Home / Tulisan Khas / Surat Dukungan Terbuka untuk Via Vallen

Surat Dukungan Terbuka untuk Via Vallen

Salam Mbak Via Vallen,

Semoga Mbak Via Vallen senantiasa sehat dan dalam lindungan Allah SWT.

Saya turut prihatin atas apa yang menimpa Mbak beberapa waktu lalu dan Saya dapat memahami apa yang mbak Via Vallen rasakan. Pelecehan seksual itu pasti telah membuatmu marah, sedih, kecewa, dan merasa direndahkan sebagai manusia. Perasaan serupa juga dirasakan oleh ratusan, ribuan, bahkan jutaan korban pelecehan seksual yang sebagian besar tak dapat bersuara seperti Mbak. Bahkan mereka kerapkali tersudut, ketakutan, berada dalam tekanan dan ancaman, disalahkan, dikucilkan bahkan tidak sedikit yang justru menyalahkan diri sendiri, merasa kotor dan jijik dan ingin mengakhiri hidup.

Mbak Via Vallen yang baik,
Menurut saya dan mungkin Mbak sependapat dengan saya bahwa kekerasan seksual apapun bentuknya, di manapun terjadinya dan siapapun pelakunya adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Kekerasan seksual seperti pelecehan seksual yang Mbak Alami adalah serangan terhadap martabat kemanusiaan yang paling asasi yakni integritas tubuh perempuan atau korban, lebih khusus telah melanggar hak seksual dan reproduksi perempuan. Setahu saya setiap orang memiliki hak untuk dihargai dan diperlakukan secara hormat dan tak seorangpun berhak untuk menghalangi terpenuhinya hak dihormati dan dihargai itu apalagi menyerang dan merampasnya. Dengan demikian melecehkan orang lain pada hakekatnya adalah perbuatan tidak memanusiakan orang lain dan hanya mereka yang telah hilang kemanusiaannya yang tidak memanusiakan orang lain.

Apa yang telah Mbak Via Vallen lakukan dengan tidak memilih diam, menurut saya tepat dan saya sangat mendukung karena dengan bersuara akan memberikan pesan kepada pelaku dan masyarakat bahwa Mbak dan perempuan-perempuan lain yang dilecehkan secara seksual sangat marah, tidak nyaman, tidak suka dan sekaligus menepis apa yang mungkin dipikirkan pelaku, yang sebagian besar laki-laki seperti saya, bahwa perempuan menginginkan dan suka dilecehkan atau diamnya perempuan berarti iya. Apa yang telah Mbak Via Vallen lakukan memberikan pelajaran penting tentang konsen (consent) kepada laki-laki bahwa seharusnya relasi-relasi laki-laki dan perempuan adalah relasi-relasi yang dikehendaki. Iya berarti iya, tidak berarti tidak, dan tidak ada tidak yang berarti iya atau diamnya perempuan bukan berarti iya.

Dengan bersuara, Mbak Via Vallen menunjukkan tantangan terhadap kecenderungan normalisasi atau menggangap biasa terhadap tindak kekerasan seksual di masyarakat. Dengan bersuara Mbak juga telah memecah kebisuan terhadap budaya perkosaan (rape culture) yang mengakar di dalam masyarakat yang memungkinkan pelecehan seksual dan kekerasan seksual lainnya terus berulang di negeri yang katanya religius dan ramah ini.

Mbak Via Vallen yang baik,
Pelecehan seksual yang Mbak alami sekali lagi memberikan pelajaran bahwa bahwa persoalan pelecehan seksual bukanlah persoalan hasrat seksual akan tetapi masalah kekuasaan yang mewujud dalam bentuk pandangan dan nilai tentang perempuan. Karena anggapan perempuan adalah objek, berstatus rendah, lemah dan seterusnya maka perempuan dianggap pantas untuk mendapatkan perlakuan pelecehan seksual dan perilaku merendahkan lainnya. Mbak yang selebritis dan memiliki kekuatan lebih dibandingkan dengan perempuan kebanyakan saja dilecehkan apalagi perempuan-perempuan biasa. Hal ini menegaskan bahwa pelecehan seksual memiliki kaitan erat dengan cara pandang terhadap perempuan daripada masalah pakaian dan ketidakcakapan laki-laki mengelola hasrat primitifnya.

Meskipun demikian saya memahami bahwa tindakan Mbak Via bukan tanpa resiko, seperti respon sebagian warganet yang nyinyir dan menganggap Mbak Via Vallen lebay bahkan mendoakan karir mbak akan melorot dengan kelebaian ini. Satu pelajaran penting dari hal ini adalah mengakar kuatnya sikap menyalahkan korban (blaming the victim) dalam masyarakat kita dan sekaligus menunjukkan kesesatan berfikir akut. Bagaimana mungkin orang yang menjadi korban pelecehan seksual disalahkan terhadap apa yang tidak dilakukannya, bukankah pelaku yang lebih pantas disalahkan. Logika kucing dan ikan asin ini demikian kuat di masyarakat dan sudah saatnya diluruskan dengan menegaskan bahwa tidak ada satu alasanpun yang dapat membenarkan tindak pelecehan seksual termasuk cara berpakaian perempuan. Cara perempuan berpakaian tidak akan pernah menjadikan pelecehan seksual itu halal dan dibenarkan.

Mbak Via Vallen yang baik,
Terkait dengan keputusan Mbak untuk tidak mengungkap identitas pelaku pelecehan seksual, saya sangat memahami. Dan situasi yang sama dihadapi oleh semua korban pelecehan seksual karena menyangkut keamanan dan keselamatan. Korban pelecehan seksual kerapkali berada pada posisi dilemma antara mengungkapkan secara terbuka kasus yang dialami dan membawanya ke ranah hukum atau mendiamkannya. Lebih-lebih dalam konteks masyarakat yang tidak selalu mendukung korban pelecehan seksual. Namun setiap pilihan ada konsekuensinya. Kebanyakan korban yang memilih diam di satu sisi mereka tidak direpotkan lebih lanjut dengan kasus mereka alami namun di sisi lain tidak adanya proses peradilan atau proses pertanggung jawaban pelaku terhadap perilakunya akan membuat pelaku berpotensi mengulang dan potensial pelaku lainya akan ikut melakukan pelecehan seksual karena absennya konsekuensi hukum yang diterima mereka. Dengan berulangnya kasus pelecehan seksual karena proses mendiamkan akan menyuburkan normalisasi pelecehan seksual yang akan memperkuat budaya perkosaan di masyarakat. Namun demikian, saya menyerahkan sepenuhnya kepada Mbak Via Vallen dan saya akan mendukung setiap keputusan yang mbak Via Vallen buat.

Sebelum saya mengakhiri dukungan terbuka saya untuk Mbak, saat ini sedang terjadi proses legislasi RUU Penghapusan Kejahatan Sekual di DPR RI. Dengan kasus yang sedang Mbak alami, sebenarnya Mbak Via Vallen dapat berbuat sesuatu untuk mendorong percepatan pembahasan undang-undang tersebut. Dengan popularitas yang Mbak miliki sangat berpotensi menggerakkan public untuk mendukung RUU tersebut dalam rangka untuk memberi perlindungan kepada perempuan dari segala bentuk kekerasan seksual sekaligus sebagai instrument untuk meminta pertanggungjawaban pelaku terhadap apa yang mereka lakukan. Keterlibatan Mbak Via Vallen dalam upaya mendorong diundangkannya RUU Penghapusan Kejahatan Seksual akan menjadi sumbangan penting untuk perempuan Indonesia dan menurut saya akan menjadi terapi untuk pemulihan Mbak Via Vallen.

Semoga Mbak Via Vallen senantiasa diberi kesehatan, keselamatan dan diberi kekuatan untuk kembali menghibur dan menginspirasi.

Yogyakarta, 24 Ramadhan 1439 H

 

 

About Nur Hasyim

peminat kajian maskulinitas, trainer dan fasilitator tentang gender, maskulinitas dan kekerasan serta ayah dari dua anak perempuan. Saat ini menjadi pengajar di Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang

Check Also

#KitaMulaiSekarang

Karena Aku Bagian dari Rumah

“Aku membersihkan rumah dan melakukan tugas domestik bukan karena aku membantu di rumah, tapi karena …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *