Home / Tips dan Trick / Memaknai Hari Valentine untuk membangun Relasi Sehat.

Memaknai Hari Valentine untuk membangun Relasi Sehat.

Jika berbicara tentang kasih sayang, sesungguhnya memiliki makna yang sangat luas. Kasih sayang bisa dari orang tua untuk anak ataupun sebaliknya dan juga kasih sayang terhadap sesama, lagi-lagi kalau bicara dalam konteks relasi orang muda maka kasih sayang itu lebih kepada pacar atau pasangan kita. Setiap orang punya impian untuk disayangi, dicintai oleh keluarga ataupun orang lain, akan tetapi impian itu tidak semua orang merasakannya. Ada hal yang perlu untuk dibangun yaitu relasi yang sehat jika kamu ingin merasakan kasih sayang setiap hari. Berbicara tentang relasi yang sehat bisa dibangun dalam relasi rumah tangga, relasi orang tua dan anak ataupun relasi pacaran yang sehat bahkan dalam pergaulan sehari-hari.

Sangat disayangkan sampai saat ini masih banyak relasi yang tidak sehat dan tidak setara kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja, relasi tersebut berdampak pada terjadinya kekerasan. Ada banyak kasus setiap harinya kita bisa lihat di media cetak maupun di media sosial mengenai kasus-kasus kekerasan yang terjadi. Penulis mencatat ada satu kasus dari sekian kekerasan Seksual yang terjadi di Kupang -NTT belum lama ini dimana “Ayah Cabuli Anak Kandungnya berkali-kali.” Dari kasus ini sebenarnya dapat kita simpulkan bahwa kasih sayang tidak serta merta akan tercipta jika kita sendiri belum mampu membangun relasi yang sehat. Saat ini, para pegiat dari berbagai elemen masyarakat yang terus berjuang untuk pemerintah bisa mengesahkan RUU Penghapusan kekerasan Seksual. Hal yang sepatutnya kita perjuangkan untuk menghapus kekerasan seksual serta melindungi korban-korban mereka yang menjadi korban.

Valentine; merayakan kasih sayang

Kalau dari tahun ke tahun ketika momen Valentine selalu Identik dengan pemberian Kado sebegai bentuk kasih sayang seperti coklat, boneka, ciuman bahkan ada yang harus rela memberi keperawanannya hanya atas dasar pembuktian kasih sayang, namun setelah itu ditinggalkan oleh pacarnya, apakah itu yang dinamakan kasih sayang atau justru expolitasi?

Mari kita renungkan. penulis tidak memiliki coklat ataupun boneka yang bisa diberikan di hari Valentine. Sebagai gantinya, penulis ingin berbagi tentang bagaimana membangun Relasi Sehat, diantaranya:

Membangun Komunikasi yang terbuka

Miskomunikasi merupakan faktor kunci permasalahan dalam sebuah hubungan. Tidak ada gunanya menyembunyikan ketika kamu berada dalam satu hubungan. Komunikasi yang transaparan berarti jujur mengatakan apa yang kamu rasakan dan inginkan, sehingga keduanya bisa saling terbuka. Sama hal ketika ada sebuah relasi pacaran komunikasi yang sangat penting untuk keutuhan sebuah hubungan.

Menyelesaikan masalah secara bersama

Dalam relasi baik sebagai suami – istri begitu juga dengan yang ada dalam relasi pacaran tidak akan pernah terlepas dari yang namanya masalah. Nah, tidak sedikit pasangan yang  “menyelesaikan” masalahnya dengan  kekerasan. Pada intinya begini “ masalah itu ada jalan keluarnya dan kekerasan bukan jalan keluar dari sebuah masalah”. Tujuan menyelesaikan masalah secara bersama akan berdampak pada semakin erat hubungan yang dijalani, mencegah untuk tidak saling menyakiti satu dan lainnya, meghindari kesalapahaman serta mendapat solusi secara bersama.

Bekerjasama dalam mengurus rumah tangga.

Bekerjasama sebenarnya tidak saja ketika anda sudah membangun sebuah rumah tangga, kerjasama bisa dimulai dari ketika anda masih dalam relasi pacaran. Bekerjasama dapat menolong beban kerja pasangan anda semakin berkurang dan jika ini dilakukan dari anda dalam masa pacaran maka ketika sudah menikah makan dijamin ini akan menjadi sebuah kebiasaan positif, misalnya bekerjasama dalam pekerjaan-pekerjaan domestik dalam rumah tangga.

Menghormati hak seksual pasangan Anda.

Bicara tentang hak seksual adalah hak setiap individu. Untuk itu sepatutnya kita harus menghormati hak seksual pasangan anda. Untuk Anda yang saat ini lagi menjalani hubungan pacaran dengan pasangan Anda ataupun yang sudah menikah wajib menghormati hak seksual pasangan anda. Contohnya memaksa pasangan anda untuk berhubungan seksual, melakukan hubungan seksual secara tidak wajar ataupun memaksa untuk melakukan hubungan seksual dengan orang lain.

Setia pada pasangan Anda.

Setia wajib untuk setiap orang baik dalam relasi pacaran ataupun sebagai suami istri. Laki-laki yang macho, berganti-ganti pasangan penuh dengan kekerasan sudah ketinggalan jaman. Semua itu adalah dampat dari budaya patriarki yang banyak merugikan laki-laki dan perempuan. Sudah saatnya kita ubah menjadi budaya yang setara dimana: laki-laki sejati harus setia pada pasangan dengan memberi perhatian, sabar, penuh cinta kasih kasih, setara dan yang paling penting: anti kekerasan.

Bicara tentang kasih sayang Anda dapat menunjukannya dengan membantu Ibu atau istrimu ataupun saudara perempuanmu mengerjakan pekerjaan domestik di rumah juga memberi kesempatan untuk istrimu, anak perempuanmu untuk bisa ada di ruang-ruang publik tidak hanya sebatas ruang domestik.

Masih banyak kasus-kasus kekerasan yang terjadi dan tidak bisa dipungkiri bahwa mayoritas pelakunya. Oleh karena itu penulis ingin mengajak para laki-laki untuk mengekspresikan kasih sayangnya kepada orang yang cintai dengan hal yang positif sehingga tidak membawa orang yang dicintai pada jurang kesengsaraan. Sederhananya laki-laki yang mampu hidup dengar nilai perhatian, kesabaran, kesetian, penuh cinta kasih, egaliter, supportif dan anti kekerasan maka semakin laki-laki. Apakah kamu mampu untuk menjadi laki-laki yang penuh dengan kasih sayang?

About Alfes S. Lopo

Penggiat ALB tinggal di Kupang - NTT Relawan di Perkumpulan Relawan CIS Timor

Check Also

Berbagi Peran

Banyak Manfaatnya, Yuk Mulai Sekarang Kita Berbagi Peran

Bagi masyarakat urban yang memiliki tuntutan hidup dinamis, kita cenderung memacu diri untuk selalu produktif …

One comment

  1. Maaf mau tanya bukankah aliansi laki-laki baru tidak anti gay, tapi kenapa artikelnya selalu beraumsi semua pria heteroseksual (punya istri) atau pasangan wanita? (saya gay dan discreet tentu, ini Indonesia bung). Tentang kebaikan , alangkah baiknya kalau artikelnya mengarahkan untuk baik kepada siapapun, karena tuntutan gender tradisional sering emrugikan laki-laki juga. Tidak selalu perempuan ekrja lebih berat, di beberapa tempat terutama kantor, laki-laki sering diberi beban kerja lebih berat,. Seharusnya semua saling bantu dalam kesetaraan (baik sana gender ataupun beda). terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *