Home / Wacana / Perempuan dalam Pengelolaan Kawasan Hutan

Perempuan dalam Pengelolaan Kawasan Hutan

Dalam sebuah keluarga, peran seorang istri/ibu, tidak dapat dipungkiri memiliki peran sangat penting. Dalam peran tradisional, perempuan dituntut mengetahui secara detil permasalahan ekonomi keluarga, sehingga dia dapat melakukan pengelolaan keuangan keluarga secara maksimal. Jika ada ketidakkesesuaian antara pemasukan dan pengeluaran, maka sering kali muncul inisiatif dari perempuan untuk ikut mengatasi persoalan tersebut. Perempuan seringkali lebih kreatif untuk mencari sumber ekonomi alternatif seperti mencari Pakis di hutan untuk dijual sebagai tambahan ekonomi atau juga dengan cara memanfaatkan hasil hutan bukan kayu untuk diolah menjadi makanan yang lebih bernilai ekonomis seperti kripik pisang, singkong dan lain–lain. Demikian halnya jika kepala keluarga memiliki mata pencaharian sebagai petani. Kaum perempuan sudah bisa dipastikan memiliki peran penting pula dalam pengelolaan hutan.
Secara geografis, daerah Lombok Timur sangat penting dalam pengelolaan hutan di Nusa Tenggara Barat. Begitu juga dengan perempuan yang memiliki peran penting dalam proses penanaman, pemeliharaan dan bahkan pengolahan hasil hutan. Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Puncak Semaring sangat mendukung terhadap peran perempuan. Pada tahun 2015, istri–istri dari petani hutan ini difasilitasi oleh pengurus Gapoktan yang terdiri dari laki–laki dan Pemerintah desa setempat membentuk Kelompok Wanita Terampil (KWT). Jumlah anggota KWT sebanyak 15 orang.
Kegiatan anggota kelompok saat ini selain membantu para laki–laki/suami bekerja di lahan, mereka juga berdiskusi secara rutin untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kepercayaan diri sebagai perempuan. Sampai saat ini, persoalan yang masih dihadapi adalah kepercayaan diri para anggota yang belum terbangun. Hal ini terlihat dalam proses komunikasi diantara sesama anggota KWT yang terlihat masih segan dan malu untuk berpendapat. Ini terjadi karena mereka sebelumnya tidak pernah melakukan diskusi-diskusi secara formal seperti saat ini dan juga mereka tidak pernah dilibatkan di dalam musyawarah desa, sehingga kebiasaan untuk berkomunikasi belum terbangun.
Berangkat dari persoalan tersebut, Gema Alam memandang sangat penting untuk memfasilitasi mereka untuk meningkatkan rasa percaya diri. Sementara untuk kegiatan selanjutnya, KWT diharapkan dapat melanjutkannya beberapa langkah-langkah aktivitas secara mandiri  yang telah disusun bersama. Saat ini, untuk kebutuhan konsultasi terhadap pengembangan kelompok menjadi suatu yang utama terhadap KWT ini menjadi prioritas Gema Alam.
Pada dasarnya kegiatan KWT ini adalah untuk mendukung kegiatan Gapoktan Puncak Semaring dalam pengelolaan hutan dan pengolahan hasil hutan, karena mengingat dan menyadari keterbatasan dari GAPOKTAN Puncak Semaring yang notabenenya terdiri dari laki– laki semua menjadi penting bagaimana melibatkan perempuan. Karena peran dan andil perempuan dirasa sangatlah penting dalam pengelolaan kawasan hutan, turutama juga dalam pengolahan hasil hutan bukan kayu. Misalnya dalam membuat produk hasil hutan, perempuan lebih memahami dan lebih mengetahui mau dijadikan apa hasil hutan tersebut sehingga tidak lagi dijual mentah.
Dengan segala aktivitas yang dilakukan oleh KWT ini, selalu mendapat dukungan dari kelompok laki – laki. Kelompok laki–laki ini juga selalu mendorong KWT untuk terus meningkatkan kapasitas mereka, melalui pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun LSM. Di samping itu pula kelompok laki -laki dan perempuan bersinergi untuk menjalankan perencanaan–perencanaan yang sudah disusun secara bersama-sama demi tercapainya sebuah cita-cita untuk membangun sebuah perusahaan milik komunitas dalam bidang pengelolaan hasil hutan bukan kayu di desa Mekarsari Kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur NTB. Salah satu sinergitas mereka yatiu dengan bersama-sama melakukan pelatihan manajemen organisasi dan keuangan, pelatihan pengolahan hasil hutan dan bersama-sama melakukan budidaya tanaman sebagai bahan produksi.

About Diar Ruly Januari

Penggiat di Gema Alam, sebuah NGO yang konsentrasinya pada isu pengelolaan sumber daya alam yang berkeadilan sosial dan gender, dan pada tahun 2015 di percaya sebagai kordinator divisi Gender & Anak untuk periode 2015 – 2018.

Check Also

Kontekstualisasi Feminisme dalam Keindonesiaan Kontemporer

Judul di atas mungkin terbaca agak ribet? Semoga tidak. Yang saya maksud dengan judul di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *