Home / Wacana / Salah Kaprah tentang Feminisme

Salah Kaprah tentang Feminisme

Saya sangat terkejut dengan pernyataan seseorang yang mengomentari status di facebook saya tentang Hari Perempuan Internasional. Saya tambah terkejut lagi mengetahui bahwa feminisme begitu buruknya dipandang, seperti buruknya dongeng  paling keji di muka bumi ini yang dinamai “tarian harum bunga” tarian yang menggambarkan para perempuan aktivis bertelanjang  menari-nari membunuh dan menyilet kelamin para jendral. Mereka yang mengomentari tentang feminisme berangkat dari kebencian, bukan dari pengetahuan. Mengenal feminisme, berangkat dari hasutan, bukan dari keingintahuan.
Tetapi kemudian saya mencoba mendamaikan pikiran, bahwa ini realitas yang sedang kita dan masih terus menerus kita hadapi. Kita ditengah-tengah masyarakat yang diajarkan untuk memelihara hasutan sudah sejak bertahun-tahun lamanya. Masyarakat  yang dipalingkan dari kecintaan pada ilmu pengetahuan dan gagasan. Masyarakat yang dijauhkan dari kegemaran pada buku-buku dan tulisan-tulisan, atau dari pelajaran-pelajaran yang menggairahkan. Masyarakat yang dibiarkan “berkepala kosong”, oleh sistem-sistem pendidikan yang hanya mengejar jawaban-jawaban ujian yang berisi hapalan-hapalan.  Bagaimana mungkin mereka mencintai feminisme sebagai pengetahuan, bila sejak kecil mereka sudah disuapi “makanan pendidikan” yang tanpa gizi, tanpa ilmu dasar, dan dipermainkan oleh doktrin, mitos dan sejarah-sejarah yang disembunyikan, pemikiran-pemikiran yang dilarang-larang. Mereka sudah terlatih berjalan dalam kegelapan, ketika sedikit cahaya tampak berpijar lalu segera dipadamkan. Kebodohan-kebodohan lebih sering dimenangkan daripada kepandaian-kepandaian akal. Akal-akal pun dimusuhi dan diseberangkan dengan agama-agama. Agama dan akal dibentur-benturkan, dan yang terjadi adalah pecahan kecurigaan-kecurigaan pada pelajaran-pelajaran penting untuk asupan gizi akal manusia.
Pandangan buruk tentang feminisme sudah menjalar kemana-mana. Kekosongan itu kemudian dijejali dengan menggunakan  teknologi komunikasi dan informasi bernama sosial media, tempat orang bercakap-cakap yang hampir tak mempunyai isi. Seperti gunjingan-gunjingan keji para pencemburu keberhasilan orang lain. Kekosongan yang memproduksi inferioritas-inferioritas manusia yang kehilangan eksistensi. Di wilayah ini patriarkhi  tumbuh subur berbuah berkembang menjadi racun-racun yang akan membunuh akal dan kesadaran.
Feminisme adalah ide yang berangkat dari pengetahuan dan pengalaman perempuan, bukan dari desas-desus. Kebencian mereka sebagaimana pada anjing dan babi ciptaan Tuhan yang dilahirkan melalui jutaan  tahun proses evolusi awal kehidupan di bumi. Kebencian mereka seperti pada mitos Hawa yang menggoda Adam melalui buah pengetahuan, buah Kuldi, buah pengakibat lahirnya pendosa-pendosa yang dilempar ke dunia. Suara terbanyak anti feminis adalah kaum laki-laki, lalu kemudian kaum perempuan membuntuti mereka. Perempuan-perempuan yang dibentuk tak mengetahui siapa diri dan apa yang telah mereka alami, yang dibuat bergantung sepenuhnya pada lelaki.
Berikut ungkapan yang sering saya temukan, dan ternyata sudah banyak tersebar kemana-mana di linimasa orang-orang Indonesia, di abad 21, di era teknologi komunikasi, dengan pengguna yang kaya dengan kekosongan-kekosongan.
Indra Jaya, demikian nama yang tercantum di akun facebooknya.  Dia memakai foto bertopeng Anonymous (sebetulanya topeng ini melambangkan progresifitas yang radikal, tapi orang ini sepertinya—lagi-lagi tersesat—dalam kekaguman bentuk-bentuk saja), dengan slayer seperti pejuang Palestina.  Dengan sangat yakin ia mengomentari facebook saya tentang Hari Perempuan Internasional,
“Feminisme sukses mendidik wanita melihat kesuksesan sebagai tujuan | punya penghasilan tinggi, gelar seabrek, mobil mewah, buka aurat. Wajar hasilnya di negara-negara asal feminisme, wanita jadi lebih malas berkeluarga apalagi memiliki anak,”
“Feminisme menjadikan materi sebagai standar sukses | wajar bila mereka merasa dunia tidak adil | karena materi jadi penanda sukses. Feminisme menganggap wanita modern harus lebih mirip lelaki | bahwa bila wanita tidak bekerja maka wanita akan direndahkan.”
“Menurut pandangan feminis, menjadi Ibu Rumah Tangga itu perendahan martabat perempuan, tidak modern, perbudakan terhadap wanita. Karena itu, wajar di negara-negara yang vokal feminisme | perceraian pun memuncak | karena tidak ada satu pemimpin dalam keluarga.
Saya akan memberkan narasi umum untuk memudahkan masyarakat mengerti apa itu feminisme tanpa diawali rasa benci. Ide tentang feminisme sebetulnya tidak perlu jauh-jauh mengutip gagasan-gagasan feminisme, sebab gagasan feminisme sebetulnya ada dalam keinginan dan kehidupan banyak individu, termasuk laki-laki. Seperti ini contohnya: Keinginan untuk maju adalah hal yang paling hakiki di dalam diri setiap manusia. Kemauan untuk maju dan sukses adalah hal yang sangat positif dan sehat. Untuk itulah Indonesia begitu lama bercita-cita untuk merdeka, berdaulat dan menentukan nasibnya sendiri. Rakyatnya baik perempuan dan laki-laki, menginginkan anak-anaknya sekolah, anak-anak perempuannya sekolah dan menjadi pintar sehingga tidak mudah dibohongi, tidak mudah terjebak perdagangan perempuan (yang sudah ada sejak masa pra-kemerdekaan), tidak terjebak pada prostitusi dan ditipu untuk tujuan ekspolitasi seksual.
Keinginan untuk  maju adalah harapan-harapan para orang tua saat dulu sampai kini, harapan pada keluarga. Sukses adalah harapan setiap orang yang akan menambah kepercayaan diri seseorang.  Ayah saya misalnya, ingin sekali anak perempuannya maju. Waktu saya kecil, saya dipeluknya, sambil berbisik “Ayah ingin kamu besar nanti bisa menyetir mobil sendiri, berpendidikan tinggi, dihormati orang.” Ayah juga melarang saya dekat dengan sembarang laki-laki, ayah selalu mengingatkan dengan kata “hati-hati dengan laki-laki”. Dulu saya pikir, apakah begitu buruknya laki-laki? Bukankah Ayah juga laki-laki? ”
Ayah pekerja keras, sampai lupa makan dan minum, sampai ginjalnya rusak, dan ia menabung sedikit demi sedikit hasil-hasil keringatnya untuk anak-anak sekolah, termasuk anak-anak perempuan. Ia adalah awal dari gagasan tentang anak perempuan yang mandiri. Sementara Ibu adalah awal dari gagasan tentang kasih sayang dan perhatian, kesabaran. Saya dikenalkan olehnya  tentang keinginan untuk maju, bukan berawal dari feminisme, melainkan dari Ayah saya yang masa hidupnya tidak mudah untuk mendapatkan uang sekolah, untuk meraih prestasi ia harus mencari uang sendiri, hidupnya bersusah payah. Sementara Ibu lahir dari keluarga yang lingkungannya sangat tentram dan damai, hijaunya kota Bogor, dan tanpa harus banyak uang, lingkungan itu membuat Ibu cinta pada alam, pada tumbuhan, dan menyukai seni dan buku-buku di tempat Kakek bekerja.
Feminisme bisa kita temukan dalam diri-diri manusia di sekitar kita. Ibu saya Ibu Rumah Tangga, hebat telah menata rumah tangga, mengasuh 6 anaknya, memberi saya inspirasi tentang keindahan, tata ruang, dan wangi-wangi ruangan, dan kata-kata yang lembut, kesabaran yang tiada terkira, sikap yang dingin dan bijak. Meskipun Ibu tidak sempurna, begitu juga Ayah, saya dapat memaklumi bahwa dalam setiap diri manusia tidak ada yang sempurna, tetapi saya telah menangkap hal-hal baik dari mereka yang membuat saya merasa sempurna. Ayah mengajarkan saya tentang perlunya keras kepala, tidak mudah menyerah, dan harus berusaha sepenuhnya dengan totalitas untuk mencapai sebuah tujuan. Ayah membuat saya menjadi anak perempuan yang punya cita-cita. Ayah mengajarkan saya tentang kejujuran dan kepatuhan pada aturan-aturan yang baik. Saat saya besar, saya tak bisa membayangkan bagaimana seseorang bisa korupsi mengambil uang rakyat, memanipulasi orang lain, menipu.  Saya tak punya contoh untuk ini. Sementara Ibu, membuat saya menjadi anak perempuan yang penuh dengan rasa sayang dan kasih tak terhingga pada semua mahluk. Ayah dan Ibu adalah wujud Yin dan Yang, dari dua manusia yang sangat berbeda jauh baik suku, jenis kelamin, bahasa, maupun latar belakang hidupnya. Mereka adalah kumpulan alam bawah sadar saya dari rentang masa-masa kecil saya hingga remaja, yang berkembangbiak dan muncul ke permukaan kesadaran.
Kombinasi yang  sama juga diterangkan oleh feminisme tentang eksistensialisme, tentang perlunya perempuan yang mandiri, supaya ia dapat menentukan nasibnya sendiri, bila sewaktu-waktu ia ditipu daya, dijerat, dilecehkan, diperkosa, dimain-mainkan. Kemandirian perempuan akan membuatnya terhindar dari itu semua, baik secara ekonomi, pikiran, dll. Dan kombinasi tentang kelembutan, bahwa perempuan diajarkan untuk peduli, selalu peduli pada yang lain. Diajarkan kasih dan moral yang kami miliki, yaitu moral tentang peduli, mengulurkan pertolongan pada semua mahluk yang mengalami kesusahan dengan dimulai untuk berdaya dari diri sendiri. Moral feminisme yang dapat kita pelajari dalam teori tentang Etika Kepedulian, dan mencintai lingkungan dalam teori Ekofeminisme.
Ibu saya bukan perempuan yang bekerja, tapi ia punya suami, yaitu ayah saya yang pekerja keras dan mampu mencapai tujuan-tujuan kesuksesan untuk membiayai keluarga. Tapi saya tahu bahwa setiap ayah tidak bisa seperti ayah saya. Ada juga ayah-ayah yang mengalami kesulitan, tidak sukses, tidak punya uang banyak, tidak berdaya, tentunya butuh ibu-ibu yang bekerja, memenuhi kebutuhan keluarga. Butuh ibu-ibu yang bisa memimpin, mandiri, dan membuat rumah tangga jadi seimbang. Para ayah tentu juga senang punya isteri atau Ibu yang demikian. Banyak pula anak-anak yang tumbuh dari seorang janda atau orang tua tunggal, yang bekerja keras untuk membiayai kehidupan mereka. Mereka juga orang-orang yang hebat.
Kombinasi ini ada dalam feminisme, yang intinya adalah, untuk mencapai suatu keadilan, maka kita perlu mengetahui apa keadilan itu sendiri, keadilan bagi perempuan, supaya dalam sepanjang hidupnya, ia tidak terlalu banyak mengalami hambatan, dalam situasi masyarakat dan budaya yang patriarkhi, yang ketika remaja hampir semuanya mengalami pelecehan seksual di ruang publik, di bis kota, di jalanan, di sekolah. Para Ayah akan tahu bagaimana anak perempuan itu tak bisa tumbuh dengan mudah di tengah masyarakat, tak semudah anak laki-laki. Para Ayah sudah banyak yang memikirkan hal-hal yang sangat feminis untuk anak perempuannya. Dan para Ibu sudah banyak yang memikirkan hal-hal yang sangat feminis dalam memperhatikan lingkungannya. Tentu ada juga ayah dan ibu yang kelam, tetapi cerita sedih sudah terlalu banyak kita telan.
Kakak perempuan saya yang ketiga, dulu bekerja di Bank. Saat itu dia sangat keren sekali, saya memperhatikan gaya dia setiap kali berangkat ke kantor, begitu sibuknya. Sejak sekolah dia dikenal anak paling berprestasi, dia sangat pintar. Lalu ketika memiliki anak, ia berhenti bekerja. Tapi itu tidak mengurangi kepandaiannya, ia menerapkan pendidikan untuk anaknya dengan sangat baik, mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak di sekitar rumahnya yang kurang mampu. Kakak perempuan saya tetap hebat, begitu juga keempat kakak saya lainnya, mereka mengalami kehidupan yang tidak mudah, mereka sudah terlanjut dididik jujur dan apa adanya, dan dipaksa kuat menghadapi kesusahan, tak gampang menyerah. Ini adalah unsur dari ide-ide feminisme.
“Feminisme sukses mendidik wanita melihat kesuksesan sebagai tujuan |


Kesuksesan adalah tujuan setiap orang. Apakah ada orang tidak mau sukses? Semua ingin! Karena memang itulah dorongan manusia untuk merasa dirinya lebih hidup, lebih berarti. Ini pendidikan moral yang baik dalam feminisme.
“Punya penghasilan tinggi, gelar seabrek, mobil mewah, buka aurat. Wajar hasilnya di negara-negara asal feminisme, wanita jadi lebih malas berkeluarga apalagi memiliki anak,”

Sepanjang sejarahnya, para aktor-aktor feminis bukan hidup dalam dunia yang glamor. Hidup mereka adalah hasil dari usaha keras mereka, keringat, darah, dan rasa lapar dan lelah sepanjang hidupnya. Bukan penghasilan tinggi yang mereka tujukan, tetapi kemampuan ekonomi yang memenuhi kebutuhannya untuk keberlangsungan hidupnya, untuk gagasan-gagasannya yang dinamis, yang memberinya inspirasi bagi dunia lain. Aktivis feminis berbeda-beda dalam cara berpakaiannya, ada yang berkerudung, berselendang, bercelana jins, bertank-top, berdaster, bersepatu bot atau bersepatu hak tinggi, bermacam-macam sebagaimana lingkungan dan seleranya. Para feminis yang saya kenal begitu sayang pada anak dan keluarganya, begitu rindu mereka ketika memeluk anak-anaknya, begitu kuat perencanaan mereka tentang bagaimana menyekolahkan anak-anak mereka. Kalaupun mereka memberontak, apabila perlakuan tak adil padanya, seperti dipukuli oleh suaminya, dihambat kemajuannya, diperlakukan bukan seperti manusia pada umumnya. Kalaupun ada yang tidak berkeluarga, tidak semata-mata ia feminis, tetapi ada jalan hidup orang yang berbeda. Bibi dan Paman saya juga ada yang tidak berkeluarga dan tak punya anak, tetapi bukan karena mereka feminis, tetapi mereka menjalankan hidup seperti itu. Saya sebagai kepoakan mereka, tetap menghargai mereka sebagai bibi dan paman saya. Feminis itu berbeda-beda, seberagamnya jalan hidup manusia.
Banyak aktivis feminis yang tidak punya mobil mewah, bukan karena tidak bisa membelinya, atau memang ada yang tak mampu untuk membelinya. Bahkan tidak sedikit tokoh feminis yang menjual harta bendanya untuk sebuah gerakan untuk keadilan perempuan. Jadi untuk apa mobil mewah itu? Kritik Feminis Radikal dan Marxisme pada kapitalisme dan eksploitasi pada tubuh perempuan, jelas mengatakan bahwa tubuh perempuan bukan obyek, dan perjuangan perempuan adalah perjuangan kelas, perjuangan ekonomi yang mandiri supaya tidak dihisap tenaga mereka, di bayar dengan upah murah atas alasan jenis kelamin mereka oleh kaum patriarkhi yang tergila-gila pada kemapanan dan kekuasaan.
“Feminisme menjadikan materi sebagai standar sukses | wajar bila mereka merasa dunia tidak adil | karena materi jadi penanda sukses. Feminisme menganggap wanita modern harus lebih mirip lelaki | bahwa bila wanita tidak bekerja maka wanita akan direndahkan.”
Salah sama sekali. Bahkan saya mengatakan secara terus terang ini kesesatan yang luar biasa pada komentar ini. Standar sukses Feminisme adalah keadilan bagi perempuan. Apakah yang adil bagi perempuan itu? Yaitu, ketika janda ia tidak menderita karena selama hidupnya ia bergantung secara ekonomi pada suaminya. Ketika mengandung dan melahirkan, ia terjamin kesehatan dan gizinya. Ketika ia mengasuh anak-anak mereka, ia terjamin memiliki fasilitas yang memadai baik untuk dirinya maupun anak-anaknya, fasilitas dalam arti hal-hal yang mendukung pengasuhan seperti lingkungan yang baik untuk anak, pendidikan, makanan bergizi, dll dan juga pengembangan diri sang ibu. Ketika perempuan bekerja, maka ia tidak dibedakan upahnya oleh pekerja laki-laki. Yang membedakan hanya kompetensinya. Ketika ia remaja dan telah tumbuh buah dadanya, dan mulai menjadi perhatian lawan jenisnya, janganlah ia dilecehkan. Ketika ia lansia, perhatikan hal-hal yang menjadi kebutuhan perempuan lansia. Ketika ia menikah, biarkan ia memilih calon suami yang ia inginkan dan disaat umurnya sudah matang. Ketika ia berhubungan seksual, biarkan perempuan mencapai kenikmatan seksualnya dan menunjukkan ekspresi kenikmatannya pada pasangan yang ia pilih. Ketika ia menjadi pemimpin, biarkan perempuan diberi kesempatan bagaimana cara ia memimpin dan tunggu bagaimana ia bisa menunjukkan hasil-hasilnya. Ketika ia masuk partai politik dan berhasil duduk di jabatan publik, biarkan ia bekerja dengan tenang tanpa dikait-kaitkan dengan identitasnya dengan perempuan yang katanya emosional dan tak bisa ambil keputusan, atau dianggap meninggalkan keluarganya.
Ini komponen-komponen yang ada dalam gagasan feminisme, dan seluruhnya berangkat dari pengetahuan dan pengalaman perempuan di seluruh dunia yang disebut dengan Epistemologi Feminis, Metodologi Feminis, serta Teori-Teori Feminisme yang berangkat dari lintas pengetahuan sosial-ekonomi-budaya di berbagai universitas dunia dan dari hasil penelitian-penelitian yang dilakukan selama bertahun-tahun, lebih dari tahun rentang kita hidup. Mereka adalah jenis manusia yang jumlahnya setengah dari seluruh manusia yang hidup di bumi ini.
“Menurut pandangan feminis, menjadi Ibu Rumah Tangga itu perendahan martabat perempuan, tidak modern, perbudakan terhadap wanita. Karena itu, wajar di negara-negara yang vokal feminisme | perceraian pun memuncak | karena tidak ada satu pemimpin dalam keluarga.

Angka perceraian pada perempuan TKW tinggi sekali, begitupula pada pekerja-pekerja rumah tangga. Mereka bukan perempuan yang mengenal feminisme. Rata-rata dari mereka bercerai, karena suami-suami telah meninggalkan mereka, suami-suami tidak setia. Mereka yang mencari kerja mati-matian di negeri orang, tetapi suami memakai upaya keringat mereka untuk kepentingan dirinya, untuk berfoya-foya. Angka perceraian juga banyak terjadi pada ibu-ibu rumah tangga, dan banyak dari mereka yang akhirnya ingin mandiri dari segi ekonomi. Banyak ibu-ibu rumah tangga yang ingin berdaya dan tak bergantung lagi saat menjadi janda.
Dalam gerakan feminisme, berbagai latar belakang perempuan telah ikut berkontribusi. Termasuk ibu rumah tangga. Dan mereka tidak berhenti menjadi ibu rumah tangga ketika mengikuti gerakan feminisme. Bagi mereka yang memiliki suami-suami baik dan mampu, hidup mereka lebih banyak waktu untuk beraktivitas membantu gerakan perempuan. Mereka adalah aktor-aktor penting dalam perjuangan perempuan. Dan, jangan lupa, setiap perempuan yang bekerja, banyak yang sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Banyak ibu pekerja sekaligus ibu rumah tangga, yang memikul dua beban sekaligus. Seharusnya para patriarkh dan laki-laki seperti orang yang komentar ini berterima kasih pada mereka.
Demikianlah jawaban-jawaban saya terhadap kesesatan dan kekosongan pikiran saat masyarakat mengomentari soal feminisme. Mulailah berangkat dari pengetahun, bukan kebencian dan desas-desus yang mengambil kesimpulan sangat jauh dari maksud dan tujuan feminisme itu sendiri. Untuk  memahami apa itu feminisme saya bahkan harus duduk kuliah di bangku pascasarjana selama 2 tahun, dan melahap banyak buku serta penelitian. Tak perlu melakukannya seperti saya, tetapi sudah banyak penjelasan-penjelasan yang komprehensif yang bisa membuat anda lebih paham betapa cerahnya feminisme membangun kehidupan perempuan dan manusia pada umumnya.

About Mariana Amiruddin

Salah satu pendiri Aliansi Laki-laki Baru. Saat ini menjabat sebagai komisioner Komisi Nasional Perempuan.

Check Also

Dari Rangga ke Khudori, ‘laki-laki baru’ di film Indonesia

Sebelum tahun 2000-an tokoh utama pria di sinema Indonesia ditampilkan sebagai kepala rumah tangga, pemberi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *