Home / Wacana / Revenge Porn: Seksisme dalam Media Baru

Revenge Porn: Seksisme dalam Media Baru

Dunia maya bisa jadi tempat yang tidak ramah—sebuah survey yang dilakukan Rad Campaign, Lincoln Park Strategies, dan Craig Newman menemukan bahwa 47% orang Amerika di bawah usia 35 tahun pernah menerima perlakuan tak pantas di dunia maya—dan ini terjadi lebih-lebih kepada perempuan, yang merupakan 57% dari kelompok tersebut. Satu responden mengatakan bahwa laki-laki yang ia tolak di aplikasi kencan membalasnya dengan melancarkan ancaman perkosaan dan kekerasan terhadap dirinya. Responden lain merasa bahwa perempuan yang tidak takut beropini biasanya menemukan laki-laki yang, di balik topeng anonimitas, lalu merasa perlu mengancam dan menyerang mereka.

Banyaknya ancaman dan pelecehan yang diterima perempuan secara online dapat membuat hati siapa saja jadi ciut. Tapi itu belum semuanya. Lebih dari 10 juta orang di AS menyatakan bahwa mereka pernah menjadi korban revenge porn—membagikan foto atau video berisi materi seksual seseorang tanpa persetujuan yang bersangkutan dengan tujuan mempermalukan atau membuat ia tertekan—di mana perempuan muda di bawah usia 30 tahun 10% lebih rentan menjadi korban kejahatan tersebut. Kalau sebelumnya internet sudah menjadi tempat yang tidak ramah bagi perempuan, fenomena revenge porn yang kini semakin dinormalisasi membuatnya menjadi tempat yang makin menakutkan.

Saat Rob Kardashian putus dari pasangannya, Blac Chyna, bulan Agustus kemarin, ia membeberkan perselingkuhan yang diduga dilakukan Chyna di Instagram—bersama dengan foto-foto eksplisit Chyna. Sebagai akibatnya, Instagram menghapus akunnya, Chyna mengajukan tuntutan, dan majalah gosip kegirangan. Dari netizen biasa hingga selebriti, sepertinya semua orang punya komentar soal perpisahan dan aib yang kadung tersebar di media sosial. Namun yang terjadi pada Kardashian dan Chyna bukan sekadar gosip selebriti biasa. Rob Kardashian telah menyebarkan revenge porn—perbuatan yang melanggar hukum di 38 negara bagian dan juga Washington D.C.

Budaya slut-shaming dan menyalahkan korban yang dianut oleh masyarakat membuat revenge porn semakin berbahaya. Tidak jarang korban revenge porn malah dipersalahkan saat foto yang seharusnya hanya konsumsi pribadi kemudian menjadi milik umum, seolah-olah dengan berfoto seksi atau memiliki kehidupan seks, mereka jadi tidak memenuhi syarat menjadi korban. Kebanyakan orang tampaknya tidak merasa gelisah saat Kardashian membagikan foto-foto Chyna—disertai pembelaan bahwa perbuatannya sah-sah saja karena Chyna berselingkuh, dan ucapan bahwa ia tidak keberatan kalau anak mereka melihat foto-foto tersebut saat sudah dewasa.

Beberapa selebriti seperti 50 Cent dan Snoop Dogg bahkan mengungkapkan “dukungan” terhadap Kardashian. Dan kalau kalian membaca kolom komentar pada berita-berita menyangkut masalah ini, kalian akan menemukan banyak orang yang mengatakan bahwa Chyna bukanlah korban karena ia pernah berprofesi sebagai stripper, ia sudah mengkhianati Kardashian, dan Chyna itu “pelacur”. Saat kejadian serupa menimpa Jennifer Lawrence, ia meminta maaf dalam sebuah konferensi pers. Bayangkan seorang korban revenge porn yang privasinya telah dilanggar malah harus meminta maaf kepada publik.

Bagaimana kalau revenge porn terjadi pada laki-laki? Reaksi yang didapat ternyata sebaliknya. Pada bulan Agustus 2012, foto-foto telanjang Pangeran Harry bocor. Kejadian tersebut tidak termasuk revenge porn, tapi situasinya mirip dengan kasus Chyna. Tapi alih-alih dipermalukan atau ditekan untuk meminta maaf atas kehidupan seksnya, Pangeran Harry malah jadi sensasi di Internet. Maria Fowler menyebutnya sebagai “legenda” dan “the people’s prince”. DJ Lauren Laverne mengumumkan bahwa ia adalah “bangsawan terbaik, tidak ada keraguan tentang itu”.

Sementara pada satu kasus foto-foto pribadi yang tersebar dapat menjadikan seseorang “pelacur”, di waktu lain kasus tersebut bisa menjadikan orang lain “legenda”. Kenyataannya, itulah yang tiap hari ditanggung perempuan—baik di dunia nyata maupun online. Menjadi perempuan yang punya kehidupan seksual, yang punya hak atas tubuhnya, yang hanya ingin menggunakan haknya untuk beraktivitas di dunia maya, bukan hal mudah untuk dilakukan. Revenge porn mungkin merupakan fenomena yang relatif baru, tapi pada praktiknya sama saja dengan bentuk-bentuk misogini lain yang sudah lama ada.

Diterjemahkan dari Revenge Porn: Same Old Sexism, New Medium oleh Deniz Sahinturk

This post is also available in: English

About Halida Aisyah

Relawan di Aliansi Laki-laki Baru

Check Also

Jangan Takut Dengan Feminisme, Bergabunglah!

Banyak orang yang masih kurang memahami feminisme. Jadi, kami merasa masih perlu untuk menjelaskannya berulang kali. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *