Home / Wacana / Hari Ibu dan Wacana Rahim

Hari Ibu dan Wacana Rahim

Setiap tanggal 22 Desember, masyarakat dan pemerintah Indonesia merayakan Hari Ibu. Tanggal ini dipilih bertepatan dengan momentum bersejarah kongres Pergerakan Perempuan Indonesia atau yang dikenal dengan Kongres Perempuan Indonesia pertama yang berlangsung di Yogyakarta pada tanggal 22 sampai 25 Desember 1928. Dalam kongres ini perempuan Indonesia menyuarakan kepentingan politik mereka kala itu terkait dengan beberapa persoalan yang mendera perempuan seperti status kesehatan perempuan, pernikahan paksa, pernikahan usia anak, poligami, perdagangan perempuan dan bahkan kekerasan seksual. Namun, wacana politik gender dalam kongres perempuan ini kemudian hilang dalam setiap perayaan Hari Ibu karena yang terjadi justru produksi dan reproduksi wacana domestikasi perempuan yang melayani, meminjam istilah Raewyn Connell, rezim gender yang berkuasa. Seperti halnya perayaan Hari Kartini, wacana kritik Kartini akan tatanan masyarakat patriarkhis diputar balikkan menjadi wacana pelagggengan struktur sosial yang justru dikritik Kartini.

Benar adanya bahwa gender itu selain dilestarikan melalui praktek tapi juga melalui wacana sehingga gender itu bersifat praktis dan discursive sekaligus dan seperti sinyalemen Michael Foucault bahwa ada dimensi kuasa dalam setiap wacana. Demensi kuasa dalam wacana gender di antaranya dapat kita kenali dari cerita tentang proses pembuahan atau awal kehidupan manusia. Kita sudah lama percaya bahwa proses terbentuknya embrio terjadi melalui proses petualangan ribuan bahkan jutaan sperma menemukan sel telur dan di antara sperma-sperma itu hanya ada satu sperma yang kuat dan berhasil melampaui berbagai rintangan untuk menjangkau sel telur dan membuahinya. Wacana awal mula kehidupan ini kemudian menjadi cerita tentang perlombaan maraton atau lari cepat sperma menemukan sel telur. Wacana heroisme sperma inilah diyakini sebagai awal kehidupan manusia dan awal konstruksi maskulinitas dan feminitas. Sperma menjadi representasi maskulinitas dan sel telur menjadi representasi femininitas. Namun Shira Tarrant, seorang akademisi dan feminist dalam bukunya Men and Feminism mengungkap hal yang berbeda. Menurutnya yang terjadi adalah di saat terjadi ejakulasi, jutaan sperma yang disemburkan itu membentur dinding sel telur yang besar dan kokoh. Sperma yang ringkih dan tak berdaya itu kemudian direngkuh dan diikat oleh sel telur, lalu sel telur mengurai saripati sperma sehingga terjadi proses pembuahan dan saat itulah kehidupan dimulai.

Dalam kacamata Shira Tarrant, wacana awal kehidupan manusia tidak lagi cerita tentang kompetisi para sperma akan tetapi cerita tentang kebesaran, sifat merengkuh dan merawat sel telur. Sel telur kemudian menjadi semacam rahim kecil kehidupan yang kemudian menjadi kehidupan itu sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam rahim sesungguhnya dari seorang perempuan. Seperti kita ketahui bahwa rahim atau yang juga dikenal dengan uterus memiliki fungsi yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena rahim menjadi tempat bersemayamnya sel telur atau ovum yang sudah membuah akibat pertemuannya dengan sperma yang selanjutnya akan berkembang menjadi embrio atau janin. Dengan bantuan pembuluh darah, janin akan terhubung dengan dinding rahim yang memungkinkan rahim menyalurkan nutrisi kepada janin sampai kemudian siap untuk dilahirkan ke dalam rahim besar kehidupan.

Merujuk pada fungsi rahim tersebut betapa rahim memberikan pelajaran yang luar biasa bermakna akan peran ibu atau perempuan. Rahim mengajarkan tentang tiga peran penting ibu yakni; menghidupi, melindungi, dan merawat atau memilihara. Menghidupi karena rahim memungkinkan sel telur yang membuah bersama sperma untuk tumbuh dengan menempel di dinding rahim yang selanjutnya dengan kontruksi rahim yang unik memungkinkan janin untuk hidup dan tumbuh sampai kemudian siap untuk dilahirkan. Fungsi kedua melindungi, selain kantung pengaman yang terbentuk bersama embrio yang disebut dengan plasenta, rahim berfungsi sebagai tempat aman bagi janin untk tumbuh dan berkembang. Fungsi ketiga memelihara. Melalui pembuluh darah yang menghubungkannya dengan janin, rahim memberikan nutrisi kepada janin yang memungkinkan janin untuk tumbuh dan berkembang secara sempurna. Meskipun rahim yang memelihara dan menjaga janin, rahim tidak menguasai dan mengontrol janin akan tetapi Ia membebaskannya ketika janin sudah siap untuk dilahirkan.

Peran perempuan atau Ibu tidak berhenti saat bayi dilahirkan karena setelah janin lepas dari rahim ibu, dia terlahir dalam rahim kehidupan dan ibu melanjutkan tiga peran penting mereka yakni menghidupi, menjaga dan memilihara anak-anak manusia sampai kemudian mereka siap untuk dilahirkan untuk kali kedua menjadi manusia dewasa yang mandiri.

Kemuliaan fungsi rahim tidaklah terbantahkan namun kenyataannya di Indonesia rahim-rahim itu belum diperlakukan setingkat dengan kemuliaan fungsinya. Hal ini tercermin dari masih tingginya angka kematian ibu karena melahirkan di Indonesia. Data Survey Demografi dan Kependudukan Indonesia tahun 2012 menyebutkan bahwa angka kematian ibu mencapai 359 per 100 ribu kelahiran, survey yang sama juga menemukan persoalan lain yang sangat dekat dengan rahim perempuan yakni angka kematian bayi yang juga masih sangat tinggi yakni 32 per seribu kelahiran hidup. Angka ini masih jauh dari target pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang menargetkan untuk dapat menurunkan angka kematian ibu pada tahun 2030 sampai ke angka 70 per 100 ribu kelahiran.

Selain persolan angka kematian Ibu, penistaan terhadap rahim juga masih saja terjadi di Indonesia yang tercermin dari tidak kekerasan yang menyerang tubuh perempuan. Data dari komnas perempuan mencatat bahwa pada tahun 2014 terdapat 293.220 kasus kekerasan terhadap perempuan dan seperempat dari data ini adalah kasus kekerasan seksual. Bahkan Komnas Perempuan memperkirakan bahwa dalam sehari setidaknya ada 35 perempuan menjadi korban kekerasan seksual di Indonesia yang artinya dalam setiap 2 jam terjadi 3 perempuan mengalami kekerasan seksual di Indonesia.

Situasi ini tentu memprihatinkan padahal para pengambil kebijakan negeri ini yang sebagian besar laki-laki, hidup, tumbuh, dan berkembang dalam rahim ibu mereka. Pertanyaannya, kenapa dengan kekuasaannya mereka belum memuliakan perempuan pemilik rahim itu? Semoga momentum Hari Ibu tahun 2015 ini menyadarkan pentingnya pemuliaan martabat kemanusiaan ibu dan perempuan sang pemilik rahim. Pemuliaan martabat kemanusian ibu dan perempuan ini bukan semata-mata karena tuntutan target pembangunan berkelanjutan akan tetapi didasarkan pada tanggungjawab moral dan etik mereka yang hidup, tumbuh di dalam, dan lahir dari rahim ibu, rahim kehidupan.

About Nur Hasyim

peminat kajian maskulinitas, trainer dan fasilitator tentang gender, maskulinitas dan kekerasan serta ayah dari dua anak perempuan. Saat ini menjadi pengajar di Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang

Check Also

Seberapa Jauh Jalan Feminis Yang Bisa Ditempuh Laki-laki

Catatan 9 Tahun Aliansi Laki-Laki Baru Dalam dua bulan terakhir ini ada 2 kabar yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *