisikan diri lewat apa yang disebut kuasai (bondo dan turonggo), dan mulai mendefinisikan diri lewat bagaimana membangun relasi yang adil. Kebahagiaan rumah tangga tidak akan pernah ditemukan dalam tumpukan materi, melainkan dalam kemerdekaan kita untuk menjadi manusia yang setara, yang tidak lagi saling menindas di bawah bayang-bayang patriarki. 

 

Oleh :

Luthfiyadin Rizqi

Alumni Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam dan Aktivis Penggerak  GusDur Corner UIN Salatiga

About Fauzan Zailani

Seorang karyawan swasta, relawan di Aliansi Laki-laki Baru, Fasilitator Muda Laki-laki Peduli, yang percaya bahwa kesetaraan adalah hak & kewajiban kita semua

Check Also

Menjadi Suami dan Ayah Seutuhnya

MENJADI SUAMI DAN AYAH SEUTUHNYA Oleh : Nur Hasyim Secara sosial laki-laki yang sudah menikah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *