Home / Tulisan Khas / Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing

Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing

Bapak Ela, panggilan beliau dari pelanggan membeli ikan kepadanya. Laki-laki ini sudah dua tahun ini menekuni berjualan ikan keliling, mejajakan ikan yang diambil dari salah seorang pengusaha ikan yang di dekat rumahnya. Istrinya pun berjualan ikan di pasar Pringgabaya, Lombok Timur setiap harinya. Sebelum menjadi penjual ikan keliling, Bapak Ela sempat menjadi buruh serabutan sebelum menjadi penjual ikan keliling. Menurut pengakuanya, Bapak Ela ini berganti profesi karena pernah mengikuti diskusi (sangkep) kampung sekitar 2 tahun yang lalu, yang dilakukan oleh ADBMI di kampungnya. Kala itu, tema yang dibahas; bagaimana bermigrasi yang aman dapat diwujudkan jika menjadi Laki-laki Baru.
Beberapa hal dari sangkep kampung yang dapat dipahami oleh Bapak Ela adalah bagaimana menjalin kerja sama, dan membangun komunikasi yang baik antara laki-laki dengan istri sehingga usaha yang dibangun dapat berhasil sesuai dengan perencanaan. Mulai dari sejak itu, beliau berinisiatif untuk membantu istri untuk berjualan ikan di pasar. Tidak cukup dengan itu , sekarang dia memilih untuk berjualan ikan keliling ke beberapa desa yang ada dipinggir hutan seperti Pringgasela, Pengadangan, Timbanuh, Lenek dll. Dia memilih daerah ini berdasarkan hasil survei dan pengamatan yang sudah lama dilakukan. Sekarang dia memiliki pelanggan sekitar 15 pelanggan yang diantarkan setiap pagi maupun sore hari bahkan sampai malam hari tergantung situasi dan kondisi ikan yang datang dari nelayan langgananya atau dari tempat biasa dia mengambil. Sistem yang digunakan adalah mengantarkan ke pedagang ikan yang ada di masing-masing wilayah kemudian besok atau lusa bayarnya bisa diambil, sambilan mengantarkan ke langganannya untuk dijual lagi.
Sosok Bapak Ela merupakan salah satu dari penerapan dari kesetaraan gender yang selama ini sangat sulit dipraktekan oleh keluarga apalagi seorang laki-laki yang menikmati budaya Patriarki. Namun sangat jauh dengan kehidupan dari salah satu imbas dari penerapan LLI (Laki-laki Idaman), yang selama ini sudah dipraktekan oleh anggota LLIĀ  di desa Labuhan Lombok.
Menurut pengakuan Bapak Ela yang saya temui dirumah kediamanya, berdagang ikan keliling yang dia anggap sebagai mata pencaharianya ini, bukan dinilai sebagai pekerjaan saja namun lebih arif dan bijasana dia mengakui bahwa apa yang dia lakukan sekarang ini dinilai sebagai ibadah kepada Allah SWT. “Betapa tidak, sebelum kami lakukan ini, sering menemukan permasalahan dalam berumah tangga adalah masalah ekonomi; kurang belanja untuk anak dan keluarga” ucap Bapak Ela. Namun sekarang, semua itu sedikit demi sedikit membaik, sekarang mereka sudah berhasil memperbaiki rumah rumah tempat tinggalnya yang dulunya sangat tidak layak huni. Yang dulu sempat saya saksikan rumah yang dia tinggali tidak layak huni, sekarang sudah menjadi tempat tinggal yang memenuhi syarat kesehatan pada umunmya.
Berhubungan dengan masalah permodalan untuk melanjutkan usahanya, dulunya dia sangat sulit untuk mendapatkan pinjaman modal dan finansial dari Bank maupun dari Lembaga lain yang memberikan pinjaman. Namun sekarang apa yang terjadi setelah apa yang dilakukan dengan istrinya sudah berhasil. Saat ini, lembaga tersebut yang datang dan menawarkan modal kepada Bapak Ela dan istrinya. Menurut Bapak Ela, “Satu-satunya dulu yang mempercayai saya untuk minjam modal adalah Koperasi Bumi Raya yang dulunya saya cuman tau koperasi ADBMI”. “Alhamdulillah, sekarang pinjaman kami sudah lunas dan kami tidak mengambil lagi pinjaman di Koperasi Bumi Raya” lanjut Bapak Ela.
Sekarang Bapak Ela sudah pindah menjadi Nassabah Bank BRI yang ada di Labuhan Lombok. Menurut Bapak Ela sampai sekarang dia tidak pernah melupakan jasa dari Koperasi Bumi Raya yang percaya terhadap kami untuk diberi pinjaman modal.
Inilah sekelumit kisah dari seorang yang pernah mengikuti sangkep kampung yang dilaksanakan oleh ADBMI dan lansung mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-harinya, terutama yang berhubungan dengan perkembangan ekominya, dan kehidupan status sosial ekonomi dari seseorang yang menerapkan ilmu kesetaraan Gender dari setiap kehidupanya. Beliau berharap supaya apa yang dia lakukan entah apapun itu namanya upaya untuk merubah pola pikir masyarakat tanpa adanya pendampingan dan motivasi dari pendamping, itu tidak akan berhasil apabila tidak dibarengi dengan silaturahim, dan pemberian fasilitas yang sifatnya membagun kreatifitas. Di akhir pertemuan, bapak Ela menutup “Terimakasih terhadap teman-teman yang di ADBMI dan salam bagi mereka yang membantu saya untuk sukses.”
Penulis: Sahrudin, Community Organizer ADBMI Lombok Timur

About ADBMI Lombok Timur

Check Also

Atas Nama Martabat dan Maskulinitas

MAMA Ida, mama piara saya di Seram Utara, Maluku, adalah sosok yang tidak sungkan mengutarakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *