Home / Wacana / Heteronormatifitas Sebagai Bentuk Ketidaksetaraan Gender

Heteronormatifitas Sebagai Bentuk Ketidaksetaraan Gender

Heteronormatifitas atau sering juga disebut heteronormatif adalah sebuah pandangan, pola pikir, kerangka tindakan  berbasis heteroseksis (hubungan romantis-seksual laki-laki dengan perempuan).  Lalu mengapa hal ini kemudian menjadi permasalahan dan diperbincangkan, ternyata didalam definisi heteronormativftas melibatkan bias pendapat, diskriminatif (tidak adil dan menghakimi) dan stigmatif. Ambil contoh pada pendapat-pendapat berikut; seks diluar heteroseks adalah tidak normal, seks yang “diizinkan” hanyalah heteroseks (diluar itu adalah immoral), pasangan sejenis tidak dibenarkan.

Dalam perjalanannya heteronormativitas tidaklah sesederhana hal yang disebut diatas, namun ada aspek-aspek lainnya yang mempengaruhi pandangan-pandangan ini.  Termasuk perlakuan-perlakuan dan pendapat-pendapat bias lainnya yang kemudian menjadi persoalan yang berasal dari konstruksi heteronormatif tersebut. Akhirnya heteronormatifitas tersebut menjadi bumerang yang memukul balik kaum hetero.

Bagaimana Heteronormatif itu Dibangun?

Bangunan heteronormatif ini diawali oleh sebuah diskursus terkenal yang di suarakan oleh seorang antropolog feminis Gayle Rubin (1993) bahwa  Heteronormativitas, ideologi bahwa heteroseksualitas adalah bentuk hubungan seksual yang sah, tidak lagi dipertanyakan. Dari sinilah terlihat bahwa praktik-praktik lain dianggap “tidak normal”, sehingga ketika ada sebagian orang yang ingin mengekplorasi seksualitas (diluar konteks ketubuhan), dianggap “berlebihan”

Heteronormativitas ini juga akhirnya menyebabkan lahirnya aturan-aturan yang bias dan seksis. Diantaranya adalah; mengatur cara berpakaian perempuan, diskriminasi, stereotype, stigmatisasi terhadap gender dan identitas gender tertentu, pengkriminalisasi orientasi seks dan identitas gender diluar aturan heterosentris. Hal-hal inilah yang tanpa disadari menjadi hegemoni yang menyebabkan ketidak adilan-ketidak adilan pada suatu kelompok.

Akhirnya ketimpangan-ketimpangan yang terjadi dimasyarakat (terkait ketubuhan dan konstruksinya, konstruksi gender dan maskulinitas, budaya patriarkis) berakar pada akar persoalan heteronormativitas ini. Disamping pandangan-pandangan tidak setara, hegemoni-hegemoni yang secara tidak sadar telah melanggengkan ketidak adilan.

Heteronormatif sebagai sebuah Hegemoni

Nilai-nilai yang dikemukakan Rubin diatas mengalami berbagai proses pelanggengan menjadi suatu nilai yang “benar”. Nilai ini kemudian yang semakin menyebar dan akhirnya menempatkan kelompok-kelompok yang ada diluar lingkaran menjadi marginal dan rentan (Vulnerable Group).

Secara internal kelompok-kelompok ini tak pernah luput dari hegemoni ini. Hal inilah yang selanjutnya memecah belah kelompok dan melemahkan perjuangan. Kelompok secara tak sadar menyalahkan diri sendiri (yang seharusnya berjuang merebut hak-haknya yang dirampas). Sebagai contoh adalah perempuan yang condong menyalahkan kelompoknya sebagai penyebab terjadinya perkosaan (adanya kenyataan yang menyakitkan ini). Gay tertutup yang kemudian menjadi homofobik yang menganggap kelompoknya “tidak normal” dan “berdosa”.

Heteronormativitas dan Formalisasi Dalam Hukum Positif

Heteronormativitas adalah produk budaya yang seksis, bias, tak setara dan condong pada diskriminasi serta kekerasan struktural. Akan semakin kokoh bekerja ketika budaya ini di formalkan dalam bentuk hukum positif dan perundang-undangan. Produk-produk aturan yang sangat kentara nilai heteronormatif nya diantaranya adalah Undang-Undang Pornografi (yang mengkriminalkan tubuh perempuan serta kelompok homoseksual). Belum lagi sebagian perda-perda (Qanun dalam sistem perundang-undangan Aceh) syariah yang sangat bias gender dan tidak adil. Belum lagi rancangan Qanun Jinayat yang secara eksplisit mengkriminalkan kelompok Homoseksual.

Sebenarnya heteronormatif tidak hanya dipandang sebagai diskriminasi kelompok homoseksual (orientasi seks berbeda) dan kelompok gender berbeda (transgender), akan tetapi sebuah pendiskriminasian berbasis gender, yang kemudian mengarah pada kekerasan berbasis gender.

Pada akhirnya dapat kita katakan bahwa heteronormativitas adalah produk budaya yang berbasis pada ketidakadilan dan ketidaksetaraan. Pada akhirnya situasi ini akan mendorong pada ketidak adilan berbasis gender dan orientasi seks.

Penulis: Fais Ichall

About Redaksi

Gerakan Laki-laki untuk kesetaraan gender

Check Also

Seberapa Jauh Jalan Feminis Yang Bisa Ditempuh Laki-laki

Catatan 9 Tahun Aliansi Laki-Laki Baru Dalam dua bulan terakhir ini ada 2 kabar yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *